Misteri Peralta: Mengapa Sang Bintang Lebih Tajam di Asia daripada di Super League?
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Nama peralta kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola Indonesia. Mariano Peralta, winger asal Argentina yang didatangkan Persib Bandung dengan reputasi mentereng sebagai pemain terbaik Super League musim lalu, ternyata belum menunjukkan performa maksimal di kompetisi domestik. Hingga pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027, pemain berusia 28 tahun itu baru mencetak satu gol dari tujuh penampilan. Padahal, di kompetisi Asia, peralta sudah membukukan dua gol dari tiga penampilan di AFC Champions League Two (ACL 2), plus tambahan gol di ASEAN Club Championship (ACC) Shopee Cup.
Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, angkat bicara soal perbedaan mencolok ini. Ia menegaskan bahwa penurunan produktivitas peralta di liga domestik bukan karena penurunan kualitas. Menurut Tolic, karakter permainan lawan di Super League menjadi faktor utama. “Peralta tetap memiliki kemampuan istimewa dan tidak mengalami perubahan dalam kualitas. Namun, pertandingan di kompetisi Asia memberikan ruang yang lebih terbuka dibandingkan liga domestik,” ujar Tolic.
Di kompetisi domestik, Persib kerap menghadapi tim yang menerapkan taktik low block atau pertahanan rendah, disertai pressing tinggi. Strategi ini membuat ruang gerak peralta menjadi sangat terbatas. Ia harus bekerja ekstra keras untuk menemukan celah di area pertahanan lawan. Sebaliknya, di ajang Asia, lawan-lawan cenderung bermain lebih terbuka sehingga peralta leluasa menunjukkan kecepatan dan ketajamannya.
Selain faktor taktik lawan, jadwal padat dan kelelahan fisik turut memengaruhi ketajaman pemain di lapangan. Tolic mengakui bahwa kondisi fisik para pemain sempat menurun, tetapi ia puas dengan perkembangan sejak kembali menjalani latihan perdana pada Sabtu (11/7/2026). “Kami terus melakukan evaluasi dan pemulihan. Kondisi fisik pemain berangsur membaik,” tambahnya.
Gol perdana peralta di BRI Super League akhirnya tercipta saat Persib mengalahkan Garudayaksa FC dengan skor 2-1 pada pekan ketujuh di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu (25/10/2026). Gol tersebut menjadi kabar baik bagi Maung Bandung, sekaligus membuktikan bahwa peralta masih memiliki insting mencetak gol yang tajam. Sebelumnya, ia sudah lebih dulu membuka keran gol di ACL 2 dan ACC Shopee Cup, menunjukkan bahwa kualitasnya tidak perlu diragukan.
Menariknya, nama Peralta bukan hanya milik Mariano. Di belahan dunia lain, Carlos Peralta, seorang entrepreneur dan kolektor, memesan mobil one-off GFG Style Peralta D berbahan tembaga dengan basis Maserati GranTurismo. Sementara di dunia olahraga, Nicolás Peralta, petinju muda Argentina berusia 18 tahun, baru saja meraih medali emas di Kejuaraan Dunia Boxeo Juvenil di Budva, Montenegro. Ketiganya memiliki latar belakang berbeda, tetapi nama Peralta sama-sama mencuri perhatian.
Kembali ke Mariano, Tolic optimistis bahwa peralta akan segera menemukan ritme permainannya di liga domestik. Dengan kualitas yang dimiliki, ditambah adaptasi yang semakin baik, bukan tidak mungkin ia akan kembali menjadi mesin gol Persib. Dukungan suporter dan strategi yang tepat dari tim pelatih akan menjadi kunci.
Ke depan, Persib akan menghadapi jadwal padat, termasuk laga melawan Melbourne Victory di ACL Two. Tolic berharap peralta dapat terus menunjukkan performa terbaiknya di kedua kompetisi. “Kami ingin ia konsisten, baik di Asia maupun di liga. Ini tantangan bagi kami semua,” tutupnya.
Dengan segala dinamika yang ada, performa Mariano Peralta akan terus menjadi sorotan. Jika ia mampu beradaptasi dengan karakter permainan lawan di Super League, bukan mustahil gelar pemain terbaik yang pernah diraihnya akan kembali menghiasi kariernya di Indonesia. Persib pun akan diuntungkan dengan ketajaman sang pemain.
