Inforiau – 09 November 2026 | Pasar saham Indonesia memasuki pekan baru dengan sorotan pada saham BBCA yang dinilai menyimpan potensi kenaikan hingga 82,3%. Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menilai BBCA tetap tangguh di tengah tekanan kepemilikan investor asing, pembatasan bobot saham, dan ketidakpastian isu MSCI. Ketahanan itu didukung kinerja sembilan bulan 2026: laba BCA tumbuh 4,2% secara tahunan, terutama berkat penurunan beban pencadangan kerugian kredit.
Dari bursa domestik, saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) masuk jajaran 10 saham berkapitalisasi pasar terbesar di BEI. SMMA menggeser DNET yang terafiliasi Grup Salim, sekaligus menjadi babak baru Grup Sinar Mas setelah DSSA dan MORA tersingkir dari daftar elite tersebut.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,40% ke 5.050,42 pada Jumat (6/11/2026). Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks berpeluang menguji 5.100-5.200 pekan depan, ditopang penyempitan histogram MACD yang membuka peluang golden cross, serta sinyal reversal stochastic RSI di area pivot. Namun, pergerakan tetap dibayangi sentimen bursa global dan pelemahan rupiah. Untuk Senin (9/11/2026), enam saham potensial menjadi fokus, dari BBCA hingga BMRI.
Di sisi aksi korporasi, PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT) akan membagikan dividen interim 2026 sebesar Rp100,25 miliar atau Rp35,6 per saham pada awal Desember. Keputusan ini mempertimbangkan laba bersih atribusi entitas induk Rp1,38 triliun, saldo laba ditahan Rp740,66 miliar, dan total ekuitas Rp1,38 triliun. Harga saham PORT ditutup melemah 0,57% ke Rp875 per saham.
Sentimen lain datang dari BEI yang menghapus 18 saham dan 20 waran pada November 2026. Dari global, Berkshire Hathaway milik Warren Buffett melakukan buyback saham US$9,6 miliar atau Rp173,93 triliun, meski laba turun lebih dari 28% dan kinerja Geico melemah. Cadangan kas Berkshire naik ke US$377,4 miliar.
Secara keseluruhan, peluang penguatan saham BBCA dan IHSG masih terbuka, tetapi investor perlu mencermati sentimen global, fluktuasi rupiah, dan aksi korporasi. Diversifikasi serta disiplin risiko tetap menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar saham.
Editor: Abuzar Samad
