Ratri-Hikmat Emas Ganda Bersejarah, Indonesia Tutup Asian Para Games 2026 dengan 15 Emas
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Pasangan para bulu tangkis Indonesia, Leani Ratri Oktila/Hikmat Ramdani, menorehkan sejarah baru lewat Ratri-Hikmat emas ganda di nomor ganda campuran SL3-SU5 Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Kemenangan dramatis atas wakil India, Thulasimathi Murugesan/Nitesh Kumar, dengan skor 11-21, 21-19, dan 21-14 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jepang, Jumat (23/10/2026), memastikan Ratri meraih emas ganda campuran dalam empat edisi berturut-turut.
Prestasi Ratri-Hikmat emas ganda ini melanjutkan dominasi Ratri sejak Incheon 2014, berlanjut di Jakarta 2018, Hangzhou 2022, hingga Aichi-Nagoya 2026. Laga final berlangsung sengit selama 51 menit. Meski unggul tipis dalam total poin, India justru mengumpulkan 54 poin berbanding 53 milik Indonesia, dengan reli terpanjang mencapai 90 detik.
“Sebenarnya hasil emas ini, kalau saya sama Hikmat secara pribadi sudah menargetkan emas. Cuma saya tidak expect kalau tekanan di dalam lapangan sebesar ini,” ujar Ratri.
Ratri mengakui sempat tegang di awal laga, terlebih ia baru saja kalah di final tunggal putri dan harus puas dengan medali perak pada hari yang sama. Namun, dukungan penonton Indonesia di tribun menjadi pemantik semangatnya untuk bangkit.
“Di poin-poin awal saja, ketika senyap, saya tahu penonton Indonesia banyak. Tapi ketika ada suara itu, tetap menambah motivasi,” kata Hikmat. Menurutnya, kunci comeback terletak pada ketenangan dan komunikasi yang lebih baik di lapangan.
Keberhasilan Ratri-Hikmat emas ganda menjadi bagian dari tiga medali emas yang disumbangkan tim para bulu tangkis Indonesia. Dua emas lainnya diraih pasangan Muh Al Imran/Suryo Nugroho di ganda putra SL3-SU5 serta Subhan/Rina Marlina di ganda campuran SH6.
Imran/Suryo membuktikan kemampuan sebagai duet baru dengan mengalahkan pasangan Korea Selatan, Shin Kyung Hwan/Cho Nadan, dua gim langsung 25-23 dan 21-8. “Saya sama Imran juga punya tekad yang sama, kami harus membuktikan di sini, kami nggak bisa dianggap remeh,” kata Suryo.
Secara keseluruhan, Indonesia menutup Asian Para Games 2026 dengan 15 medali emas, 21 perak, dan 37 perunggu. Total 73 medali itu melampaui target awal pemerintah yang mematok tujuh emas, delapan perak, dan 17 perunggu, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia di peringkat kedelapan klasemen akhir.
| Cabang Olahraga | Jumlah Emas |
|---|---|
| Boccia | 4 |
| Para Atletik | 3 |
| Para Bulu Tangkis | 3 |
| Para Renang | 3 |
| Para Balap Sepeda | 1 |
| Para Tenis Meja | 1 |
Medali emas terakhir Indonesia dipersembahkan tim boccia beregu campuran BC1/BC2 yang diperkuat Muhammad Syafa, Gischa Zayana, dan Felix Ardi Yudha. Mereka mengalahkan wakil Thailand dengan skor 11-3 pada partai final, Sabtu (24/10/2026). Hasil itu memastikan Indonesia finis tepat di bawah Thailand yang berada di urutan ketujuh dengan 19 emas, 40 perak, dan 66 perunggu.
Boccia menjadi cabang paling produktif dengan empat emas. Selain emas beregu, tiga emas lainnya diraih Handayani (tunggal putri BC1), Gischa Zayana (tunggal putri BC2), dan Felix Ardi Yudha (tunggal putra BC2). Cabang para atletik, para bulu tangkis, dan para renang masing-masing menyumbangkan tiga emas.
Dari para atletik, emas diraih I Kadek Yasa (lempar cakram putra F57), Karisma Evi Tiarani (100 meter putri T63), serta Partin Muhlisin (100 meter putra T63). Sementara dari para renang, Maulana Rifky Yavianda meraih dua emas melalui 100 meter gaya punggung S12 dan 100 meter gaya bebas S12, ditambah satu emas Abdil Majid Rahman dari 100 meter gaya dada SB7.
Bagi Ratri, Nagoya melengkapi koleksinya dengan satu medali dari setiap warna. Total ia kini mengoleksi 12 medali Asian Para Games, terdiri dari 6 emas, 4 perak, dan 2 perunggu. Usai ajang ini, Ratri dan Hikmat langsung menatap target berikutnya, yakni mempertahankan kejayaan di Paralimpiade Los Angeles 2028.
“Semoga saya sehat, lebih kesehatan untuk bisa tampil di LA. Target otomatis saya sekarang untuk bisa tampil di LA,” tegas Ratri.
Dengan torehan Ratri-Hikmat emas ganda yang bersejarah serta lonjakan perolehan medali yang melampaui target, kontingen Indonesia membuktikan kualitas atlet disabilitas nasional di panggung Asia. Capaian ini menjadi modal berharga untuk terus berprestasi di ajang-ajang internasional berikutnya.
