Demo HMI Pekanbaru Memanas, Massa Terobos Gedung DPRD Riau Desak Copot Menteri Kehutanan
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Demo HMI Pekanbaru Memanas Massa Terobos Gedung DPRD Riau menjadi sorotan publik setelah aksi unjuk rasa yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pekanbaru di Gedung DPRD Riau, Rabu (21/10/2026), berlangsung tegang. Massa terlibat aksi saling dorong dengan petugas, menerobos masuk ke gedung, hingga bertahan di lokasi demonstrasi melewati batas waktu yang ditetapkan. Sejumlah mahasiswa menerobos masuk melalui pintu samping dekat pos pengamanan. Petugas keamanan bersama Satpol PP kemudian mengamankan massa yang berhasil masuk ke area gedung DPRD Riau.
Dalam aksinya, mahasiswa mendesak pemerintah pusat menetapkan status bencana nasional atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Mereka juga meminta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dicopot dari jabatannya. Ketua HMI Cabang Pekanbaru, Rayhan, menilai pemerintah belum maksimal menangani persoalan karhutla. Karena itu, ia mendesak adanya pergantian kepemimpinan di Kementerian Kehutanan.
“Copot Menhut Raja Juli Antoni dari jabatannya sebagai Menteri Kehutanan,” tegas Rayhan saat berorasi. Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah membuka identitas perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan serta mengusut pihak yang bertanggung jawab. Mereka juga menuntut penguatan upaya pencegahan dan penanganan karhutla, termasuk pemberian layanan kesehatan gratis bagi masyarakat terdampak asap. Pemerintah turut didesak melindungi warga kecil yang diduga dimanfaatkan sebagai pelaksana lapangan oleh aktor intelektual di balik kebakaran.
Menjelang petang, massa ditemui tiga anggota Komisi III DPRD Riau. Namun, mahasiswa menolak perwakilan tersebut dan tetap meminta bertemu langsung dengan Ketua DPRD Riau. “Kami ingin bertemu Ketua DPRD Riau, bukan mereka bertiga ini,” ujar salah seorang mahasiswa. Situasi kembali memanas ketika massa menolak meninggalkan gerbang utama Gedung DPRD Riau hingga memasuki waktu salat Magrib. Aksi tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 18.00 WIB.
Demo HMI Pekanbaru Memanas Massa Terobos Gedung DPRD Riau ini menjadi bukti nyata tingginya eskalasi aspirasi mahasiswa terhadap isu lingkungan yang kian mendesak. Karhutla yang terus meluas di tiga pulau besar menjadi pemicu utama kemarahan massa. Mereka menilai negara belum hadir secara maksimal dalam melindungi masyarakat dari dampak asap yang berkepanjangan.
Pengamat sosial politik dari Universitas Riau, Dr. Ahmad Fauzi, menilai aksi mahasiswa ini merupakan bentuk kontrol sosial yang sah. “Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, namun tentu harus tetap menjunjung tinggi ketertiban. Tuntutan mereka soal karhutla sangat relevan karena dampaknya sudah sangat luas,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya transparansi pemerintah dalam mengungkap aktor intelektual di balik pembakaran hutan. Menurutnya, penegakan hukum yang tegas akan menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya bencana asap. “Jika perusahaan besar dibiarkan, maka karhutla akan terus terjadi setiap tahun. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat,” tambahnya.
Di sisi lain, massa aksi juga menyoroti minimnya layanan kesehatan bagi warga terdampak asap. Mereka mendesak pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan gratis, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tuntutan ini dinilai wajar mengingat kualitas udara di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan sempat berada di level berbahaya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah pusat maupun Kementerian Kehutanan terkait tuntutan mahasiswa. Sementara itu, massa HMI Pekanbaru masih bertahan di sekitar Gedung DPRD Riau. Demo HMI Pekanbaru Memanas Massa Terobos Gedung DPRD Riau pun menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam penanganan karhutla.
Dalam konteks yang lebih luas, aksi ini mencerminkan kekecewaan publik terhadap lambatnya respons negara terhadap krisis lingkungan. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil menuntut akuntabilitas dan transparansi. Jika tuntutan tidak direspons, bukan tidak mungkin gelombang demonstrasi serupa akan kembali muncul di berbagai daerah.
Dengan demikian, Demo HMI Pekanbaru Memanas Massa Terobos Gedung DPRD Riau bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan cerminan dari kegelisahan kolektif terhadap masa depan lingkungan Indonesia. Pemerintah dituntut untuk segera menetapkan status bencana nasional karhutla, mencopot Menteri Kehutanan, serta mengusut tuntas pihak-pihak yang bertanggung jawab. Hanya dengan tindakan tegas dan transparan, kepercayaan publik terhadap pemerintah dapat dipulihkan.
