Kekayaan Pejabat Sorotan: Harta Listyo Sigit Naik, Ariyo Windutomo Jadi Plt KSP
Inforiau – 08 November 2026 | Kekayaan pejabat publik kembali menjadi perhatian setelah LHKPN menunjukkan harta mantan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo terus naik setiap tahun. Pada laporan 2025, harta Listyo tercatat Rp15,34 miliar, didominasi kas dan properti. Angka itu meningkat dari Rp8,66 miliar pada 2020.
- Tiga tanah dan bangunan senilai Rp6,15 miliar.
- Dua mobil Toyota Fortuner Rp670 juta.
- Harta bergerak Rp1,195 miliar.
- Kas atau setara kas Rp7,329 miliar.
Kenaikan itu tidak lepas dari posisinya sebagai Kapolri sejak Januari 2021. Meski nilai tanah, bangunan, dan kendaraan tidak berubah, harta bergerak naik dari Rp975 juta menjadi Rp1,195 miliar. Di sisi lain, Listyo kini menghadapi perkara hukum: ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap sejumlah pejabat, termasuk Presiden Prabowo, dan diberhentikan dari jabatan Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Posisi Plt KSP kemudian diisi Letjen TNI Ariyo Windutomo. Berdasarkan LHKPN, harta Ariyo sekitar Rp9,29 miliar setelah dikurangi utang. Ia lulusan Akmil 1996 dan pernah menduduki sejumlah jabatan di Kementerian Pertahanan sebelum menjadi Kepala Sekretariat Presiden. Penunjukannya diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 4 November 2026.
Harta, Kecerdasan, dan Kesehatan
Di tengah sorotan atas kekayaan pejabat, publik juga mendiskusikan hubungan harta, kepintaran, dan kesehatan. Studi Harvard Medical School (2021) menemukan bahwa harta yang lebih besar berkorelasi dengan kesehatan yang lebih baik karena akses layanan kesehatan berkualitas. Namun, manfaat tambahan itu mulai menipis setelah pendapatan mencapai sekitar Rp50 juta per bulan. Kecerdasan pun tidak selalu berbanding lurus dengan harta; penelitian Jay Zagorsky (2007) menunjukkan IQ terkait pendapatan, tetapi tidak selalu dengan kekayaan karena kebiasaan finansial dan keberuntungan turut berperan.
Sebagian masyarakat mencari keberuntungan finansial melalui cara lain. Praktik Feng Shui menyarankan penataan pojok kekayaan di sektor tenggara, membersihkan barang tak terpakai, dan menjaga aliran energi pintu depan. Tradisi lain mengaitkan kelancaran rezeki dengan doa Nabi Sulaiman AS dalam surah Shad ayat 35. Meski demikian, semua itu perlu disertai pengelolaan keuangan yang sehat dan kepatuhan hukum.
Dengan demikian, tren kekayaan Listyo Sigit dan Ariyo Windutomo menunjukkan pentingnya transparansi LHKPN. Kenaikan harta bukan hanya soal angka, tetapi juga menyangkut integritas, kesehatan, dan cara seseorang mengelola rezeki. Publik berhak menilai apakah kekayaan itu sejalan dengan profil jabatan dan aturan yang berlaku.
Editor: Abuzar Samad
