Harga Emas Dunia Terancam Anjlok ke USD 3.884, Antam Bisa Rp 2,39 Juta: Sinyal Bahaya bagi Investor Emas
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Harga emas dunia terancam anjlok ke USD 3.884, Antam bisa Rp 2,39 juta menjadi sorotan utama para investor logam mulia pada pekan keempat Oktober 2026. Setelah sempat bertahan di level atas, tekanan terhadap komoditas safe haven ini kian menguat di tengah gejolak pasar energi dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Pengamat Ekonomi dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan emas masih berpotensi berlanjut dan bahkan berpeluang mencatatkan posisi terendah sepanjang periode 2025–2026.
Pada penutupan Sabtu pagi, harga emas dunia berada di level USD 3.997 per troy ons. Menurut Ibrahim, apabila terjadi koreksi, level support pertama berada di USD 3.951 per troy ons, dan dalam sepekan harga berpotensi turun lebih dalam menuju USD 3.884 per troy ons. Jika level tersebut tertembus, maka harga emas dunia terancam anjlok ke USD 3.884, Antam bisa Rp 2,39 juta akan menjadi kenyataan yang harus diantisipasi oleh para pemegang emas.
Di sisi lain, apabila harga emas kembali menguat, level resistensi pertama diperkirakan berada di USD 4.053 per troy ons. Penguatan berpotensi berlanjut hingga USD 4.138 per troy ons dalam sepekan ke depan. Dengan demikian, emas dunia diperkirakan bergerak dalam rentang USD 3.884 hingga USD 4.138 per troy ons.
Tekanan dari Lonjakan Harga Minyak dan Inflasi
Pelemahan emas tidak terjadi tanpa sebab. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari USD 2 per barel setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran konflik meluas dan gangguan pasokan. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi, sementara emas yang biasanya menjadi lindung nilai justru kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Analis ANZ, Soni Kumari, menilai harga emas masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan di tengah ketidakpastian pasar energi. Data inflasi konsumen dan produsen AS yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan turut memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Meski pejabat bank sentral AS diperkirakan belum menaikkan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026, Goldman Sachs memperkirakan kenaikan 25 basis poin masih terjadi pada Desember, dengan kisaran suku bunga puncak mencapai 4%–4,25%.
Tekanan juga datang dari penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Indeks dolar menguat tipis ke 101,98, sementara yield Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke 5,14%. Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menyebut kekhawatiran bahwa bank sentral perlu kembali memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi turut mendorong kenaikan yield obligasi.
Dampak ke Harga Emas Antam
Pergerakan harga emas dunia tersebut diperkirakan turut memengaruhi harga logam mulia di dalam negeri. Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) ditutup di level Rp 2.525.000 per gram pada Sabtu pagi. Jika mengalami koreksi, harga emas Antam diperkirakan turun menuju Rp 2.505.000 per gram atau berkurang sekitar Rp 20.000. Bahkan, dalam sepekan ke depan, harganya berpotensi merosot hingga Rp 2.390.000 per gram.
Berikut proyeksi pergerakan harga emas Antam dalam sepekan ke depan:
| Skenario | Harga Emas Antam (per gram) |
|---|---|
| Koreksi jangka pendek | Rp 2.505.000 |
| Koreksi dalam sepekan (terendah) | Rp 2.390.000 |
| Penguatan level pertama | Rp 2.545.000 |
| Penguatan dalam sepekan (tertinggi) | Rp 2.690.000 |
Dengan rentang tersebut, harga emas dunia terancam anjlok ke USD 3.884, Antam bisa Rp 2,39 juta menjadi peringatan bagi investor yang selama ini menjadikan emas sebagai instrumen investasi utama. Ibrahim menegaskan bahwa logam mulia kemungkinan ditransaksikan di rentang Rp 2.390.000 per gram hingga Rp 2.690.000 per gram pada pekan depan.
Antisipasi Investor di Tengah Ketidakpastian
Meski demikian, pelemahan emas tidak selamanya menjadi kabar buruk. Bagi calon pembeli, koreksi harga justru menjadi peluang untuk mengakumulasi logam mulia di level yang lebih murah. Sebaliknya, investor yang telah memiliki emas perlu mencermati arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor penentu utama.
Pasar juga mencermati peluang kenaikan suku bunga pada Desember yang diperkirakan mencapai 80% berdasarkan CME FedWatch Tool. Nada pernyataan dan arahan kebijakan The Fed akan sangat menentukan apakah tekanan terhadap emas berlanjut atau justru berbalik menguat.
Secara keseluruhan, pergerakan emas pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor energi, inflasi, dan kebijakan moneter. Wacana bahwa harga emas dunia terancam anjlok ke USD 3.884, Antam bisa Rp 2,39 juta sejatinya mencerminkan tingginya volatilitas pasar yang menuntut kehati-hatian. Investor disarankan tidak mengambil keputusan terburu-buru, melainkan memantau perkembangan data ekonomi dan geopolitik secara berkala. Dengan strategi yang matang, gejolak harga emas dapat dijadikan momentum untuk menyeimbangkan portofolio, baik saat harga tertekan maupun ketika kembali menguat.
