Juve Gagal Menang Lagi: Gol Kemenangan Lucumi Dibatalkan VAR, Spalletti di Ujung Tanduk
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Juventus kembali menuai hasil mengecewakan di pentas Eropa. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Stadion Allianz, juve hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan wakil Prancis, Rennes, dalam lanjutan fase liga Europa League. Hasil ini memperpanjang tren kurang meyakinkan Si Nyonya Tua dan semakin menambah tekanan terhadap pelatih Luciano Spalletti.
Pertandingan berjalan dramatis sejak awal. Juve membuka keunggulan pada menit kelima melalui gol Celik yang memanfaatkan kelengahan lini belakang Rennes. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Tamari menyamakan kedudukan pada menit ke-15, sebelum Dia membalikkan keadaan lewat eksekusi penalti pada menit ke-43. Skor 1-2 untuk keunggulan Rennes bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, juve meningkatkan intensitas serangan. Upaya mereka membuahkan hasil pada menit ke-67 ketika Woltemade dengan tenang mengeksekusi penalti untuk menyamakan skor menjadi 2-2. Drama sesungguhnya terjadi di penghujung laga. Pada menit ke-88, Lucumi berhasil menjebol gawang Rennes dan seolah membawa juve meraih kemenangan dramatis. Namun wasit Krogh, setelah meninjau tayangan VAR, menganulir gol tersebut karena alasan offside.
Keputusan itu menuai kontroversi. Analisis wasit yang beredar menyebutkan bahwa Lucumi sebenarnya sudah tidak berada dalam posisi offside ketika bola bergulir. Mayenda, pemain Rennes, terlihat menyentuh bola secara refleks untuk menghalau bola dari gawang. Sentuhan itu dinilai sebagai sebuah permainan yang kembali mengaktifkan posisi Lucumi, sehingga gol seharusnya sah. Kendati demikian, wasit Krogh tetap bersikeras pada keputusannya dan gol kemenangan juve pun sirna.
Di sisi lain, dua penalti yang diberikan kepada masing-masing tim dinilai sudah tepat. Pada tembakan Nagida dari luar kotak penalti, Douglas Luiz terlihat menyentuh bola dengan lengannya. Sementara itu, pelanggaran Reynolds yang mengulurkan tangan untuk menahan bola juga dinilai jelas dan tidak terbantahkan.
Hasil ini membuat juve belum juga menemukan performa terbaiknya. Tekanan terhadap Spalletti kian menguat. Meski demikian, semangat juang yang ditunjukkan para pemain di menit-menit akhir setidaknya menjadi satu-satunya hal positif yang bisa dipetik. Namun, reaksi tersebut dinilai lebih sebagai luapan emosi ketimbang buah dari organisasi permainan yang matang.
Kegagalan juve di Eropa juga berdampak pada posisinya di kompetisi domestik. Dalam sepekan ke depan, mereka akan menghadapi tiga laga penting di Serie A yang akan menentukan arah ambisi klub. Situasi ini memunculkan spekulasi mengenai masa depan Spalletti. Nama Antonio Conte dan Simone Inzaghi disebut-sebut sebagai kandidat pengganti yang potensial.
Menariknya, nasib juve dan Manchester United dikaitkan dalam sebuah analisis. Kedua klub raksasa Eropa itu sama-sama tengah dilanda hasil buruk dan kursi pelatih yang goyah. Conte disebut sebagai sosok yang tepat untuk membangkitkan kembali mentalitas juve, sementara Inzaghi dinilai lebih cocok untuk membangun fondasi jangka panjang dengan pendekatan taktis yang mumpuni.
Di pentas Eropa lainnya, hasil buruk juga dialami wakil Italia. Milan dihancurkan Bournemouth dengan skor 3-0 di Europa League, sementara Atalanta takluk 2-0 dari Ajax di Conference League. Hanya juve yang mampu meraih satu poin, meski itu belum cukup untuk meredakan kekecewaan.
Dengan situasi yang kian memanas, laga-laga berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya bagi juve dan Spalletti. Klub sebesar juve dituntut untuk segera bangkit dan menunjukkan kualitas sebenarnya. Jika tidak, pergantian pelatih tampaknya hanya menunggu waktu.
