Helmond vs Willem II: Drama Tujuh Gol, Gol Salto Haen, dan Kemenangan Pertama yang Penuh Keringat
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Duel helmond vs willem ii di babak pertama Eurojackpot KNVB Beker menjadi malam yang tak akan cepat dilupakan. Di MySteel Stadion, Selasa malam, Willem II akhirnya merasakan kemenangan pertama setelah sepuluh pertandingan beruntun tanpa hasil positif. Namun kemenangan 4-3 atas Helmond Sport itu diraih dengan cara yang jauh dari kata mulus, penuh drama, dan nyaris berubah menjadi bencana di menit-menit akhir.
Bagi Willem II, laga helmond vs willem ii ini datang di tengah badai. Klub klasik yang pernah tampil di Liga Champions 1999 itu terpuruk di dasar klasemen Eredivisie tanpa satu pun kemenangan. Pekan lalu, pelatih John Stegeman kehilangan kursinya, dan di bawah pelatih interim Adrie Koster, tim justru menelan kekalahan memalukan 6-1 dari SC Cambuur di kompetisi domestik. Maka ketika wasit meniup peluit di Helmond, misi Willem II jelas: mengubur luka, apa pun caranya.
Kenyataan di lapangan berkata lain. Baru sembilan menit berjalan, Helmond Sport sudah memimpin. Kesalahan umpan Finn Stam dimanfaatkan Tarik Essakkati, yang kemudian melepas assist kepada Michel Ludwig. Dari luar kotak penalti, Ludwig melepaskan tembakan yang tak mampu dijangkau kiper Maxime Delanghe. Stadion bergemuruh, dan kekhawatiran kembali menyelimuti kubu tamu.
Namun malam itu memang milik Devin Haen. Pada menit ke-30, umpan silang Emre Gürbüz mengarah ke kotak penalti. Alih-alih menyundul, striker Willem II itu memilih melakukan salto spektakuler ala Marco van Basten. Bola melesat deras ke gawang, kiper Menno Bergsen hanya bisa menonton. Gol itu menjadi momen terbaik sepanjang pertandingan helmond vs willem ii dan langsung menyalakan kembali semangat pasukan Tilburg.
Sejak saat itu, Willem II mengambil kendali. Eser Gürbüz mencetak dua gol sebelum jeda, salah satunya berawal dari umpan panjang indah Finn Stam yang menebus kesalahannya di awal laga. Gol bunuh diri pemain Helmond melengkapi keunggulan 1-3 di paruh pertama. Di awal babak kedua, Tonny Vilhena menambah satu gol lagi menjadi 1-4, dan sepertinya pertandingan sudah selesai.
Justru di sinilah drama sesungguhnya dimulai. Helmond Sport, tim peringkat ke-19 Eerste Divisie yang sudah sebelas tahun tak pernah menang di turnamen ini, menolak menyerah. Labinot Bajrami memperkecil kedudukan menjadi 2-4. Petaka kemudian datang bagi Willem II ketika Jaden Slory menerima kartu merah langsung akibat tekel kerasnya. Bermain dengan sepuluh orang, pertahanan Willem II goyah. Bajrami kembali mencetak gol pada menit ke-85, membuat skor menjadi 3-4 dan memaksa jantung para pendukung berdebar kencang hingga peluit akhir.
Kemenangan ini setidaknya menghentikan tren buruk sepuluh laga tanpa kemenangan bagi Willem II. Meski begitu, tantangan sesungguhnya baru akan datang. Di babak kedua, lawan berat sudah menanti, dan performa goyah seperti saat melawan Helmond tentu tak akan cukup. Klub yang pernah melahirkan nama-nama besar seperti Frenkie de Jong dan Virgil van Dijk itu masih harus berbenah besar jika ingin keluar dari jurang degradasi di Eredivisie.
Bagi Helmond Sport, kekalahan ini terasa pahit. Kota kelahiran legenda seperti Berry van Aerle serta Willy dan René van de Kerkhof itu kembali harus menunda mimpi bangkit di panggung nasional. Namun penampilan pantang menyerah mereka, terutama di babak kedua, pantas mendapat apresiasi tersendiri.
Secara keseluruhan, laga helmond vs willem ii menjadi pengingat bahwa sepak bola tak pernah bisa diprediksi. Dari kekalahan 6-1 yang menghancurkan moral, Willem II bangkit lewat gol salto yang menakjubkan, lalu nyaris kehilangan segalanya dalam hitungan menit. Kemenangan tipis ini bukan solusi akhir atas masalah yang mendera, tetapi setidaknya menjadi titik awal untuk kembali berdiri. Kini pertanyaannya: mampukah Willem II mempertahankan momentum, atau justru kembali terpuruk saat menghadapi lawan yang jauh lebih kuat di putaran berikutnya?
