IKTA Berdayakan Kelompok Tani Rejosari Kendalikan Sindrom Metabolik Berbasis IoT
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah (IKTA) mengambil langkah inovatif dengan memberdayakan anggota Kelompok Tani Segar Indah dan Indah Sari di Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau. Melalui program pengabdian masyarakat, IKTA berdayakan kelompok tani Rejosari kendalikan sindrom metabolik berbasis IoT, sebuah pendekatan yang menggabungkan edukasi kesehatan, aktivitas fisik, dan pemantauan kesehatan berbasis Internet of Things (IoT).
Ketua Pelaksana PkM IKTA, Ramdhani Syahputra, dalam pernyataannya Selasa lalu, menjelaskan bahwa program ini hadir untuk menjawab persoalan kesehatan yang kerap dialami para petani, terutama risiko sindrom metabolik seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. “Kami melihat kelompok tani ini memiliki aktivitas fisik tinggi, namun pola makan dan pemantauan kesehatan masih kurang. Oleh karena itu, kami hadir dengan teknologi IoT untuk memudahkan mereka memantau kondisi tubuh secara mandiri,” ujarnya.
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2. Gejalanya meliputi tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kelebihan lemak perut, serta kadar kolesterol yang tidak normal. Para petani di Rejosari, yang sebagian besar berusia lanjut, rentan terhadap kondisi ini karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin.
Program yang dijalankan IKTA ini tidak hanya sebatas penyuluhan. Tim PkM juga memperkenalkan perangkat IoT sederhana yang dapat digunakan untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah, dan berat badan secara otomatis. Data yang terkumpul kemudian dikirim ke aplikasi seluler yang dapat diakses oleh petugas kesehatan dan peserta. Dengan demikian, pemantauan kesehatan menjadi lebih efektif dan real-time.
“Kami melatih anggota kelompok tani untuk menggunakan alat tersebut. Mereka sangat antusias karena bisa langsung melihat hasil pengukuran dan mendapatkan rekomendasi dari tim medis,” tambah Ramdhani. Selain itu, para peserta juga diberikan edukasi tentang pola makan sehat, pentingnya olahraga teratur, dan manajemen stres.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pemerintah setempat dan masyarakat. Kepala Kelurahan Rejosari, yang turut hadir dalam acara pembukaan, menyampaikan apresiasinya kepada IKTA. “Program ini sangat bermanfaat bagi warga kami. Semoga bisa berkelanjutan dan menjadi contoh bagi kelurahan lain,” ujarnya.
IKTA berdayakan kelompok tani Rejosari kendalikan sindrom metabolik berbasis IoT melalui serangkaian kegiatan yang meliputi pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Tim PkM terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, seperti keperawatan, teknologi informasi, dan gizi. Mereka bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk memastikan keberlanjutan program.
Dengan adanya program ini, diharapkan para petani di Rejosari dapat lebih peduli terhadap kesehatan mereka. “Kami ingin menciptakan kesadaran bahwa kesehatan adalah aset berharga. Dengan tubuh yang sehat, produktivitas kerja juga akan meningkat,” kata Ramdhani.
Ke depan, IKTA berencana memperluas jangkauan program ke kelompok tani lain di Pekanbaru. Mereka juga akan mengembangkan sistem IoT yang lebih canggih dan terintegrasi dengan layanan kesehatan primer. “Kami berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dalam mengendalikan sindrom metabolik. Teknologi IoT adalah alat bantu, tetapi yang terpenting adalah perubahan perilaku,” tutupnya.
Program IKTA berdayakan kelompok tani Rejosari kendalikan sindrom metabolik berbasis IoT ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan teknologi dan pemberdayaan, harapan untuk hidup lebih sehat di kalangan petani semakin terbuka lebar.
Sebagai kesimpulan, inisiatif IKTA ini tidak hanya memberikan solusi teknologi tetapi juga mendorong perubahan gaya hidup. Keberhasilan program akan sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan dukungan semua pihak. Semoga model pemberdayaan seperti ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.
