Dolar Menggila, Rupiah Tembus Rp18.135 dan Ancaman Mahalnya Harga Pangan di Depan Mata
Inforiau – 27 Oktober 2026 | Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali memanas. Pada perdagangan Senin (26/10), rupiah ditutup melemah ke level Rp18.135 per dolar AS, turun 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.080 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ekonom menilai ada sejumlah faktor yang membuat mata uang Garuda terus tertekan. Harga minyak Brent yang berada di kisaran US$115 per barel, setelah sempat menyentuh US$116, menjadi salah satu pemicu utama. Kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dolar untuk membiayai impor energi Indonesia ikut melonjak. Di sisi lain, harga minyak mentah Indonesia (ICP) mencapai US$91,9 per barel pada akhir September, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.
Dampaknya terasa pada beban fiskal negara. Belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September mencapai Rp376,8 triliun, naik 54,1 persen secara tahunan. “Selisih yang cukup lebar ini meningkatkan risiko pelebaran defisit dan mempersempit ruang fiskal pemerintah,” ujar Yusuf, ekonom yang mengamati pergerakan pasar, kepada awak media di Jakarta.
Tekanan juga datang dari pasar modal. Ketidakpastian terkait rencana MSCI yang menyangkut transparansi kepemilikan saham dan struktur perdagangan turut menggerus kepercayaan investor. Arus keluar dana asing dari pasar obligasi tercatat sebesar US$203 juta pada 21 Oktober, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 1 persen pada Senin (26/10). Menurut Yusuf, tekanan rupiah tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh penguatan dolar AS. Sebab, ketika indeks dolar AS justru melemah, rupiah masih saja tertekan. Ini menandakan ada persoalan struktural di dalam negeri yang perlu dibenahi.
Gejolak serupa juga melanda sejumlah negara lain, memperlihatkan betapa rapuhnya pasar negara berkembang terhadap sentimen global. Di Brasil, pengumuman hasil pemilihan presiden memicu kepanikan pasar. Indeks Bovespa (IBovespa) sempat ambruk lebih dari 17 persen hingga memicu circuit breaker untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19, sebelum akhirnya ditutup turun 13,88 persen di level 176.068 poin. Nilai kapitalisasi pasar emiten di B3 tergerus hingga Rp734 miliar dalam sehari.
Nilai tukar dolar komersial Brasil melesat 8,21 persen ke R$5,4029, kenaikan harian terbesar sejak 1999, sementara suku bunga berjangka melonjak ke 15 persen per tahun. Pemerintah terpaksa turun tangan mengintervensi pasar surat utang. Meski begitu, sejumlah ekonom menilai kepanikan itu berlebihan. “Pasar perlu matang. Banyak spekulan yang salah bertaruh dan kini menanggung kerugian,” kata Monica de Bolle, peneliti senior Peterson Institute for International Economics, menegaskan bahwa fundamental negara tidak dalam kondisi bangkrut.
Di Argentina, gejolak politik Brasil turut merembet. Kementerian Keuangan terpaksa menjual US$100 juta untuk mencegah lonjakan dolar resmi yang bisa merambat ke inflasi. Nilai tukar dolar resmi naik 0,7 persen ke 1.560 peso, sementara kurs paralel (blue) berada di 1.575 peso dan dolar kartu menyentuh 2.028 peso akibat tambahan persepsi pajak 30 persen. Risiko negara Argentina melonjak 8 persen ke 765 poin, menutup akses ke pasar utang internasional yang semula diharapkan mendatangkan US$5 miliar.
Menariknya, di tengah gempuran tersebut, sejumlah emiten justru diuntungkan. Saham WEG (WEGE3) di Brasil ditutup menguat 4,1 persen ke R$44,53 pada perdagangan yang sama, menjadi salah satu dari sedikit saham yang bertahan di zona hijau. Pendapatan dalam mata uang asing menjadi penopang, dengan pasar luar negeri menyumbang 62,5 persen dari total pendapatan perusahaan pada kuartal ketiga, tertinggi dalam sejarah perseroan. Penjualan di Amerika Utara tumbuh 31,1 persen dalam dolar, didorong permintaan transformator jaringan listrik dan generator cadangan untuk pusat data.
Bagi Indonesia, kombinasi mahalnya minyak dunia, beban subsidi yang membengkak, dan kaburnya modal asing menjadi ujian berat. Pelemahan rupiah yang merembet ke kantong masyarakat berpotensi membuat harga pangan semakin mahal, biaya usaha meningkat, dan peluang kerja menyempit. Tanpa langkah stabilisasi yang konkret, tekanan terhadap dolar dan rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
