Grup Salim Gelontorkan Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Sinyal Apa di Baliknya?
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Langkah besar kembali diambil oleh salah satu konglomerasi terkemuka di Tanah Air. Melalui tiga emiten afiliasinya, buyback saham Grup Salim disiapkan dengan anggaran total mencapai Rp2,25 triliun. Aksi korporasi ini dilakukan di tengah kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan, memunculkan pertanyaan menarik tentang strategi alokasi modal grup yang dikendalikan keluarga Salim tersebut.
Ketiga emiten yang terlibat adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Masing-masing perusahaan menetapkan plafon anggaran maksimal Rp750 miliar, sehingga total dana yang disiapkan mencapai Rp2,25 triliun. Seluruh pendanaan buyback saham Grup Salim ini sepenuhnya bersumber dari kas internal perusahaan tanpa melibatkan utang baru.
Jadwal dan Mekanisme Pelaksanaan
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis Jumat, 23 Oktober 2026, program pembelian kembali saham dijadwalkan berlangsung melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026. Ketiga perusahaan membatasi jumlah saham yang akan dibeli kembali maksimal 20 persen dari modal disetor, dengan tetap memperhatikan ketentuan free float atau saham beredar di publik.
Menariknya, ada satu emiten lain yang turut ambil bagian dalam gelombang aksi korporasi ini. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga berencana melakukan buyback dengan anggaran maksimal Rp1 triliun. Periode pelaksanaan AMMN diperkirakan berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027, atau paling lama tiga bulan sejak tanggal penerbitan keterbukaan informasi. Dengan harga saham pada tanggal keterbukaan informasi, jumlah saham yang diperkirakan dibeli kembali tidak lebih dari 0,37 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Dampak terhadap Laba per Saham
Salah satu konsekuensi paling langsung dari aksi buyback saham Grup Salim adalah potensi kenaikan laba per saham atau earnings per share (EPS). Apabila jumlah saham beredar menyusut setelah pembelian kembali, laba perusahaan akan terbagi ke jumlah saham yang lebih sedikit. Manajemen memperkirakan EPS LSIP dapat meningkat dari Rp131 menjadi Rp141. Sementara itu, EPS INDF diproyeksikan naik dari Rp538 menjadi Rp545, sedangkan ICBP diperkirakan meningkat dari Rp317 menjadi Rp321.
Untuk AMMN, proforma yang disajikan perusahaan memproyeksikan laba per saham naik dari 0,003436 dolar AS menjadi 0,003441 dolar AS per saham. Meski demikian, proyeksi tersebut tetap bergantung pada realisasi buyback dan perkembangan kinerja masing-masing perusahaan. Kenaikan EPS juga tidak serta-merta menjamin kenaikan harga saham di pasar.
Skala Keuangan dan Ketahanan Kas
Besarnya alokasi dana perlu dilihat berdasarkan skala keuangan masing-masing emiten. Hingga akhir Juni 2026, LSIP memiliki total aset Rp16,29 triliun dan ekuitas Rp14,32 triliun. INDF tercatat membukukan aset Rp231,24 triliun dengan ekuitas Rp124,71 triliun. Adapun ICBP memiliki aset Rp143,97 triliun dan ekuitas Rp75,27 triliun.
| Emiten | Anggaran Buyback | Total Aset | Ekuitas | Proyeksi EPS |
|---|---|---|---|---|
| LSIP | Rp750 miliar | Rp16,29 triliun | Rp14,32 triliun | Rp131 ke Rp141 |
| INDF | Rp750 miliar | Rp231,24 triliun | Rp124,71 triliun | Rp538 ke Rp545 |
| ICBP | Rp750 miliar | Rp143,97 triliun | Rp75,27 triliun | Rp317 ke Rp321 |
| AMMN | Rp1 triliun | – | – | 0,003436 ke 0,003441 dolar AS |
Ketiga perusahaan menyatakan kondisi permodalan dan arus kas masih mencukupi untuk mendukung kegiatan operasional setelah pelaksanaan buyback. Manajemen meyakini aksi korporasi ini tidak akan membawa dampak material yang merugikan terhadap kegiatan usaha, operasional, maupun pertumbuhan perseroan pada masa mendatang.
