Milan Hancur di San Siro: Dihajar Bologna 2-4 Jelang Derby, Spalletti di Ujung Tanduk
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Kekalahan memalukan menimpa Milan di hadapan pendukungnya sendiri. Dalam laga pekan kesembilan Serie A yang digelar di San Siro, tim tuan rumah harus menelan pil pahit setelah takluk 2-4 dari Bologna. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan Luciano Spalletti, terlebih karena laga Derby della Madonnina melawan Inter sudah menanti di depan mata.
Pertandingan berjalan dengan skenario yang mengejutkan. Milan sebenarnya sempat memberikan harapan kepada para tifosinya. Sempat tertinggal lebih dulu akibat gol cepat di sepuluh menit awal, Rossoneri bangkit melalui aksi Alphadjo Cisse yang tampil sebagai pemain terbaik malam itu. Gol pemain muda tersebut membuat Milan berbalik unggul sebelum babak pertama berakhir, dan banyak pihak menduga babak kedua akan berjalan lebih nyaman bagi tuan rumah.
Namun kenyataan berbicara sebaliknya. Bologna tampil luar biasa di paruh kedua. Mbangula menjadi mimpi buruk bagi lini pertahanan Milan dengan mencetak tiga gol, sementara satu gol tambahan melengkapi pesta kemenangan tim tamu. Pertahanan Milan yang tampak rapuh membuat Bologna leluasa membalikkan keadaan dan menutup laga dengan skor 4-2.
Palladino Membaca Kelemahan Milan
Pelatih Bologna, Raffaele Palladino, mengungkapkan bahwa kemenangan ini bukanlah kebetulan. Ia menyadari bahwa Milan datang ke laga ini dengan kondisi fisik yang terkuras setelah menjalani tiga pertandingan dalam enam hari.
“Selalu menyenangkan menang di sini, bukan hanya untuk saya, tetapi terutama untuk para pemain yang telah melakukan pertandingan hebat dalam segala aspek. Mereka menyerang dan bertahan, kami memainkan pertandingan yang penuh kualitas,” ujar Palladino usai laga.
Ia menambahkan bahwa dirinya sengaja memasukkan tenaga segar di babak kedua karena tahu Milan akan menurun. “Milan baru saja memainkan tiga laga dalam enam hari, kami tahu mereka bisa menurun di babak kedua, jadi saya memasukkan energi baru. Saya percaya pada seluruh kelompok ini,” jelasnya.
Palladino juga menjelaskan keputusannya menarik Federico Bernardeschi dan menggantinya dengan Cambiaghi. Menurutnya, tekanan Milan yang kuat di babak pertama memaksa timnya mundur, namun perubahan di sisi sayap kiri membuat Bologna lebih leluasa menguasai bola di paruh kedua.
Gonçalo Ramos Masih Jadi Masalah
Di sisi lain, masalah klasik Milan kembali mencuat. Striker anyar Gonçalo Ramos masih belum mampu menunjukkan tajinya. Pemain asal Portugal itu tampil sebagai sosok yang terisolasi dalam alur permainan Rossoneri, lebih sering terlibat duel fisik dengan bek lawan ketimbang menciptakan peluang berbahaya.
Statistik Ramos pada laga ini sungguh memprihatinkan: nol tembakan ke gawang, nol tembakan di luar, nol peluang tercipta, dan nol assist. Padahal, ia didatangkan ke Milanello dengan tugas berat untuk menyelesaikan persoalan lini depan yang sudah lama menghantui Milan. Ironisnya, bersama tim nasional Portugal, Ramos justru tampil tajam dan menikmati permainannya.
Banyak pihak menilai Ramos lebih menjadi korban dibanding pelaku. Milan dianggap belum mampu membangun pola permainan yang bisa menopang kualitas seorang penyerang seperti dirinya. Ia bukan tipe striker murni yang menunggu di kotak penalti, melainkan penyerang yang gemar bergerak, turun menjemput bola, dan mencari ruang. Namun, tanpa dukungan suplai yang memadai, seluruh kelebihan itu menjadi sia-sia.
Tekanan Menjelang Derby
Kekalahan ini jelas merusak momentum Milan yang seharusnya bisa menambah kepercayaan diri sebelum menghadapi Inter. Sebaliknya, Bologna justru merayakan malam indah mereka, sekaligus menegaskan bahwa Palladino pantas diperhitungkan setelah sebelumnya menangani Atalanta dan Fiorentina.
“Saya hanya berpikir untuk bekerja. Saya memutuskan datang ke Bologna karena mereka sangat menginginkan saya, dan saya bahagia di sini. Menang malam ini luar biasa, tetapi kami belum melakukan apa-apa. Jika kami tidak menang di laga berikutnya, seolah-olah malam ini tidak berarti apa-apa,” tegas Palladino.
Bagi Milan, pertanyaan besar kini menghantui: apakah Spalletti mampu membangkitkan semangat pasukannya sebelum derby, atau justru kekalahan ini menjadi awal dari krisis yang lebih dalam? Dengan pertahanan yang terus membuat kesalahan dan lini serang yang belum menemukan bentuk, pekerjaan rumah Spalletti semakin menumpuk.
Laga melawan Bologna ini menjadi cermin jelas bahwa Milan masih jauh dari kata siap untuk bersaing di papan atas. Kualitas individu saja tidak cukup tanpa kolektivitas dan organisasi permainan yang matang. Kekalahan di San Siro menyisakan luka yang harus segera diobati, karena derby tidak memberi ruang bagi tim yang masih mencari jati diri.
Kesimpulannya, kekalahan 2-4 dari Bologna adalah tamparan keras bagi Milan. Kemenangan Bologna yang dipimpin Mbangula menunjukkan bahwa tim tamu lebih matang dalam membaca situasi pertandingan. Sementara itu, Milan harus segera berbenah, mengingat derby melawan Inter akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Spalletti dan anak-anak asuhnya.
