Rupiah Tembus 18.135 per Dolar AS: Sinyal Bahaya di Balik Amblesnya Mata Uang Garuda
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Pergerakan dollar ke rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan Tanah Air. Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 26 Oktober 2026, nilai tukar rupiah langsung tertekan ke level Rp18.085 per dolar Amerika Serikat, melemah lima poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Tekanan itu tak berhenti di situ. Dalam hitungan menit, kurs rupiah terus merosot hingga menyentuh Rp18.105 per dolar AS pada pukul 09.30 WIB, sebelum akhirnya ditutup melemah 55 poin atau 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar AS.
Pelemahan ini bukan tanpa sebab. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai bahwa kurs rupiah masih tertekan oleh arus keluar dana asing dari pasar ekuitas domestik. Selain itu, ketidakpastian geopolitik yang belum menemukan titik terang turut mendorong harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel. “Kurs rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang 18.050 hingga 18.150 per dolar AS,” ujarnya saat dihubungi wartawan di Jakarta.
Tekanan eksternal memang datang berlapis. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah, terutama serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, membuat pasar energi global gelisah. Harga minyak mentah berjangka Brent sempat melonjak mendekati level tertinggi dalam enam bulan, meski kemudian turun 1,34 persen menjadi US$115,16 per barel. Sepanjang pekan lalu, Brent tercatat naik 6 persen, sementara WTI menguat 2,3 persen. Situasi ini menjadi pukulan tersendiri bagi pergerakan dollar ke rupiah, mengingat Indonesia merupakan importir neto minyak.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa kekhawatiran fiskal kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak global. Menurutnya, kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui peningkatan biaya impor minyak serta beban subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina. Meski ada tambahan penerimaan dari sektor migas, manfaat itu dinilai belum tentu mampu mengimbangi lonjakan belanja energi, terutama bila harga BBM domestik tetap dipertahankan demi menjaga daya beli masyarakat.
Sensitivitas APBN 2026 terhadap gejolak makro pun terbilang tinggi. Setiap kenaikan 0,1 persen yield surat berharga negara berpotensi memperlebar defisit hingga Rp1,9 triliun. Sementara itu, depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar. Belum lagi kenaikan asumsi Indonesian Crude Price yang memiliki sensitivitas terbesar, di mana setiap kenaikan US$1 per barel mampu memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun.
Di sisi lain, gejolak pasar modal domestik turut mewarnai pergerakan dollar ke rupiah. Rencana Morgan Stanley Capital International yang mengkonsultasikan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market sempat membuat investor cemas. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa MSCI bukan satu-satunya lembaga penyedia indeks global yang menjadi rujukan investor. “Banyak rating lain ada S&P, FTSE Russell. Jadi, yang satu tidak bisa mendikte yang lain,” katanya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.
Airlangga menilai pemerintah dapat memitigasi risiko dari usulan tersebut sehingga tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan di pasar modal. Ia bahkan menyebut dalam tiga hari terakhir pasar modal berada dalam jalur hijau, dengan return yang jelas berasal dari dividen yang dibayarkan masing-masing emiten. Namun, para pelaku pasar tampaknya masih menanti langkah konkret, bukan sekadar pernyataan, untuk memulihkan kepercayaan terhadap aset domestik.
Ke depan, pergerakan dollar ke rupiah diperkirakan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS, dengan rentang sepanjang pekan di antara Rp17.900 hingga Rp18.250. Pelaku pasar juga akan mencermati pertemuan Federal Reserve serta rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures inti AS yang dapat memberi petunjuk arah suku bunga selanjutnya.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dari harga minyak dan ketegangan geopolitik, serta tekanan internal dari risiko fiskal dan arus modal keluar, posisi rupiah masih berada di jalur yang menantang. Penguatan fundamental ekonomi, disiplin fiskal, dan kepastian kebijakan menjadi kunci agar pergerakan dollar ke rupiah tidak semakin dalam menggerus daya beli masyarakat dan stabilitas perekonomian nasional.
