China dan AI Bikin Petinggi Keuangan Dunia Khawatir, Ternyata Ini Pemicunya
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Isu China dan AI bikin para petinggi keuangan dunia khawatir, ada apa? menjadi perbincangan hangat di kalangan pembuat kebijakan global. Kekhawatiran ini muncul bukan tanpa alasan. Di satu sisi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diyakini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dunia. Namun di sisi lain, teknologi ini berpotensi memicu inflasi, memperlebar kesenjangan, dan menciptakan gelembung utang di sektor infrastruktur digital. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, secara terbuka memperingatkan bahwa AI adalah pedang bermata dua bagi perekonomian global.
Dalam acara Next 3 Billion yang digelar Semafor di New York, Georgieva menyatakan bahwa AI dengan cepat menjadi pendorong utama perubahan posisi negara-negara dalam peta ekonomi dunia. “Suka atau tidak suka, AI sudah ada di sini,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ekonomi global saat ini menghadapi dua tekanan yang bergerak berlawanan. Konflik di kawasan Teluk mengganggu pasokan energi dan memicu lonjakan harga minyak hingga berpotensi menembus US$ 100 per barel. Sementara itu, lonjakan investasi AI meningkatkan permintaan modal dan berpotensi memberikan dorongan positif bagi aktivitas ekonomi. Kombinasi inilah yang membuat China dan AI bikin para petinggi keuangan dunia khawatir, ada apa? semakin relevan untuk dibahas.
Georgieva memperkirakan investasi AI dapat memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian dunia. Jika dimanfaatkan dengan tepat, teknologi ini berpotensi menambah hingga 0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi global setiap tahun. “Meningkat dari 3 persen menjadi 3,5 persen selama satu dekade itu seperti menambahkan skala ekonomi sebesar ASEAN ke dalam ekonomi dunia,” kata Georgieva. Investasi global untuk AI diperkirakan mencapai atau bahkan melampaui nilai investasi infrastruktur tradisional seperti jalur kereta api, jaringan listrik, dan telekomunikasi. Perangkat keras AI serta produk teknologi terkait saat ini telah mencakup lebih dari sepersepuluh perdagangan barang dunia. Namun, manfaat tersebut berisiko hanya terkonsentrasi pada negara dan perusahaan raksasa yang memiliki akses besar terhadap teknologi serta rantai pasok. Negara yang tidak banyak terlibat dalam rantai pasok global berpotensi makin tertinggal.
Kekhawatiran para petinggi keuangan dunia semakin diperkuat oleh meningkatnya utang untuk membangun infrastruktur AI. Tumpukan utang ini mulai membuat investor waswas. Saham sejumlah perusahaan penyedia komputasi AI, termasuk CoreWeave, Iren, dan Nebius, tertekan di tengah kebutuhan pendanaan besar untuk membangun data center. Biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar utang CoreWeave melonjak, dan imbal hasil obligasi perusahaan tersebut naik. Investor pun mempertanyakan besarnya utang yang digunakan untuk membiayai pembangunan pusat data. Meski demikian, Chief Revenue Officer Nebius, Marc Boroditsky, menegaskan kondisi perusahaannya berbeda dari CoreWeave. “Karena kami tidak memiliki jenis utang seperti yang mereka miliki,” kata Boroditsky. Ia melihat permintaan komputasi AI masih sangat kuat dan memperkirakan kapasitas komputasi Nebius yang mulai beroperasi pada 2027 akan terserap seluruhnya oleh pelanggan.
Optimisme serupa disampaikan CEO Crusoe, Chase Lochmiller. Ia mengatakan harga sewa GPU Nvidia generasi lama, termasuk A100, kini lebih tinggi dibandingkan dengan pada 2020 atau 2021. Harga H100 juga melampaui tingkat ketika chip tersebut pertama kali digunakan pada 2023. Menurut Lochmiller, kenaikan harga mencerminkan besarnya permintaan komputasi AI seiring kemampuan model AI yang semakin canggih. Sentimen positif turut muncul setelah SpaceX melaporkan pendapatan bisnis AI-nya melonjak sembilan kali lipat menjadi US$7,56 miliar. Namun, di balik cerita manis itu, bayang-bayang utang dan potensi krisis energi tetap menghantui. Inilah yang membuat China dan AI bikin para petinggi keuangan dunia khawatir, ada apa? terus menjadi sorotan.
Pertanyaan tentang China dan AI bikin para petinggi keuangan dunia khawatir, ada apa? juga tidak lepas dari peran China sebagai pemain utama dalam rantai pasok teknologi global. Negara Tirai Bambu itu terus menggenjot investasi di sektor AI, termasuk pengembangan chip dan pusat data. Ekspansi agresif ini memicu kekhawatiran akan ketergantungan dunia pada teknologi China, sekaligus memperuncing persaingan geopolitik. Di sisi lain, China juga menghadapi masalah utang publik yang membengkak, mirip dengan negara-negara lain. IMF sendiri menilai bahwa AI dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memperlebar jurang pemisah antarnegara. Georgieva menekankan pentingnya kerja sama internasional agar manfaat AI dapat dirasakan secara merata, bukan hanya oleh segelintir negara dan korporasi raksasa.
Sebagai penutup, kekhawatiran para petinggi keuangan dunia terhadap China dan AI bukanlah isapan jempol. Ada tiga faktor utama yang saling terkait: lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, tumpukan utang untuk infrastruktur AI, dan potensi kesenjangan digital yang semakin lebar. Jika tidak dikelola dengan bijak, ledakan AI bisa berubah dari berkah menjadi bencana ekonomi. Namun, dengan tata kelola yang tepat, AI masih berpeluang menjadi mesin pertumbuhan baru yang inklusif. Dunia pun menanti langkah konkret dari para pembuat kebijakan untuk menjawab tantangan ini.
