KAAN Belum Siap Tempur, Turki Kejar 24 Eurofighter dari Qatar dan Oman
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Turki mempercepat langkah penguatan armada udaranya melalui program pengadaan Eurofighter Turki yang kini berjalan lewat tiga jalur sekaligus. Kementerian Pertahanan Turki mengonfirmasi pada Kamis, 22 Oktober 2026, bahwa Ankara masih menunggu rancangan kontrak penjualan dan program pelatihan dari Qatar untuk sejumlah pesawat tempur Eurofighter Typhoon. Langkah ini ditempuh ketika jet tempur generasi kelima buatan nasional, KAAN, belum mencapai kesiapan tempur penuh.
Dalam pengarahan rutin kementerian, delegasi Turki dan Qatar telah menggelar pertemuan pada Agustus dan September 2026. Pembicaraan mencakup jumlah dan konfigurasi pesawat, kebutuhan amunisi, pelatihan bagi pilot serta personel pemeliharaan, hingga dukungan teknis dan logistik. Qatar diharapkan segera menyiapkan rancangan program pelatihan dan kontrak penjualan untuk diserahkan kepada pemerintah Turki.
Qatar sendiri mengoperasikan 24 unit Eurofighter Typhoon yang seluruhnya telah dikirim hingga akhir 2025. Pesawat-pesawat itu masih relatif baru dengan jam terbang terbatas, sehingga sisa masa pakai dan kondisi teknisnya menjadi pertimbangan penting dalam negosiasi. Ankara belum mengungkap berapa unit yang akan diambil, nilai kontrak, maupun jadwal pengirimannya. Namun, peluang untuk mengambil seluruh armada tidak dapat dikesampingkan, bergantung pada harga dan kesepakatan kedua negara.
Oman menjadi sumber potensial berikutnya. Turki mempertimbangkan akuisisi 12 unit Eurofighter Typhoon milik Oman, meski kemajuannya masih belum pasti dan belum ada kesepakatan final. Perbedaan penting terletak pada radar: pesawat Qatar merupakan varian Tranche 3A dengan radar ECRS Mk0 active electronically scanned array (AESA), sementara pesawat Oman masih memakai radar mekanis CAPTOR-M. Artinya, armada Qatar dapat langsung menghadirkan teknologi AESA, sedangkan pesawat Oman memerlukan modernisasi radar agar setara.
Pesawat Qatar juga kompatibel dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor buatan MBDA yang belum dioperasikan Turki. Namun, akuisisi pesawat tidak otomatis menyertakan rudal tersebut, dan belum ada keterangan apakah Meteor termasuk dalam transaksi yang dibahas. Jika seluruh rencana terealisasi, Turki berpotensi mengoperasikan hingga 44 unit Eurofighter Typhoon, terdiri atas 20 pesawat baru dari Inggris dan 24 pesawat dari Qatar serta Oman.
Jalur Inggris menjadi komponen ketiga dalam strategi pengadaan Eurofighter Turki. Pada Oktober 2025, Ankara menandatangani kesepakatan dengan Inggris untuk 20 pesawat baru, disusul pengaturan pelatihan dan dukungan. Nilai paket Inggris secara keseluruhan, termasuk pesawat, persenjataan, pelatihan, dan dukungan, dilaporkan melebihi 8 miliar poundsterling atau sekitar 11 miliar dolar AS. Pengiriman pesawat baru diperkirakan baru dimulai pada 2030.
Karena itu, pesawat dari Qatar menjadi kunci untuk mempercepat pengenalan tipe ini ke dalam layanan Angkatan Udara Turki. Turki beralih ke Eurofighter setelah pada 2019 diblokir Amerika Serikat dalam pembelian F-35 akibat akuisisi sistem pertahanan rudal S-400 asal Rusia pada 2017. Saat ini Turki mengoperasikan sekitar 230 unit F-16 dengan rentang usia sekitar 15 hingga hampir 40 tahun, sehingga pembaruan armada menjadi mendesak.
Status rencana pembelian sempat dipertanyakan menyusul serangan Iran terhadap Qatar di tengah konflik AS-Israel melawan Iran, yang memunculkan kekhawatiran atas kebutuhan pertahanan negara Teluk itu sendiri. Meski demikian, pernyataan kementerian pada Kamis menegaskan pembicaraan Ankara dan Doha tetap berjalan sesuai jalur. Hanya saja, pernyataan itu tidak merinci apakah Turki masih berencana membeli 12 pesawat dari Qatar.
Di sisi lain, Turki tidak hanya berfokus pada pesawat tempur. Industri pertahanan nasional juga mengembangkan solusi biaya rendah untuk menghadapi ancaman drone. Perusahaan pertahanan Aselsan memperkenalkan sistem Korkut, pertahanan udara jarak sangat pendek berbasis meriam otomatis dan amunisi pintar yang dapat diprogram untuk meledak di dekat sasaran. CEO Aselsan, Ahmet Akyol, menyebut biaya penghancuran satu drone dengan Korkut dapat ditekan hingga kurang dari 10 ribu dolar AS, jauh lebih murah dibanding penggunaan rudal pencegat yang bernilai ratusan ribu hingga jutaan dolar AS per unit.
Persoalan biaya itu semakin mendesak setelah perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah memperlihatkan penggunaan drone dalam jumlah besar. Serangan yang melibatkan puluhan hingga ratusan pesawat nirawak dapat menguras persediaan rudal pencegat, bahkan ketika sebagian besar sasaran berhasil dihancurkan. Korkut pun menjadi salah satu jawaban Turki atas dilema ekonomi pertahanan tersebut.
Dengan demikian, program Eurofighter Turki mencerminkan strategi ganda Ankara: menjaga kesiapan militer jangka pendek melalui pesawat tempur modern yang dapat segera dioperasikan, sekaligus membangun kemandirian teknologi pertahanan lewat KAAN dan sistem seperti Korkut. Keberhasilan negosiasi dengan Qatar dan Oman akan menentukan seberapa cepat celah kemampuan udara Turki tertutup sebelum KAAN benar-benar siap tempur.
