Kadin Catat 57,9 Persen Usaha Terdampak Bencana Alam, Sektor Bisnis Diminta Berbenah
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali menyoroti kerentanan dunia usaha terhadap risiko lingkungan. Dalam survei Business Pulse kuartal III 2026, Kadin Catat 57 9 Persen Usaha Terdampak Bencana Alam atau gangguan lingkungan selama 12 bulan terakhir. Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perubahan iklim dan bencana alam bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang telah menggerus kinerja pelaku usaha di Tanah Air.
Hasil survei yang dipaparkan di Menara Kadin, Kamis (22/10/2026), menunjukkan bahwa dampak yang dialami responden cukup beragam. Mulai dari kenaikan biaya operasional, penurunan volume penjualan, hingga terganggunya jalur transportasi dan logistik. Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa temuan ini mencerminkan besarnya paparan risiko lingkungan terhadap kegiatan bisnis nasional.
Beragam Jenis Gangguan Alam yang Menghantui Pelaku Usaha
Menariknya, survei tersebut memetakan jenis gangguan yang paling sering dialami responden. Kebakaran hutan dan lahan menjadi gangguan dengan proporsi tertinggi, disusul bencana dan gangguan alam lainnya, cuaca ekstrem, kekeringan, serta banjir. Rincian tersebut memperlihatkan bahwa risiko lingkungan tidak datang dari satu sumber tunggal, melainkan kombinasi berbagai peristiwa yang saling memperkuat.
| Jenis Gangguan | Proporsi Responden |
|---|---|
| Kebakaran hutan dan lahan | 13 persen |
| Bencana dan gangguan alam lainnya | 11,2 persen |
| Cuaca ekstrem | 10,9 persen |
| Kekeringan | 9,3 persen |
| Banjir | 5,5 persen |
Fakhrul menjelaskan bahwa gangguan berbasis iklim memengaruhi 39,1 persen pelaku usaha yang tercakup dalam survei. Kondisi ini menambah tantangan bagi perusahaan dalam mempertahankan kelancaran operasional dan kegiatan penjualan. Ketika cuaca ekstrem melanda, rantai pasok kerap terputus, biaya energi meningkat, dan produktivitas tenaga kerja menurun.
Dampak Berlapis bagi Dunia Usaha
Angka Kadin Catat 57 9 Persen Usaha Terdampak Bencana Alam tidak sekadar statistik. Di baliknya terdapat cerita tentang pengusaha yang harus menanggung biaya tambahan untuk memulihkan fasilitas produksi, mengalihkan rute distribusi, hingga menanggung kerugian akibat penjualan yang anjlok. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, tekanan semacam ini bisa menjadi pukulan berat yang mengancam keberlangsungan usaha.
Kadin menilai bahwa temuan Kadin Catat 57 9 Persen Usaha Terdampak Bencana Alam seharusnya menjadi pemicu bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat strategi mitigasi. Pelaku usaha perlu mengadopsi pendekatan manajemen risiko yang lebih matang, termasuk asuransi bencana, diversifikasi pemasok, serta investasi pada infrastruktur yang tahan iklim. Pemerintah pun didorong memperkuat sistem peringatan dini dan tata kelola lingkungan agar dampak bencana dapat diminimalkan.
Survei Business Pulse sendiri menjadi cermin denyut nadi dunia usaha Indonesia. Data yang dihimpun secara berkala ini membantu memetakan tantangan yang dihadapi pengusaha, sehingga kebijakan yang diambil tidak berjalan di ruang hampa. Dengan paparan risiko lingkungan yang sedemikian besar, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci.
Fakhrul menambahkan bahwa kesadaran akan risiko iklim perlu ditanamkan sejak dini dalam perencanaan bisnis. Perusahaan yang mampu beradaptasi akan lebih tangguh menghadapi guncangan, sementara yang abai berisiko kehilangan daya saing. Isu lingkungan kini bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bagian tak terpisahkan dari strategi keberlanjutan usaha.
Kesimpulan
Temuan Kadin Catat 57 9 Persen Usaha Terdampak Bencana Alam menjadi peringatan serius bahwa risiko lingkungan telah menjadi bagian dari lanskap bisnis Indonesia. Kenaikan biaya operasional, penurunan penjualan, dan gangguan logistik adalah dampak nyata yang dirasakan pelaku usaha. Oleh karena itu, penguatan mitigasi, adopsi manajemen risiko, serta kolaborasi lintas sektor menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Tanpa kesiapan menghadapi bencana dan perubahan iklim, keberlanjutan dunia usaha akan terus berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
