Krisis Pangan Iran Meluas: Presiden Pezeshkian Akui Rakyat Sulit Makan di Tengah Perang
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Krisis pangan Iran semakin memburuk dan menjadi sorotan dunia. Presiden Masoud Pezeshkian secara terbuka mengakui bahwa banyak warganya kini kesulitan menyediakan makanan akibat perang yang berkepanjangan. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato resmi yang diunggah di situs kepresidenan pada Sabtu (24/10/2026), menggambarkan beban berat yang harus ditanggung masyarakat di tengah konflik bersenjata yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Krisis pangan Iran ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan telah menyentuh ranah kemanusiaan yang mendesak mendapat perhatian internasional.
“Ada banyak orang di masyarakat ini yang berjuang untuk menaruh makanan di atas meja karena perang yang kita hadapi, karena kondisi masa perang yang sedang kita jalani,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita internasional. Ia menilai situasi perang saat ini semakin rumit dan perlu segera diakhiri, meski tidak memaparkan langkah konkret untuk mewujudkannya. Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan senior militer. Iran membalas dengan menyasar aset AS di kawasan dan wilayah Israel, sekaligus membatasi pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan energi global. Washington kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan ekspor minyak dan aktivitas perdagangan negara itu.
Upaya mediasi gencatan senjata yang difasilitasi Pakistan pada pertengahan Juni lalu gagal setelah kedua pihak saling menuduh melanggar ketentuan. Kekhawatiran akan eskalasi baru kembali mencuat setelah Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack menyatakan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi dilanjutkan dalam waktu dekat. Menanggapi hal itu, juru bicara Garda Revolusi Iran menegaskan kepada Fars News Agency bahwa angkatan bersenjata negaranya siap menghadapi segala bentuk agresi. “Bahkan jika musuh mengambil tindakan terbatas, respons Iran akan beberapa kali lebih besar,” kata juru bicara tersebut.
Di tengah tekanan ekonomi dan militer, krisis pangan Iran menjadi bukti nyata bahwa dampak perang tidak hanya terasa di medan pertempuran, tetapi juga di dapur rumah tangga. Blokade pelabuhan dan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz telah mengganggu rantai pasokan pangan dan energi, memicu kelangkaan serta lonjakan harga. Situasi ini diperparah oleh ketidakpastian politik yang membuat investasi di sektor pertanian dan distribusi pangan semakin terhambat.
Menyadari semakin peliknya krisis pangan Iran, Presiden Pezeshkian dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada akhir Oktober 2026. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyatakan bahwa pertemuan tersebut akan membahas penguatan kerja sama ekonomi, ketahanan energi, dan ketahanan pangan. “Topik utama pembahasan adalah kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Iran dan Rusia. Isu-isu seperti Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pengembangan hubungan perdagangan akan dibahas,” kata Jalali kepada RIA Novosti. Pertemuan bilateral itu akan berlangsung di sela-sela KTT Forum Negara-Negara Pengekspor Gas (GECF) di Moskow. Namun, Jalali memastikan tidak ada dokumen yang akan ditandatangani kedua kepala negara dalam kunjungan tersebut.
Persoalan krisis pangan Iran juga mendapat perhatian dari mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Dalam kuliah umum di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, Jumat (23/10/2026), JK menekankan pentingnya nilai kemanusiaan yang melampaui batas negara, ras, etnis, dan agama dalam menghadapi krisis global. Ia menyoroti bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak konflik dan bencana alam. “Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global. Kemanusiaan melampaui batas negara, ras, etnis, agama, dan afiliasi apa pun,” ujar JK di hadapan sekitar 100 mahasiswa dan dosen.
JK, yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), mengingatkan bahwa ancaman bencana alam seperti El Niño dapat memicu kekeringan, menurunkan produksi pertanian, dan meningkatkan risiko kelangkaan pangan. Dampaknya dapat meluas melalui gangguan pasokan dan kenaikan harga. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya antisipasi dini melalui pemetaan risiko, perhitungan kebutuhan, serta penyusunan rencana mitigasi yang sesuai dengan kondisi setiap wilayah. “Penanganan bencana tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Harus ada program dan perencanaan yang sistematis, berdasarkan pemetaan risiko dan kondisi masing-masing daerah,” tegasnya.
Dalam konteks krisis pangan Iran, pesan JK relevan untuk menggugah solidaritas internasional. Konflik bersenjata yang berkepanjangan tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga mengancam hak dasar manusia atas pangan. Masyarakat sipil Iran, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, menjadi pihak yang paling terdampak. Organisasi kemanusiaan internasional pun menghadapi tantangan berat untuk menyalurkan bantuan akibat pembatasan akses dan situasi keamanan yang tidak stabil.
Sejumlah pengamat menilai bahwa penyelesaian krisis pangan Iran tidak dapat dilepaskan dari upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik. Dialog tanpa tekanan dan ancaman menjadi prasyarat yang diajukan Teheran untuk membuka perundingan damai. Namun, dengan sinyal kemungkinan serangan baru dari AS, prospek perdamaian masih jauh dari harapan. Di sisi lain, kerja sama ekonomi dengan Rusia—terutama dalam kerangka Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan—diharapkan dapat menjadi jalur alternatif untuk menjaga pasokan pangan dan energi Iran di tengah blokade.
Krisis pangan Iran juga menjadi cermin bagi masyarakat global bahwa ketahanan pangan adalah fondasi stabilitas suatu negara. Tanpa akses pangan yang memadai, gejolak sosial dan politik hampir pasti terjadi. Oleh karena itu, komunitas internasional didorong untuk tidak hanya fokus pada aspek militer, tetapi juga pada upaya kemanusiaan dan pembangunan kapasitas. Seperti disampaikan JK, semangat, strategi, dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi turut menentukan kemampuan suatu bangsa menghadapi krisis. Namun, di atas semua itu, nilai kemanusiaan harus tetap menjadi landasan utama.
Dengan perang yang masih berkecamuk dan tekanan ekonomi yang semakin menghimpit, masa depan krisis pangan Iran bergantung pada seberapa cepat konflik dapat diselesaikan melalui jalur dialog. Pertemuan Pezeshkian-Putin di Moskow menjadi salah satu harapan untuk memperkuat ketahanan pangan melalui kerja sama regional. Namun, tanpa perdamaian yang hakiki, upaya tersebut hanya akan menjadi penawar sementara. Dunia menanti langkah nyata para pemimpin untuk mengakhiri penderitaan rakyat Iran dan memastikan bahwa kemanusiaan benar-benar melampaui batas negara.
