Jangan Cuma Mimpi Kuliah di Jerman, Ini Sinyal Besar dari DAAD untuk Talenta Indonesia
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Bagi banyak mahasiswa Indonesia, melanjutkan kuliah di luar negeri masih menjadi impian yang terasa jauh. Namun, kabar dari Jerman memberi angin segar: lembaga penyedia beasiswa Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) menyatakan ketertarikan besar untuk menambah proporsi pelajar asal Indonesia. Sinyal ini muncul dalam forum akademik bertajuk Strengthening Germany-Indonesia Academic and Scientific Cooperation: DAAD Scholarships, Research, and Future Collaboration di Jakarta, yang menjadi sorotan kalangan pendidikan tinggi.
Presiden DAAD, Prof Dr Joybrato Mukherjee, menegaskan pihaknya tidak memasang target angka pasti. Meski begitu, ia melihat Indonesia sebagai pasar talenta yang sangat menjanjikan. Saat ini terdapat sekitar 430.000 mahasiswa internasional di Jerman, dan hanya Amerika Serikat, Inggris, serta Australia yang jumlah pelajar internasionalnya melampaui Jerman. Dengan populasi Indonesia mencapai 280 juta jiwa atau terbesar keempat di dunia, Jerman menilai peluang memperbesar porsi mahasiswa Indonesia sangat terbuka lebar.
Bukan Sekadar Menambah Jumlah
Mukherjee menekankan bahwa DAAD tidak sekadar mengejar kuantitas. Fokus utamanya adalah menyerap talenta terbaik, termasuk dari kalangan peneliti tahap awal dan mahasiswa berprestasi. “Dengan banyaknya talenta cemerlang di kalangan peneliti tahap awal maupun mahasiswa, tentu saja kita memiliki ketertarikan besar untuk meningkatkan proporsi mahasiswa asal Indonesia,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keputusan untuk kuliah di Jerman tetap berada di tangan masing-masing individu. Jerman telah menyediakan beragam pilihan studi, tetapi pendaftaran beasiswa sepenuhnya menjadi pilihan pribadi calon mahasiswa. Bagi yang masih ragu, Mukherjee menyoroti keunggulan sistem pendidikan Jerman, terutama kebebasan akademik yang dilindungi konstitusi serta kerangka pembelajaran yang mendorong pemikiran kritis.
Semangat Kuliah dari Berbagai Penjuru
Di sisi lain, semangat menempuh kuliah juga tampak dari kisah Yudeo, mahasiswa sekaligus relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Di tengah krisis kabut asap dan kualitas udara yang memburuk, ia tetap menjalankan kewajiban akademiknya. Yudeo mengaku sempat mengerjakan tugas kuliah sambil berjaga di lapangan, dengan sistem bergantian bersama rekan relawan agar tenggat tugas tetap terpenuhi.
Sementara itu, akses menuju bangku kuliah terus dibuka lewat berbagai jalur beasiswa. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), misalnya, menawarkan program bagi lulusan pesantren, mulai dari Jalur Prestasi Keagamaan dan Tahfiz Al-Qur’an, Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang membebaskan biaya kuliah sekaligus menyediakan asrama, hingga Beasiswa Alumni Sekolah Muhammadiyah dan KATAMM. Wakil Rektor II UMM, Dr Ahmad Juanda, menegaskan komitmen kampus meruntuhkan stigma bahwa santri hanya bisa masuk jurusan keagamaan.
Dukungan pembiayaan juga datang dari pemerintah melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, yang menyasar calon mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Program ini melengkapi skema bantuan lain seperti PKH dan PIP yang pada 2026 diperluas hingga jenjang taman kanak-kanak.
Kisah lain datang dari Rangga Erlangga dan sepupunya, Abdul Rahman Edi Putra, di Kabupaten Bekasi. Keduanya menekuni keamanan siber dan bercita-cita kuliah di ITB, meski terkendala biaya. Setelah Rangga mendapat pengakuan dari NASA, keluarga berharap pendidikan tingginya bisa terwujud.
Peluang Terbuka, Persiapan Jadi Kunci
Dari sinyal DAAD hingga ragam beasiswa dalam negeri, ruang untuk kuliah semakin luas bagi generasi muda Indonesia. Peluang itu tidak datang dengan sendirinya: calon mahasiswa perlu memantau informasi resmi, memahami persyaratan, dan menyiapkan diri sejak awal. Dengan begitu, mimpi menempuh pendidikan tinggi, baik di Jerman maupun di dalam negeri, bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan langkah nyata yang bisa direncanakan.
