Demo Hari Ini 28 Oktober 2026: Mahasiswa Kepung Jakarta hingga Daerah, Suarakan 'Tepati atau Pergi' di Hari Sumpah Pemuda
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Gelombang demo hari ini mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Ribuan mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil turun ke jalan di sejumlah kota besar, mulai dari Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Bandung, hingga Mataram. Aksi yang berlangsung serentak ini menjadi ajang evaluasi terhadap kinerja pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, dengan isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan hak asasi manusia sebagai tuntutan utama.
Di Jakarta, massa yang mengatasnamakan diri sebagai Komite Sadar memusatkan aksi di Bundaran Hotel Indonesia. Demonstrasi ini diinisiasi oleh kolaborasi BEM UI, BEM KM UPN Veteran Yogyakarta, BEM KM ITB, dan UGM. Aksi tersebut merupakan lanjutan dari unjuk rasa di Tugu Tani pada 20 Oktober lalu. Selain Bundaran HI, titik aksi juga tersebar di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Monas, dan Tugu Tani. Kampanye tajuk “Tepati atau Pergi” digaungkan, sementara simbol tiga jari ala The Hunger Games dipakai sebagai lambang persatuan gerakan prodemokrasi.
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, menyatakan bahwa pihaknya telah menampung berbagai keresahan masyarakat yang dinilai belum mendapat respons memadai dari pemerintah. Lima tuntutan utama yang disuarakan dalam demo hari ini meliputi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pembenahan kebijakan ekonomi, penurunan biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, serta perlindungan kebebasan berpendapat.
Pada sektor lingkungan, mahasiswa mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk karhutla dan bencana ekologis lainnya di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Mereka juga menuntut pengadilan bagi korporasi yang merusak lingkungan demi keuntungan sepihak, serta percepatan one map policy agar transisi energi berjalan adil tanpa mengusir warga dari tanah kelahirannya. “Kita tidak mengerti kenapa pemerintah tidak kunjung menetapkan status bencana nasional, padahal parameter hukum dan manfaatnya sudah jelas,” ujar Namora.
Di sektor ekonomi, BEM UI menyoroti penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar lebih berpihak kepada rakyat. Mahasiswa mendesak penghentian pemborosan anggaran untuk kepentingan politik melalui program populis, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kritik serupa bergema di Mataram, Nusa Tenggara Barat, tempat puluhan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi NTB.
Ketua BEM Universitas Pendidikan Mandalika Mataram, Hasbullah, menilai program MBG menghambur-hamburkan uang negara hingga memicu defisit anggaran dan berdampak pada pemangkasan dana ke daerah. “Akal budi dan akal kritis warga saat ini seolah dianggap beban oleh negara. Hati nurani pejabat di negeri ini telah meninggal,” tegasnya dalam orasi. Ia juga menyoroti peran oligarki di balik bencana karhutla yang terus berulang.
Di Yogyakarta, aksi dijadwalkan melintasi tiga titik utama, yakni gedung DPRD, Istana Negara, hingga kawasan Nol Kilometer. Akun Gejayan Memanggil mengimbau peserta menanggalkan jaket almamater agar sekat eksklusivitas antara mahasiswa dan rakyat biasa hilang. Sementara di Makassar, kemacetan parah melanda Jalan Perintis Kemerdekaan akibat aksi mahasiswa di pintu 1 Universitas Hasanuddin. Kapolda Sulsel, Irjen Muhammad Awal, mengusulkan Lapangan Karebosi sebagai lokasi unjuk rasa untuk menghindari gangguan lalu lintas.
Dari sisi keamanan, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memastikan personel Polri mengedepankan upaya humanis dalam mengawal aksi. Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto juga memerintahkan personel bersikap humanis selama pengamanan demo hari ini. Meski demikian, insiden tetap terjadi di Bandung, di mana tiga anggota polisi terluka akibat serangan sekelompok orang setelah mengamankan unjuk rasa. Penyelidikan kasus penyerangan tersebut masih berlangsung.
Untuk mengantisipasi kemacetan akibat demo hari ini, rekayasa lalu lintas disiapkan di sejumlah ruas jalan ibu kota. Warga yang beraktivitas di Jakarta diimbau memeriksa kondisi lalu lintas sebelum berangkat dan memanfaatkan layanan CCTV Jakarta serta portal BPJT untuk memantau situasi jalan dan tol. Pemantauan melalui kamera membantu pengendara menentukan waktu keberangkatan maupun jalur alternatif.
Fenomena serupa juga terjadi di Eropa. Gelombang unjuk rasa melanda Prancis, Italia, dan Portugal dengan tuntutan biaya hidup dan krisis perumahan. Aksi diwarnai kericuhan dan penangkapan, termasuk pembubaran paksa demonstran di pusat kota Lisbon, Portugal, yang didominasi anak muda. Di Roma, Italia, massa menerobos gerbang Colosseum dan bentrok dengan polisi, sementara Prancis meningkatkan kewaspadaan serta pengerahan pasukan keamanan.
Secara keseluruhan, demo hari ini menunjukkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak hanya diperingati lewat seremoni, tetapi juga melalui penyampaian aspirasi di jalanan. Mahasiswa menegaskan konsistensi gerakan mereka untuk menuntut perubahan nyata, mulai dari penanganan karhutla, keadilan anggaran, hingga perlindungan kebebasan berpendapat. Pemerintah kini dituntut merespons tuntutan tersebut dengan langkah konkret, bukan sekadar janji. Jika tidak, gelombang protes dipastikan akan terus berlanjut di berbagai daerah seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap persoalan bangsa.
