Hajduk Split di Pusaran Drama: Ancaman Oknum Suporter hingga Sanksi Berat UEFA
Inforiau – 27 Oktober 2026 | Klub raksasa Kroasia, Hajduk Split, tengah menjadi sorotan bukan hanya karena prestasi di lapangan hijau, tetapi juga rangkaian kontroversi yang melibatkan suporter fanatik mereka. Insiden terbaru datang dari markas besar kelompok pendukung ‘Torcida’ di mana polisi setempat dilaporkan tengah menyelidiki ancaman serius terhadap sejumlah jurnalis. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah laga panas melawan Ajax Amsterdam, memicu kekhawatiran akan keselamatan pers di kawasan tersebut.
Menurut laporan kepolisian yang dikutip media internasional, seorang petinggi fan club Hajduk Split telah ditahan terkait dugaan intimidasi dan ancaman yang dilontarkan melalui pesan digital. Aksi ‘Nazi-Marsch’ atau pawai ala Nazi yang dilakukan sebagian oknum suporter dalam laga kontra Ajax turut memperkeruh suasana. Otoritas setempat menegaskan bahwa penyelidikan akan berjalan transparan dan pelaku akan dijerat dengan pasal berlapis terkait ujaran kebencian serta ancaman kekerasan.
Di sisi lain, performa tim asuhan pelatih anyar ini justru menunjukkan grafik yang menggembirakan di kancah Eropa. Hajduk Split berhasil mencuri kemenangan tipis 1-0 atas tuan rumah Thun di ajang Conference League. Gol tunggal kemenangan dicetak oleh Dalisson de Almeida pada menit ke-17, memanfaatkan kelengahan lini belakang lawan. Meski sempat mendapat hadiah penalti pada menit ke-67, eksekusi Michele Sego berhasil digagalkan oleh kiper Thun, Niklas Steffen. Kemenangan ini membuat Hajduk Split memuncaki klasemen sementara dengan poin sempurna, mengalahkan tim-tim besar Eropa lainnya.
Namun, euforia kemenangan di Eropa harus dibayar mahal dengan sanksi berat dari UEFA. Komisi Disiplin UEFA resmi menjatuhkan hukuman kepada Hajduk Split buntut kerusuhan yang terjadi saat melawan Ajax. Seluruh stadion dilarang menggelar pertandingan kandang untuk laga Conference League berikutnya melawan Sint-Truiden. Tidak hanya itu, klub juga didenda sebesar €80.000 (sekitar Rp1,3 miliar) ditambah denda tambahan €16.000 karena memblokir jalur evakuasi. UEFA juga memberikan sanksi percobaan yang akan aktif kembali jika terjadi insiden serupa di masa depan.
Kombinasi antara prestasi gemilang dan masalah disiplin membuat Hajduk Split menjadi klub yang paling banyak diperbincangkan di Eropa saat ini. Pelatih dan manajemen klub dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk merespons sanksi UEFA serta insiden yang melibatkan suporter. Mereka berjanji akan melakukan pembinaan internal dan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menjaga nama baik klub.
Masyarakat sepak bola Kroasia berharap agar Hajduk Split dapat segera keluar dari pusaran kontroversi ini. Dukungan moral terus mengalir dari para legenda klub, termasuk mantan pemain yang kini menjadi komentator. Mereka menekankan bahwa prestasi di lapangan harus menjadi prioritas utama, sementara masalah di luar lapangan harus diselesaikan dengan kepala dingin dan sesuai koridor hukum.
Ke depan, jadwal padat akan menjadi ujian tersendiri bagi Hajduk Split. Mereka dijadwalkan menghadapi FC Midtjylland pada 17 Desember 2026 di MCH Arena. Laga ini diprediksi berjalan sengit mengingat kedua tim memiliki motivasi tinggi untuk mengamankan posisi di papan atas. Tanpa dukungan penuh suporter di stadion, Hajduk Split dituntut untuk tampil lebih disiplin dan fokus agar tetap meraih hasil maksimal.
Sebagai penutup, kisah Hajduk Split menjadi cermin bahwa sepak bola tidak pernah lepas dari dinamika sosial. Klub sebesar Hajduk Split memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik suporter dan menjaga sportivitas. Semoga insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, dan sepak bola Kroasia dapat kembali menorehkan prestasi tanpa noda.
