AC Milan di Ambang Krisis: Kekalahan Memalukan 4-2 dari Bologna Jelang Derby della Madonnina
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Tekanan kini kian menumpuk di pundak pelatih Ruben Amorim setelah ac milan menelan kekalahan pahit 4-2 dari Bologna di Stadion San Siro, Kamis dini hari Waktu Indonesia. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Rossoneri yang sebelumnya tampil tanpa cela di Serie A, sekaligus menghadirkan mimpi buruk jelang laga krusial melawan Inter Milan pada Sabtu mendatang.
Jalannya Pertandingan: Harapan yang Sirna di Babak Kedua
Laga berlangsung dalam dua babak yang amat kontras. Bologna membuka keunggulan lebih dulu melalui Samuel Mbangula pada menit kedelapan setelah kesalahan beruntun dari Pervis Estupinan dan Yunus Musah yang kehilangan bola di area berbahaya. Namun, ac milan merespons dengan cepat. Alphadjo Cisse, penemuan paling menjanjikan di awal musim ini, mencetak dua gol dalam rentang 13 menit—pada menit ke-14 dan ke-27—sehingga tuan rumah unggul 2-1 saat turun minum.
Sayangnya, keunggulan itu hanya bertahan hingga menit ke-61. Davide Bartesaghi tanpa sengaja membelokkan tendangan bebas ke gawangnya sendiri, dan hanya satu menit berselang Mbangula kembali mencetak gol. Milan benar-benar kehilangan arah. Pada menit ke-86, Mbangula melengkapi hat-trick-nya melalui serangan balik cepat, memastikan kemenangan Bologna 4-2 dan membuat sebagian pendukung tuan rumah meninggalkan stadion lebih awal.
Krisis Energi dan Masalah Taktik
Usai pertandingan, Amorim mengakui anak asuhnya kehabisan tenaga di paruh kedua. “Begitu banyak pertandingan, begitu banyak pemain absen, sedikit kelelahan mulai terasa. Kami bahkan punya peluang menyamakan kedudukan melalui Camarda, tetapi gagal memanfaatkannya,” ujarnya kepada DAZN Italia.
Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mencari alasan. Namun, ia menyoroti keterbatasan rotasi pemain yang membuat timnya sulit mempertahankan intensitas pressing sepanjang 90 menit. “Ketika kami berhenti memainkan sepak bola kami, kami menderita,” tambahnya.
Penampilan Individu yang Mengecewakan
Sejumlah pemain ac milan mendapat sorotan tajam atas performa mereka. Estupinan dinilai tampil buruk, kerap salah posisi dan kehilangan pemain yang dijaganya, terutama pada gol pertama Bologna. Sementara itu, bek muda Koni De Winter juga dianggap melakukan terlalu banyak kesalahan, termasuk memberi peluang tendangan bebas yang berujung gol kedua Bologna.
- Alphadjo Cisse – pemain terbaik Milan dengan dua gol dan pergerakan cerdas.
- Fikayo Tomori – tampil solid dan mencatat assist, tetapi harus ditarik keluar karena cedera.
- Pervis Estupinan – rentetan kesalahan posisi yang merugikan tim.
- Mike Maignan – minim perlindungan dari lini belakang yang berantakan.
Di kubu Bologna, Mbangula menjadi bintang dengan hat-trick yang mengesankan, sementara Cisse tetap menjadi satu-satunya sinar terang bagi Milan.
Derby della Madonnina: Ujian Terakhir Amorim?
Kekalahan ini membuat ac milan tertinggal tujuh poin dari pemuncak klasemen, Inter dan Lazio. Sabtu nanti, Rossoneri akan menjamu Inter di San Siro dalam Derby della Madonnina—laga yang bisa menjadi penentu masa depan Amorim. Pemilik klub, Gerry Cardinale, yang memutuskan mengganti pelatih dan seluruh struktur olahraga pada musim panas, kini menghadapi pertanyaan besar apakah keputusannya membuahkan hasil.
Sementara itu, Inter Milan sendiri baru saja meraih kemenangan dramatis 2-0 atas Venezia berkat dua gol bunuh diri di menit akhir, sehingga mereka datang ke derby dengan kepercayaan diri tinggi. Juventus juga gagal memanfaatkan situasi setelah kalah 2-0 dari Genoa, sementara Napoli menang atas Monza dan naik ke posisi keenam.
Kesimpulan
Bagi ac milan, laga melawan Bologna menjadi pengingat keras bahwa perjalanan musim ini masih jauh dari mulus. Masalah kebugaran, koordinasi pertahanan yang rapuh, serta ketidakmampuan mengelola tempo permainan menjadi pekerjaan rumah besar bagi Amorim. Derby melawan Inter pada Sabtu mendatang bukan sekadar pertarungan gengsi, melainkan peluang terakhir bagi sang pelatih untuk membuktikan bahwa ia layak memimpin proyek besar di San Siro. Jika kembali gagal, bukan tidak mungkin perubahan besar kembali menghantui klub berjuluk Rossoneri tersebut.
