Deretan 8 Emiten Umumkan Buyback Saham, dari Grup Barito hingga BCA [titlebase], Siapkan Dana Jumbo di Tengah Gejolak MSCI
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Gelombang aksi korporasi pembelian kembali saham atau buyback tengah memanaskan bursa domestik. Sepanjang periode 19 hingga 23 Oktober 2026, tercatat Daftar 8 emiten umumkan buyback saham, dari grup Barito hingga BCA [titlebase] sebagai langkah strategis menstabilkan harga saham di tengah tekanan pasar. Aksi ini muncul tak lama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang langsung memicu koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 16 Oktober 2026.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa Daftar 8 emiten umumkan buyback saham, dari grup Barito hingga BCA [titlebase] mencakup perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, telekomunikasi, energi baru terbarukan, pertambangan, hingga barang konsumsi. Nilai dana yang disiapkan pun tidak tanggung-tanggung, mencapai belasan triliun rupiah secara agregat.
Grup Barito hingga BCA Kompak Belanja Saham
Konglomerat Prajogo Pangestu melalui Grup Barito menjadi salah satu pemain utama. Empat emiten afiliasinya, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), menyiapkan dana gabungan sekitar Rp3,5 triliun. Rinciannya, BREN dan BRPT masing-masing mengalokasikan hingga Rp1 triliun, TPIA Rp1 triliun, dan CUAN Rp500 miliar. Seluruh program berlangsung pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, dengan sumber dana dari kas internal.
Menariknya, nilai buyback tersebut jauh melampaui denda Rp600 miliar yang harus dibayarkan Prajogo kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait tindak pidana di pasar modal yang terbukti dilakukan oleh BREN dan CUAN. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Dari sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperpanjang pelaksanaan buyback yang semula berakhir 21 Oktober menjadi 23 Oktober 2026. Aksi ini merupakan kelanjutan program April dan Juni 2026, bagian dari persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 12 Maret 2026 dengan periode keseluruhan hingga 11 Maret 2027. Tak hanya BCA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga menyampaikan langkah serupa untuk mendukung stabilisasi pasar modal.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melaporkan telah menyelesaikan pembelian kembali 15,96 juta saham pada 20 Oktober 2026. Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas memutuskan menggelar buyback senilai Rp1 triliun untuk periode 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027, setelah sahamnya menjadi bulan-bulanan tekanan MSCI.
Rincian Dana Buyback Sejumlah Emiten
| Emiten | Sektor / Grup | Alokasi Dana Buyback | Periode Pelaksanaan |
|---|---|---|---|
| BBCA | Perbankan | Perpanjangan program | Hingga 23 Oktober 2026 |
| TLKM | Telekomunikasi | 15,96 juta saham | Selesai 20 Oktober 2026 |
| BREN | Grup Barito | Rp1 triliun | 19 Okt – 31 Des 2026 |
| BRPT | Grup Barito | Rp1 triliun | 19 Okt – 31 Des 2026 |
| TPIA | Grup Barito | Rp1 triliun | 20 Okt 2026 – 19 Jan 2027 |
| CUAN | Grup Barito | Rp500 miliar | 19 Okt – 31 Des 2026 |
| UNTR | Grup Astra | Rp2 triliun | 1 Okt – 31 Des 2026 |
| AALI | Grup Astra | Rp400 miliar | 2 Okt – 28 Des 2026 |
| DSSA | Grup Sinar Mas | Rp1 triliun | 19 Okt 2026 – 18 Jan 2027 |
Selain Grup Barito, emiten Grup Astra turut ambil bagian. PT United Tractors Tbk (UNTR) menyiapkan Rp2 triliun dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengalokasikan Rp400 miliar, dengan total mencapai Rp2,4 triliun. Dengan demikian, Daftar 8 emiten umumkan buyback saham, dari grup Barito hingga BCA [titlebase] benar-benar mencerminkan semarak aksi korporasi lintas konglomerasi.
Intensitas Buyback Lampaui Program Tahunan Bank Besar
Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dipublikasikan 21 Oktober 2026 mencatat lima emiten menjalankan program buyback baru dengan total dana Rp4,5 triliun, yaitu DSSA, BREN, BRPT, TPIA, dan CUAN. Jika dana tersebut dibelanjakan merata sepanjang periode pelaksanaan, nilai pembelian diperkirakan mencapai sekitar Rp1,8 triliun per bulan.
“Kelima program baru berjalan dalam 2-3 bulan. Bila tersebar merata, intensitasnya 2x program tahunan BBCA, TLKM, BMRI, dan BBNI yang sekitar Rp0,9 triliun per bulan,” tulis riset tersebut. Empat emiten afiliasi Prajogo Pangestu mendominasi dengan alokasi sekitar Rp3,5 triliun atau setara 78 persen dari total dana lima program baru.
Manajemen BRPT menegaskan bahwa buyback tidak akan berdampak negatif secara material terhadap kinerja operasional maupun pendapatan perseroan. “Pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kinerja operasional dan pendapatan Perseroan karena Perseroan memiliki modal kerja dan arus kas yang mencukupi,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI. Sementara CUAN menyatakan akan menyimpan saham hasil buyback sebagai saham treasuri dan mengalihkannya dalam waktu tiga tahun sejak berakhirnya periode buyback.
Pengamat pasar menilai langkah kolektif ini menjadi bantalan penting bagi IHSG. Di tengah sentimen global yang kurang bersahabat, kehadiran Daftar 8 emiten umumkan buyback saham, dari grup Barito hingga BCA [titlebase] memberikan sinyal bahwa emiten-emiten besar masih percaya pada fundamental ekonomi domestik dan siap menopang permintaan saham di pasar sekunder.
Secara keseluruhan, gelombang buyback ini menunjukkan respons cepat dunia usaha terhadap gejolak pasar. Mulai dari Grup Barito, Grup Astra, Grup Sinar Mas, hingga bank-bank besar seperti BCA, BNI, dan BTN, semuanya bergerak serempak. Bagi investor, aksi ini dapat dibaca sebagai indikator kepercayaan diri emiten terhadap valuasi sahamnya sekaligus upaya menjaga stabilitas pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ke depan, efektivitas program akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan kondisi makro yang melingkupinya.
