Infantino Tegas Tak Gentar: "Gianni Infantino Tak Pernah Pertimbangkan untuk Mengundurkan Diri" di Tengah Badai Kontroversi FIFA
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan sikapnya yang bulat di tengah tekanan yang terus menggunung. Dalam wawancara dengan BBC, ia menyatakan bahwa Gianni Infantino tak pernah pertimbangkan untuk mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan organisasi sepak bola dunia tersebut. Pernyataan itu disampaikan dengan nada tenang ketika ditanya langsung mengenai kemungkinan ia mundur akibat kontroversi proposal komersial FIFA Forward Enterprise (FFE) yang sempat memicu ketegangan dengan sejumlah konfederasi.
Menurut Infantino, keputusan mengenai siapa yang berhak memimpin FIFA sepenuhnya berada di tangan 211 asosiasi anggota. Ia menilai pertanyaan soal pengunduran diri tidak relevan selama mayoritas anggota masih memberikan kepercayaan kepadanya. “Jika kita serius dengan demokrasi, serta keyakinan bahwa setiap orang memiliki hak suara yang sama di seluruh dunia dan sepak bola adalah milik semua orang, maka kita juga harus menghormati pandangan mayoritas yang sangat besar,” ujarnya.
Dukungan Mayoritas Jadi Tameng Utama
Infantino mengaku baru saja menyelesaikan rangkaian kunjungan ke berbagai belahan dunia untuk bertemu langsung dengan para pemimpin sepak bola nasional. Dari Tokyo hingga Tanjung Verde, ia mengklaim menerima dukungan penuh. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dalam Kongres Luar Biasa di Jepang menyatakan dukungan resmi, sementara negara-negara anggota Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) juga menegaskan hal serupa. Bagi Infantino, gelombang dukungan ini menjadi bukti bahwa Gianni Infantino tak pernah pertimbangkan untuk mengundurkan diri karena masih mengantongi legitimasi dari basis terbesar organisasi.
Dukungan Asia menjadi modal politik yang signifikan menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027. Presiden AFC sekaligus Wakil Presiden Senior FIFA, Shaikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, secara terbuka menyatakan komitmen konfederasi untuk mendukung Infantino. Meski demikian, Salman mengakui bahwa sikap AFC belum tentu mewakili seluruh 47 federasi anggotanya. Batas akhir pendaftaran kandidat ditetapkan pada 18 November 2026, dan hingga kini belum ada penantang resmi yang muncul.
Kontroversi FFE yang Belum Usai
Tekanan terhadap Infantino bermula dari rencana FIFA menjual sebagian hak komersial kompetisi yang dikelolanya kepada perusahaan investasi swasta, dengan nilai mencapai 4,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp71,8 triliun. Proposal itu memicu kemarahan UEFA, AFC, dan CONCACAF yang menuding terjadinya pelanggaran serius terhadap kepercayaan. Meski rencana tersebut dibatalkan hanya dalam hitungan hari, persoalan belum sepenuhnya reda. UEFA meminta FIFA membuka seluruh dokumen penting terkait FFE paling lambat 2 November.
Di tengah polemik itu, Infantino tetap melanjutkan kampanye diam-diam dengan mengunjungi Afrika dan Asia dalam satu akhir pekan. Ia menghadiri pembukaan Piala Dunia Wanita U-17 di Rabat, Maroko, lalu terbang ke Bangladesh untuk bertemu Presiden Federasi Sepak Bola Bangladesh, Tabith Awal. Bangladesh tercatat telah menerima dana pengembangan FIFA Forward sebesar 14,9 juta dolar AS sejak 2016, salah satu contoh nyata manfaat program yang ia usung.
Surat Dukungan dari Indonesia
Dalam Kongres Luar Biasa AFC di Tokyo pada 23 Oktober 2026, Infantino juga bertemu dengan Ketua PSSI, Erick Thohir. Dalam pertemuan itu, ia menerima surat dukungan dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. “Merupakan suatu kehormatan besar bagi saya untuk bertemu dengan Presiden PSSI, Erick Thohir, yang menyerahkan surat dukungan dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto,” tulis Infantino melalui akun Instagram resminya. Ia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo, Erick Thohir, dan seluruh keluarga besar PSSI atas kepercayaan yang diberikan.
Infantino juga memuji peran AFC dalam mengembangkan sepak bola di kawasan Asia, terutama dalam membuka peluang bagi anak-anak untuk mengejar impian mereka. Ia mengapresiasi kepemimpinan Shaikh Salman yang dinilainya telah menjadikan sepak bola sebagai sumber harapan dan peluang bagi anak laki-laki maupun perempuan.
Menjaga Prinsip Saling Menghormati
Infantino menyadari bahwa menyatukan berbagai pandangan dalam organisasi sebesar FIFA bukan perkara mudah. Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat tidak seharusnya menghilangkan prinsip saling menghormati di antara para anggota. Sikapnya yang tetap tenang menghadapi desakan mundur menunjukkan bahwa Gianni Infantino tak pernah pertimbangkan untuk mengundurkan diri, bahkan ketika tekanan dari sejumlah konfederasi besar mencapai puncaknya.
Dengan dukungan yang diklaim mengalir dari Asia, Afrika, hingga Indonesia, Infantino tampaknya ingin mengirim pesan bahwa legitimasi seorang pemimpin FIFA ditentukan oleh suara mayoritas anggota, bukan oleh tekanan segelintir pihak. Ia meminta semua pihak menghormati pilihan anggota FIFA dan prinsip demokrasi yang menjadi fondasi organisasi.
Ke depan, mata dunia akan tertuju pada tenggat 2 November terkait permintaan transparansi dokumen FFE dari UEFA, serta 18 November sebagai batas pendaftaran kandidat presiden. Jika tidak ada penantang yang muncul, jalan Infantino untuk kembali memimpin FIFA semakin terbuka. Namun, selama kontroversi FFE belum tuntas, pertanyaan mengenai akuntabilitas kepemimpinannya akan terus bergema. Yang jelas, hingga saat ini, Gianni Infantino tak pernah pertimbangkan untuk mengundurkan diri dan memilih menghadapi badai itu dengan strategi dukungan mayoritas yang ia klaim telah ia kantongi.
