Typhoon Champi Amuk Taiwan: 1 Tewas, 527 Luka, 288 Ribu Rumah Gelap Gulita
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Topan super taiwan typhoon champi telah melintas di lepas pantai timur laut Taiwan dan meninggalkan jejak kerusakan yang signifikan. Badai yang sempat berstatus super typhoon ini menyebabkan satu orang tewas, lebih dari 500 orang luka-luka, serta memicu pemadaman listrik besar-besaran dan gangguan penerbangan di seluruh Asia Timur. Peristiwa taiwan typhoon champi ini menjadi salah satu badai terkuat yang tercatat di kawasan Pasifik pada tahun ini.
Menurut Administrasi Cuaca Pusat (CWA) Taiwan, taiwan typhoon champi mendekati pantai Yilan County pada Sabtu dini hari sebelum berbelok ke selatan dan melakukan manuver unik berupa putaran di lepas pantai, kemudian bergerak menjauh ke arah utara. Pusat badai berada sekitar 170 kilometer di timur laut Taiwan dengan hembusan angin mencapai 126 km/jam di dekat pusatnya, meskipun kekuatannya terus melemah. Di beberapa wilayah pesisir, hembusan angin bahkan tercatat mencapai 227 km/jam, yang merobohkan jaringan listrik dan menerbangkan genteng rumah warga.
Dinas Pemadam Kebakaran Taiwan melaporkan bahwa korban meninggal adalah seorang pria yang terseret ombak di Pulau Liuqiu. Sementara itu, jumlah korban luka mencapai 527 orang, termasuk 21 warga negara asing, menurut keterangan kepolisian setempat. Sebelumnya, laporan pada Jumat (23/10) menyebutkan angka sementara satu tewas dan 171 luka, namun jumlah tersebut terus bertambah seiring badai yang meluas. Otoritas juga mencatat sekitar 1.000 orang telah dievakuasi dari wilayah rawan bencana.
Dampak taiwan typhoon champi juga terasa pada sektor penerbangan. Lebih dari 1.000 penerbangan di seluruh Asia Timur dibatalkan, dan aktivitas di hampir seluruh Taiwan terhenti. Sekolah, kantor pemerintah, dan pasar keuangan tutup di pulau berpenduduk 23 juta jiwa tersebut. Perusahaan listrik negara Taipower melaporkan lebih dari 288.000 rumah sempat kehilangan aliran listrik, meskipun sebagian besar telah kembali tersambung. Di Kota Suao, Kepala Pelabuhan Lee Ming-chen menyatakan bahwa militer akan dikerahkan bila diperlukan, termasuk menggunakan kendaraan amfibi untuk evakuasi dan bantuan bencana.
Peringatan cuaca ekstrem terus disampaikan. Forecaster memperkirakan hujan lebat akan berlanjut hingga Sabtu malam, dengan curah hujan ‘ekstrem’ di Taiwan utara dan timur laut. James Caron, Direktur Operasi Meteorologi Atmospheric G2 untuk Amerika Utara dan Asia, menegaskan bahwa ancaman terbesar adalah hujan ekstrem di wilayah tersebut. Di sisi lain, badai ini juga memengaruhi negara tetangga: sekitar 8.400 rumah tangga di Prefektur Okinawa, Jepang selatan, mengalami pemadaman listrik, dan gelombang besar menghantam komunitas pesisir di Kepulauan Batanes, Filipina utara, hingga menutup beberapa ruas jalan.
Dampak internasional juga dirasakan oleh warga Malaysia. Kementerian Luar Negeri Malaysia melaporkan dua warga negaranya mengalami luka ringan akibat taiwan typhoon champi dan sedang menjalani perawatan medis. Pusat Persahabatan dan Perdagangan Malaysia (MFTC) di Taipei memberikan bantuan konsuler kepada keduanya dan berkoordinasi dengan kelompok mahasiswa Malaysia serta otoritas setempat. Warga Malaysia diimbau menghindari area pesisir dan pegunungan, memantau peringatan cuaca, serta memeriksa status penerbangan sebelum bepergian.
Meskipun tidak mendarat langsung di daratan Taiwan, taiwan typhoon champi tetap meninggalkan kerusakan parah, termasuk pohon-pohon tumbang dan bangunan sementara untuk upacara keagamaan Tao yang runtuh di Keelung. Badai ini sebelumnya mencapai puncak kecepatan angin berkelanjutan 298 km/jam, setara dengan badai Kategori 5, dan menyamai Super Typhoon Sinlaku sebagai badai terkuat yang terbentuk di cekungan mana pun tahun ini. Jalur prakiraan menunjukkan badai akan berbelok ke utara menyusuri pantai China dan akhirnya bergerak menuju Jepang selatan.
Dengan melemahnya intensitas taiwan typhoon champi, otoritas setempat tetap waspada terhadap potensi banjir dan tanah longsor susulan. Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan mematuhi instruksi evakuasi. Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya ancaman bencana hidrometeorologi di kawasan Asia Timur, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas negara dalam menghadapi badai ekstrem.
