Juventus Tumbang 2-0 di Marassi: McKennie Bantah Masalah Taktik, Vásquez Jadi Bintang Genoa
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Kekalahan mengejutkan mewarnai laga juventus vs Genoa dalam lanjutan Serie A di Stadio Luigi Ferraris, Marassi, Rabu malam. Bianconeri harus menelan pil pahit setelah takluk 2-0 dari tim tuan rumah yang tampil disiplin dan penuh semangat. Hasil ini membuat Juventus tertahan di peringkat kedelapan klasemen dengan 14 poin, sementara Genoa naik ke posisi ke-13 dengan 10 poin.
Pertandingan juventus vs Genoa sejatinya berjalan di luar dugaan. Tim asuhan Luciano Spalletti datang dengan catatan lima laga beruntun tanpa kebobolan melawan Genoa di Serie A, namun rentetan itu runtuh hanya dalam 12 menit. Kingsley Ehizibue membuka keunggulan tuan rumah pada menit ke-12 lewat tembakan yang berbelok arah setelah mengenai Andrea Cambiaso, membuat kiper Guglielmo Vicario tak berkutik.
Gol kedua Genoa lahir pada menit ke-28. Berawal dari kesalahan mahal Pierre Kalulu yang gagal membuang bola di bawah tekanan Vitinha, Tommaso Baldanzi sigap menyambar bola rebound dan menaklukkan Vicario untuk kedua kalinya. Dua gol dalam 30 menit pertama itu menjadi pukulan telak bagi Juventus yang tampak kesulitan menemukan ritme permainan.
Meski menguasai bola hingga 63 persen dan mencatat nilai gol harapan (xG) 1,28, Juventus hanya mampu melepaskan empat tembakan tepat sasaran dari 17 percobaan. Pertahanan Genoa yang dikomandoi Johan Vásquez tampil solid sepanjang laga. Bek asal Meksiko itu bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan berkat penampilan sempurnanya di lini belakang sekaligus kontribusinya dalam terciptanya gol pembuka.
Di kubu Juventus, Weston McKennie menolak menyalahkan taktik atas kekalahan ini. Gelandang asal Amerika Serikat itu menegaskan bahwa masalah utama terletak pada determinasi dan pengorbanan para pemain di lapangan.
“Kita harus berbuat lebih banyak. Berlari, berjuang, dan berkorban lebih untuk rekan setim,” ujar McKennie kepada Sky Sport Italia usai laga. “Pada akhirnya, bicara soal taktik boleh saja, tetapi ada 11 pemain di lapangan dan pertarungan sesungguhnya terjadi di sana. Genoa tampil lebih baik dari kami hari ini.”
McKennie menambahkan bahwa perubahan formasi yang dilakukan Spalletti bukan penyebab utama kekalahan juventus vs Genoa. Menurutnya, selisih kemenangan justru lahir dari hal-hal sederhana seperti berlari lima hingga sepuluh meter lebih banyak, kemauan menyelesaikan serangan, dan kesediaan bertarung untuk rekan setim.
“Kami adalah Juventus, dan di Juventus kami tidak boleh naik-turun seperti ini. Klub ini punya sejarah dan tradisi kemenangan besar, kami harus kembali menang secara konsisten,” tegasnya.
Spalletti sendiri tengah menghadapi krisis cedera yang membatasi pilihannya, terutama di lini depan dan gelandang tengah. Ia terpaksa beberapa kali mengubah sistem dalam laga-laga terakhir. Pergantian pemain yang dilakukannya sempat membuat Juventus tampil lebih mendesak setelah jeda, dan tembakan Teun Koopmeiners bahkan membentur bagian bawah mistar gawang pada masa tambahan waktu, namun keberuntungan belum berpihak.
Berikut catatan penting dari laga juventus vs Genoa:
- Gol: Kingsley Ehizibue (12′) dan Tommaso Baldanzi (28′) untuk Genoa.
- Penguasaan bola: Genoa 37% – Juventus 63%.
- Tembakan tepat sasaran: Juventus 4 dari 17 percobaan.
- Pemain terbaik: Johan Vásquez (Genoa).
- Posisi klasemen: Juventus ke-8 (14 poin), Genoa ke-13 (10 poin).
Kekalahan ini menjadi alarm serius bagi Bianconeri yang telah kalah dua kali dalam tiga pertandingan terakhir. Konsistensi yang selama ini menjadi ciri khas Juventus tampak mulai luntur, dan tekanan terhadap Spalletti pun dipastikan meningkat menjelang laga-laga berikutnya.
Sementara itu, kemenangan ini menjadi suntikan moral besar bagi Genoa asuhan Daniele De Rossi. Disiplin taktik, semangat juang, serta ketangguhan lini belakang yang dipimpin Vásquez menjadi kunci keberhasilan mereka menumbangkan salah satu raksasa Italia. Bagi Juventus, laga juventus vs Genoa ini harus menjadi momentum refleksi. Tanpa perbaikan dalam hal determinasi dan konsistensi, ambisi kembali bersaing di papan atas Serie A akan semakin sulit diwujudkan.
