Asap Karhutla Kian Menggila: Dari Paru-Paru Warga hingga Seruan Anggota Parlemen Malaysia
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Kabut asap karhutla kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, kelestarian satwa liar, hingga memicu reaksi lintas negara. Fenomena yang berulang setiap tahun ini kini menjadi sorotan tajam, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di kawasan ASEAN, seiring meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan yang tak kunjung padam.
Menteri Lingkungan Hidup menegaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan riwayat penyakit paru-paru dan jantung menjadi pihak yang paling berisiko. Karena itu, mitigasi dan adaptasi menjadi langkah kunci yang harus dipahami masyarakat luas.
Langkah Melindungi Diri dari Paparan Asap
Pemerintah membagikan sejumlah panduan praktis yang dapat diterapkan masyarakat untuk meminimalisasi dampak buruk asap karhutla. Langkah-langkah tersebut antara lain:
- Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru atau jantung.
- Gunakan masker berstandar tinggi seperti N95 jika terpaksa harus keluar rumah, agar partikel halus termasuk PM2.5 tidak terhirup.
- Pantau kualitas udara secara berkala dan sesuaikan aktivitas harian dengan kondisi terkini.
- Jaga hidrasi dan kesehatan tubuh dengan mengonsumsi air yang cukup serta makanan bergizi.
Partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla diketahui mampu menembus pertahanan saluran napas dan berpotensi memicu peradangan serius. Bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak, penggunaan penyaring udara di dalam ruangan serta menutup ventilasi saat kabut memuncak menjadi langkah tambahan yang dianjurkan.
Satwa Liar pun Terdampak
Bukan hanya manusia, satwa liar juga merasakan dampak langsung dari bencana ini. Rangkong badak atau yang dikenal masyarakat Kalimantan sebagai tingang, burung ikonik yang menjadi identitas budaya Kalimantan Tengah, kini terlihat bertengger di tengah kabut pekat. Satwa ini sangat bergantung pada hutan dengan pepohonan besar sebagai tempat bersarang, sehingga kerusakan habitat akibat kebakaran berpotensi mengganggu ruang hidup dan ketersediaan pakannya.
Ancaman serupa membayangi kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang menjadi habitat orang utan Kalimantan. Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka, menegaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya mengancam orang utan, tetapi juga berbagai jenis satwa liar lainnya. Menurutnya, satwa juga membutuhkan udara untuk bernapas sehingga kondisi ketika asap karhutla menyelimuti kawasan hutan perlu mendapat perhatian serius, terlebih jika dampaknya meluas hingga permukiman.
“Selain gangguan akibat asap, kebakaran yang menjangkau habitat satwa berpotensi merusak tempat berlindung, mengurangi ruang jelajah, serta mengganggu ketersediaan makanan. Dampak tersebut dapat menjadi tekanan tambahan bagi satwa yang bergantung pada hutan untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Gema Seruan hingga ke Negeri Jiran
Persoalan ini tak berhenti di batas negara. Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, menyampaikan seruan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto agar segera mengambil langkah konkret menghentikan kebakaran dan mencegah kabut asap berulang setiap tahun. Dalam pidatonya di Dewan Rakyat Malaysia, ia bahkan menggunakan bahasa Jawa agar pesannya dipahami para pemimpin Indonesia.
“Pak Prabowo, mohon segera mengambil tindakan, padamkan api, hentikan pembakaran, dan pastikan masalah ini tidak berulang setiap tahun,” demikian seruan Kalam yang dikutip dari pemberitaan internasional. Ia menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Jawa dimaksudkan agar pesannya dapat diterima dengan jelas oleh pihak yang ingin ia jangkau.
Sementara itu, di dalam negeri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memprioritaskan penanganan di lima provinsi seiring meluasnya karhutla. Upaya pemadaman terus dilakukan, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah seperti Papua, guna mengatasi titik api yang meningkat.
Efektivitas Kerja Sama ASEAN Dipertanyakan
Di tengah berulangnya bencana ini, pertanyaan mengenai seberapa efektif upaya ASEAN dalam mengatasi kabut asap lintas batas kembali mencuat. Meskipun berbagai kesepakatan regional telah dibentuk, kenyataan bahwa asap karhutla masih menjadi persoalan tahunan menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan besar. Diperlukan komitmen politik yang lebih kuat, penegakan hukum yang tegas terhadap praktik pembakaran lahan, serta pendekatan kolaboratif antarnegara untuk benar-benar menuntaskan akar masalah.
Pada akhirnya, persoalan asap karhutla adalah cermin dari tata kelola lingkungan yang belum optimal. Perlindungan kesehatan masyarakat, kelestarian satwa, dan hubungan baik antarbangsa bergantung pada keseriusan semua pihak dalam mencegah kebakaran sejak dini. Tanpa langkah nyata dan berkelanjutan, kabut asap akan terus menjadi tamu tak diundang yang hadir setiap tahun, membawa dampak bagi paru-paru warga, ruang hidup satwa, dan citra bangsa di mata dunia.
