Tragedi Abyei: Serangan Drone ke Pasar Amiet Tewaskan 153 Orang, Ribuan Mengungsi
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Dunia kembali diguncang oleh kekerasan yang terjadi di Abyei, wilayah sengketa antara Sudan dan Sudan Selatan. Serangan drone yang menghantam pasar Amiet pada Senin, 19 Oktober 2026, menewaskan sedikitnya 153 orang dan memicu krisis kemanusiaan serta diplomatik yang kian memburuk. Serangan yang terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat itu langsung menghantam depot bahan bakar di jantung pusat perdagangan yang ramai, memicu kobaran api besar yang masih berkobar hingga Selasa dan menghambat upaya penyelamatan.
Otoritas administrasi Abyei menuding militer Sudan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Yohanna Akol Ngor, Menteri Informasi sementara Abyei, menyatakan bahwa jumlah korban tewas melonjak dari hitungan awal 73 orang menjadi setidaknya 153 orang, dan angka itu diperkirakan masih akan bertambah seiring berlanjutnya proses evakuasi serta pencarian korban hilang. Ia menggambarkan kondisi yang sangat memilukan, dengan sejumlah korban terbakar begitu parah hingga hanya menyisakan abu. Para korban dimakamkan dalam dua kuburan massal di kedua sisi pasar.
Dampak dari tragedi di Abyei ini jauh melampaui jumlah korban jiwa. Sekitar 8.000 orang meninggalkan kawasan tersebut segera setelah serangan. Api yang terus berkobar di depot bahan bakar menghalangi tim penyelamat dan tenaga medis untuk mengevakuasi korban luka serta mengambil jenazah. Di antara para korban terdapat kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, pedagang lokal, dan para pengungsi asal Sudan yang mencari perlindungan dari konflik regional.
Pasar Amiet sendiri telah lama menjadi jalur pasokan vital yang menyalurkan bahan bakar, pangan, bahan bangunan, dan obat-obatan dari Sudan Selatan ke wilayah Kordofan dan Darfur. Seorang saksi yang berada di lokasi saat kejadian menyebut tidak ada anggota RSF maupun personel berseragam di area perdagangan tersebut, yang juga menyimpan kebutuhan pokok seperti tepung, gula, dan biskuit untuk dikirim ke Sudan. Namun, seorang perwira senior militer Sudan yang berbicara dengan syarat anonim mengklaim operasi tersebut menargetkan truk bahan bakar yang datang dari Sudan Selatan dan diduga ditujukan untuk pasukan RSF, bukan warga sipil. Ia menegaskan bahwa pasukan Sudan tidak dengan sengaja menyerang penduduk sipil. Tiga sumber diplomatik, seorang pekerja kemanusiaan, dan seorang pakar konflik secara terpisah menyebut bahwa depot bahan bakar yang dihantam sebelumnya pernah menjadi titik pasokan bagi RSF.
Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan bergerak cepat melalui jalur diplomatik dengan memanggil Duta Besar Sudan, Essam Mohamed Karrar, untuk menyampaikan protes resmi pada hari yang sama. Juba menuduh drone Sudan menghantam sejumlah titik di pasar utara kota Abyei, menyebabkan korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan properti yang luas. Sudan Selatan menyerukan penyelesaian sengketa terkait Abyei melalui dialog, bukan kekuatan militer, dan menegaskan kembali komitmennya melindungi nyawa warga sipil di kawasan tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam keras serangan tersebut. Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, menyatakan organisasi itu mengutuk serangan drone di dekat pasar Amiet dan Todach, tempat banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas atau terluka. Pernyataan PBB tidak menyebut pihak mana yang melancarkan serangan. Misi Keamanan Sementara PBB untuk Abyei (UNISFA) mengerahkan tenaga medis, kendaraan pemadam kebakaran, dan pasukan reaksi cepat untuk mendukung upaya penyelamatan, evakuasi korban luka, serta mencegah api menyebar. UNISFA menegaskan akan memperkuat keamanan dengan meningkatkan patroli siang dan malam, seraya mendesak semua pihak menahan diri dari tindakan balasan yang dapat membahayakan warga sipil.
Situasi medis pasca-serangan juga sangat kritis. Organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF) melaporkan tim medisnya bekerja sama dengan staf Kementerian Kesehatan Sudan Selatan merawat korban luka di Rumah Sakit Ameth Bek. Dokter Christian Lindauer, yang memimpin operasi medis MSF di rumah sakit tersebut, menyebut fasilitas itu telah menerima lebih dari 20 pasien, termasuk kasus kritis dan korban luka bakar berat. Laporan terbaru menyebutkan jumlah pasien yang dirawat telah meningkat menjadi sekitar 30 orang, menandakan bahwa pendataan korban masih terus diperbarui.
Abyei merupakan wilayah kaya minyak yang diklaim oleh Sudan dan Sudan Selatan. Status hukumnya tak pernah tuntas sejak perjanjian damai 2005 yang mengakhiri perang saudara, dan tetap menggantung ketika Sudan Selatan merdeka pada 2011. Referendum yang direncanakan untuk menentukan status permanen kawasan itu mandek akibat perbedaan pendapat soal siapa yang berhak memilih. Komunitas Ngok Dinka yang mendominasi wilayah tersebut umumnya ingin bergabung dengan Sudan Selatan, sementara warga Misseriya yang secara tradisional menggembalakan ternak di kawasan itu memiliki ikatan lama dengan Sudan. Sengketa tanah, sumber daya, dan kontrol wilayah berulang kali menjadikan Abyei titik panas konflik.
Tragedi di pasar Amiet memperlihatkan betapa rapuhnya lanskap keamanan di Abyei, tempat aktivitas ekonomi sipil berkelindan dengan jalur logistik perang. Ketika sebuah kawasan seperti itu diserang, dampaknya tidak berhenti pada korban jiwa di lokasi kejadian. Para penyintas berisiko kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, mata pencaharian, serta akses terhadap pangan, bahan bakar, dan layanan kesehatan. Perbedaan antara tuduhan otoritas Abyei dan penjelasan militer Sudan menegaskan urgensi penyelidikan independen. Bahkan jika target yang dimaksud adalah depot bahan bakar atau jalur pasokan kelompok bersenjata, hal itu tidak otomatis menjawab apakah serangan tersebut mematuhi hukum humaniter internasional. Pihak-pihak yang bertikai wajib membedakan sasaran militer dari warga sipil, mempertimbangkan risiko korban non-kombatan, dan menerapkan langkah pencegahan yang diperlukan.
Dunia kini menanti langkah konkret untuk mengungkap kebenaran di balik serangan mematikan ini. Tanpa penyelidikan yang transparan dan akuntabilitas yang jelas, tragedi di Abyei berisiko menjadi luka lama yang kembali terbuka, memperpanjang penderitaan warga sipil yang selama ini terjepit di antara ambisi politik dan kepentingan perang.