Membaca Sinyal di Balik Buyback
Pengumuman ini muncul setelah saham INDF turun 2,53 persen dan ICBP turun 10,15 persen dalam satu bulan terakhir. Divergensi tersebut menjadi petunjuk paling informatif dari keterbukaan informasi. Konteks makro turut memperkuat pembacaan ini: rupiah berada di level 18.050 terhadap dolar, Brent diperdagangkan di US$111,70, dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di 4,96 persen. Kombinasi tersebut menaikkan biaya bahan baku impor sekaligus menekan selera risiko terhadap aset pasar berkembang.
Bagi produsen mi dan makanan kemasan, beban gandum, susu, dan kemasan yang didenominasi dolar naik justru ketika daya beli konsumen belum pulih. Di sinilah makna plafon Rp750 miliar per emiten: nilainya cukup untuk menopang harga di pasar yang tipis, tetapi tidak cukup untuk mengubah struktur permodalan. IHSG yang berada di 5.439 dengan penguatan 0,95 persen memberi latar bahwa buyback saham Grup Salim ini berjalan di pasar yang sedang mencoba bangkit, bukan di tengah kepanikan.
Pilihan instrumennya juga berbicara banyak. Buyback, bukan dividen, berarti grup memilih menyerap saham di pasar ketimbang membagikan kas ke pemegang saham. Bagi pemegang saham pengendali, mekanisme ini menaikkan porsi kepemilikan secara proporsional tanpa mengeluarkan dana pribadi dan tanpa menanggung konsekuensi pajak dividen. Anthoni Salim yang menempati posisi direktur utama di kedua perusahaan menegaskan bahwa keputusan alokasi modal ini diambil dari satu meja yang sama, bukan dua korporasi yang bergerak independen.
Ada pula dimensi kepatuhan yang jarang disorot. Manajemen secara eksplisit menyebut plafon 20 persen modal disetor dan syarat free float, pengingat bahwa ruang buyback emiten dengan kepemilikan keluarga terkonsentrasi kini dibatasi oleh aturan likuiditas pasar. Setiap pembelian kembali yang agresif berpotensi menurunkan porsi saham beredar di publik, yang berdampak pada bobot indeks dan kelayakan bagi investor institusi.
Dari sisi akuntansi, saham yang dibeli kembali akan dicatat sebagai saham treasuri sehingga komposisi aset dan ekuitas mengalami perubahan. Penggunaan dana untuk buyback juga akan mengurangi kas yang tersedia bagi perusahaan. Kas internal yang dipakai buyback adalah kas yang sama yang seharusnya menopang dividen tahun depan, sehingga investor perlu menggeser cara membaca fundamental emiten-emiten ini.
Secara keseluruhan, buyback saham Grup Salim senilai total Rp2,25 triliun ini lebih tepat dibaca sebagai upaya menjaga harga saham dan memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham, ketimbang sinyal bahwa saham sedang undervalue secara fundamental. Aksi ini menunjukkan bahwa grup sebesar Indofood memilih membelanjakan kas untuk mempertahankan valuasi, bukan untuk ekspansi kapasitas atau membagikan dividen lebih besar. Itu adalah pernyataan tidak langsung tentang prospek permintaan domestik: ketika produsen makanan terbesar negeri menahan diri dari belanja modal dan memilih menyerap sahamnya sendiri, sinyalnya adalah kehati-hatian terhadap daya beli, bukan keyakinan pada pertumbuhan. Besarnya dana yang benar-benar terserap nantinya akan menentukan dampak aktual terhadap posisi keuangan masing-masing emiten, dan pasar tentu akan mencermati realisasinya hingga akhir tahun.
Editor: Sukri Mustakim
