Pendiri Pekanbaru Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah Akan Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional
Inforiau – 07 November 2026 | Pendiri Pekanbaru Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah akan Ditetapkan Jadi Pahlawan Nasional dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 10 November 2026. Penganugerahan bertepatan dengan Hari Pahlawan itu menjadi puncak perjuangan panjang yang dirintis sejak 1988 oleh masyarakat, tokoh, dan Pemerintah Kota Pekanbaru.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho dijadwalkan hadir langsung bersama Ketua TP PKK Kota Pekanbaru Sulastri Agung dan pihak ahli waris Marhum Pekan. Menurut Agung, kepastian penganugerahan disampaikan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat bertemu dengannya. “Mimpi yang telah lama diperjuangkan masyarakat akhirnya terwujud. Kebahagiaan ini milik masyarakat Pekanbaru, masyarakat Siak, dan seluruh Riau,” ujarnya.
Marhum Pekan merupakan Sultan Siak Sri Indrapura kelima dan putra Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau Marhum Bukit, pemimpin Kesultanan Siak IV. Ia melanjutkan penataan kawasan Senapelan hingga berkembang menjadi simpul perniagaan regional yang kini menjadi ibu kota Provinsi Riau. Namanya juga tercatat memimpin perlawanan terhadap Belanda di Pulau Guntung.
Langkah strategisnya membangun pusat aktivitas ekonomi atau pekan disebut menjadi tonggak lahirnya nama Pekanbaru. Tautan sejarah Kesultanan Siak dan Pekanbaru itu dinilai menjadi pijakan penguatan identitas lokal. “Saya mencintai Pekanbaru beserta sejarah dan budaya Melayunya. Menjaga marwah Melayu adalah tanggung jawab yang saya pegang dalam memimpin kota ini,” kata Agung.
Selain gelar, nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah diabadikan pada infrastruktur strategis. Kementerian Pekerjaan Umum menyetujui penamaan jalan gerbang tol penghubung ruas Pekanbaru–Dumai dengan Pekanbaru–Bangkinang memakai nama tokoh tersebut. Pemerintah daerah juga mengantongi izin perubahan nama Jalan Palas menjadi Jalan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah.
Pemkot Pekanbaru mengapresiasi Presiden RI, jajaran kabinet, Pemprov Riau, tim pengkaji, pakar sejarah, lembaga adat, dan zuriah kesultanan yang mengawal usulan sejak awal. Jejak kontribusi Kesultanan Siak bagi Republik Indonesia sebelumnya juga terukir melalui Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak XII, yang menyerahkan mahkota dan dana 13 juta gulden pada masa revolusi kemerdekaan.
Dengan penetapan ini, generasi muda diharapkan mengenal pendiri kotanya, menghargai sejarah, dan merawat budaya Melayu. Pemerintah berharap warisan sejarah itu tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hidup dalam identitas Pekanbaru yang terus maju.
Editor: Apriyanto
