Inforiau – 07 November 2026 | Menjaga nyala pendidikan di ujung Kota Dumai Kisah Nolilita menggerakkan perubahan adalah gambaran yang melekat pada SMP Negeri 19 Dumai. Setiap pagi, sejumlah guru memulai perjalanan ketika sebagian warga kota masih beristirahat. Ada yang berangkat selepas Subuh dan harus menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar empat jam.
Medan menuju sekolah di wilayah ujung Kota Dumai tidak mudah. Jalan yang dilalui para pendidik menuntut ketahanan fisik dan kesabaran. Sebagian guru dari luar daerah memilih tinggal di rumah dinas sekolah, meski kapasitas tempat yang tersedia sudah penuh. Pilihan itu diambil agar mereka tetap bisa mendampingi siswa tepat waktu.
Nolilita menjadi salah satu sosok yang menggerakkan perubahan di sekolah tersebut. Bersama rekan-rekan guru, ia menjaga semangat agar anak-anak di kawasan ujung kota tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak. Perjalanan panjang bukan alasan untuk menurunkan mutu pembelajaran. Justru, keterbatasan mendorong para guru mencari cara agar proses belajar tetap berjalan.
Bagi para guru, tujuan utama mereka sederhana: memastikan siswa tidak kehilangan kesempatan belajar hanya karena jarak dan kondisi jalan. Kehadiran pendidik di ruang kelas menjadi bentuk komitmen yang dirawat setiap hari. Kisah ini memperlihatkan bahwa perubahan pendidikan tidak selalu lahir dari fasilitas besar, tetapi juga dari ketekunan orang-orang yang memilih bertahan.
Nolilita dan guru SMP Negeri 19 Dumai menunjukkan bahwa pendidikan di wilayah terpinggirkan membutuhkan perhatian bersama. Dukungan pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan diperlukan agar pengabdian mereka tidak berjalan sendiri. Selama ada pendidik yang mau menempuh jalan sulit, nyala pendidikan di ujung Kota Dumai tetap memiliki harapan untuk terus menyala.
Editor: Sukri Mustakim
