Singapore di Tengah Kabut: 10 Perusahaan Dipanggil NEA, Wilmar hingga Bumitama Agri Berjanji Patuh
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Kabut asap lintas batas kembali menyelimuti langit singapore, dan kali ini otoritas lingkungan setempat mengambil langkah tegas. National Environment Agency (NEA) menerbitkan surat pemberitahuan kepada 10 perusahaan yang terdaftar di singapore untuk meminta dokumen dan informasi sebagai bagian dari upaya menangani polusi kabut asap lintas batas. Langkah ini menandai kali pertama NEA menggunakan kewenangannya sejak Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act) mulai berlaku.
Dari sepuluh perusahaan yang menerima pemberitahuan pada Jumat (23/10), tiga di antaranya telah menyatakan komitmen untuk mematuhi permintaan tersebut, yakni Wilmar International, First Resources, dan Bumitama Agri. Ketiganya merupakan pemain besar di sektor perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang beroperasi di kawasan regional.
Dalam keterbukaan informasi pada Sabtu, First Resources menyampaikan bahwa pihaknya tengah menelaah pemberitahuan tersebut dan akan menyerahkan dokumen serta informasi yang diminta kepada NEA sesuai ketentuan yang tercantum. Perusahaan juga menegaskan akan memantau perkembangan perkara ini dan menyampaikan pengumuman lebih lanjut apabila terdapat perkembangan material.
Sementara itu, Wilmar International dalam keterbukaan informasi pada Jumat menyatakan bahwa upaya untuk memenuhi pemberitahuan sedang berjalan. Bumitama Agri menyusul pada Sabtu dengan pernyataan serupa, bahwa pihaknya akan menyediakan dokumen dan informasi yang diminta. Keduanya juga berjanji akan memberikan pengumuman bila ada perkembangan penting.
Langkah NEA ini menjadi sorotan karena menyentuh langsung rantai pasok industri yang selama ini dikaitkan dengan praktik pembukaan lahan. Kondisi udara di singapore sendiri dalam beberapa pekan terakhir memang kurang bersahabat. Pantauan di kawasan Chinatown dan siluet gedung-gedung pencakar langit sempat tampak tertutup kabut pada pertengahan Oktober, sebuah pemandangan yang mengingatkan publik pada episode asap tahun-tahun sebelumnya.
Bagi warga dan pelancong, dampaknya terasa nyata. Seorang pengunjung asal Jepang yang tiba di singapore pada pekan yang sama mengisahkan bahwa cuaca sebenarnya tidak buruk, namun sepanjang hari terasa berkabut akibat asap dari praktik tebas-bakar di Indonesia dan pengaruh PM2.5. Suhu ketika itu melewati 30 derajat Celsius sehingga terasa panas meski hanya berdiri diam.
Meski demikian, denyut aktivitas kota tidak surut. Kawasan wisata seperti Gardens by the Bay, Singapore Sports Hub, Marina Bay Sands, dan patung Merlion tetap ramai dikunjungi. Bahkan, bersamaan dengan itu, singapore menjadi tuan rumah Grand Prix Formula 1 yang digelar di sirkuit jalan raya, sehingga sejumlah ruas jalan dibatasi dan warga beralih ke transportasi umum yang dinilai bersih dan tertata.
Di sisi lain, agenda diplomasi dan pertahanan negara juga berjalan padat. Pangeran Abdul Mateen dari Brunei melakukan kunjungan resmi ke Markas Satuan Tugas Operasi Khusus Angkatan Bersenjata singapore pada 23 Oktober. Ia menerima penjelasan mengenai kapabilitas operasi khusus, menyaksikan simulasi penanganan skenario kontra-terorisme, dan ikut terbang dengan helikopter angkut sedang H225M milik Angkatan Udara Republik Singapura. Kunjungan itu menjadi yang pertama sejak ia menjabat menteri luar negeri Brunei pada Juni, dan memperkuat momentum hubungan bilateral yang baru saja merayakan 50 tahun kerja sama pertahanan.
Hubungan ekonomi regional pun terus menguat. Duta Besar singapore untuk Vietnam, Rajpal Singh, menyebut kepercayaan sebagai kata kunci hubungan kedua negara yang telah berjalan lebih dari setengah abad. Ia mencatat singapore merupakan investor asing terbesar kedua di Vietnam dengan lebih dari 4.500 proyek senilai hampir 97 miliar dolar AS, serta mencatat rekor nilai perdagangan bilateral di atas 31 miliar dolar AS pada 2025. Model Kawasan Industri Vietnam-Singapore (VSIP) yang genap 30 tahun kini berkembang menjadi 28 kawasan dengan lebih dari 1.000 investor dan menyerap sekitar 350.000 tenaga kerja.
Di ranah hiburan, kabar kurang sedap datang dari ajang kecantikan. Miss Universe Singapore 2026, Vion Erico Tan, dipastikan gagal tampil di Miss Universe 2026 akibat konflik lisensi yang juga membuat lima negara lain absen. Meski kecewa, perempuan 24 tahun itu menyatakan tidak akan goyah dan tetap menyandang gelarnya, dengan harapan dapat mewakili negaranya pada Miss Universe 2027.
Gambaran di atas menunjukkan singapore sebagai negara kecil dengan agenda besar dan berlapis: menegakkan hukum lingkungan, menjaga hubungan diplomatik, menggerakkan ekonomi, sekaligus menghadapi tantangan kualitas udara yang bersumber dari luar perbatasan. Penegakan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas melalui pemberitahuan kepada sepuluh perusahaan menjadi ujian penting bagi efektivitas diplomasi lingkungan kawasan. Kepatuhan Wilmar, First Resources, dan Bumitama Agri akan menjadi indikator awal apakah pendekatan hukum mampu mendorong tata kelola lahan yang lebih bertanggung jawab. Bagi publik, yang paling dinantikan tentu langit yang kembali bersih dan udara yang sehat, seiring komitmen perusahaan untuk transparan dan kooperatif terhadap proses yang dijalankan otoritas.
