Krisis Juventus FC: Serangan Tumpul, Spalletti di Ujung Tanduk
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Krisis yang melanda juventus fc semakin dalam setelah kekalahan 2-0 dari Genoa pada giornata kesembilan Serie A. Kekalahan di Stadio Luigi Ferraris itu menjadi pukulan kedua dalam tiga laga terakhir, sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang kualitas lini depan tim asuhan Luciano Spalletti. Dengan hanya 14 poin, Juventus FC tertahan di peringkat kedelapan dan sudah tertinggal 11 poin dari Inter Milan yang memuncaki klasemen.
Statistik yang beredar pascapertandingan sungguh mengkhawatirkan. Juventus FC mencatat expected goals (xG) total hanya 0,93 per laga, menempati peringkat ke-16 di Serie A. Lebih memprihatinkan lagi, xG dari permainan terbuka hanya 0,64, yang menempatkan Bianconeri di posisi ke-18 dari 20 tim. Sepanjang sembilan pertandingan, Juventus FC baru mencetak 11 gol, jumlah terburuk kedua di antara sepuluh tim teratas setelah Cagliari yang mengoleksi delapan gol.
Menariknya, satu-satunya indikator yang cukup baik justru datang dari tembakan luar kotak penalti. Dengan rata-rata 4,75 tembakan per laga, Juventus FC berada di peringkat keempat liga. Namun, angka tembakan dari dalam kotak penalti hanya 5,84 per pertandingan, sebuah tanda jelas bahwa skuad Bianconeri kesulitan menembus pertahanan lawan dan menciptakan peluang berbahaya di area krusial.
Genoa Dominan, Reaksi Juve Steril
Di laga melawan Genoa, anak asuh Daniele De Rossi tampil mendominasi pada babak pertama. Grifone membuka keunggulan lewat Ehizibue sebelum menggandakannya melalui Baldanzi. Pada babak kedua, Juventus FC berusaha bangkit, tetapi hanya mampu mengancam melalui tembakan Koopmeiners yang membentur mistar gawang di menit-menit akhir. Kekalahan ini memunculkan spekulasi mengenai masa depan Spalletti di kursi pelatih Juventus FC.
Weston McKennie menolak menyalahkan taktik sebagai penyebab kekalahan. Menurut gelandang asal Amerika Serikat itu, masalahnya terletak pada determinasi dan pengorbanan para pemain di lapangan. Ia menegaskan bahwa dengan 11 pemain di lapangan, pertarungan sesungguhnya terjadi di atas rumput, bukan di papan taktik. McKennie menyerukan agar rekan-rekannya berlari lebih banyak, bertarung, dan berkorban demi satu sama lain, mengingat Juventus FC adalah klub dengan sejarah besar yang tidak boleh mengalami naik-turun performa seperti saat ini.
Spalletti Dihantui Krisis Cedera
Spalletti sendiri menghadapi situasi sulit dengan krisis cedera yang membatasi pilihannya, terutama di lini depan dan gelandang tengah. Ia kerap terpaksa mengubah sistem permainan dalam beberapa laga terakhir. Kondisi ini diperparah oleh absennya sosok penyerang tajam yang mampu menjadi ujung tombak andalan.
Mantan striker Marco Borriello turut menyoroti persoalan lini depan Juventus FC. Ia membandingkan Bianconeri dengan rival-rivalnya yang memiliki bomber kelas dunia, seperti Lautaro Martinez di Inter dan Goncalo Ramos di Milan. Menurut Borriello, Juventus FC seharusnya memiliki salah satu dari delapan penyerang tengah terbaik dunia. Ia bahkan menyebut nama Victor Osimhen sebagai sosok yang cocok karena mengenal Serie A dan pernah bekerja sama dengan Spalletti, seraya menegaskan bahwa Juventus FC membutuhkan bomber top untuk kembali bersaing di papan atas.
| Statistik Serie A (9 Laga) | Angka Juventus FC | Peringkat |
|---|---|---|
| Total Expected Goals (xG) | 0,93 per laga | ke-16 |
| xG dari Permainan Terbuka | 0,64 per laga | ke-18 |
| Tembakan dari Dalam Kotak | 5,84 per laga | Rendah |
| Tembakan dari Luar Kotak | 4,75 per laga | ke-4 |
| Total Gol | 11 gol | Terburuk kedua di top 10 |
Ujian berat berikutnya sudah menanti. Juventus FC akan menjamu Napoli di Allianz Stadium, Turin, pada Minggu mendatang. Napoli sendiri baru saja menghantam Monza 4-1 dengan gol-gol dari Hojlund, Politano, Rafa Marin, dan De Bruyne, meski pelatih Massimiliano Allegri harus menyaksikan dari tribuna akibat sanksi. Laga ini akan menjadi momen krusial bagi Spalletti untuk membuktikan bahwa timnya masih mampu bangkit, sekaligus mempertahankan posisinya.
Jika persoalan ketajaman dan konsistensi tidak segera diatasi, tekanan terhadap Juventus FC akan terus membesar. Para penggemar menuntut kebangkitan nyata, bukan sekadar janji di ruang ganti. Dengan sejarah gemilang yang dimiliki, Bianconeri dituntut segera menemukan kembali identitas permainannya sebelum jarak dengan puncak klasemen semakin melebar dan ambisi meraih gelar kian sirna.
