Israel Elections: Netanyahu Klaim Kemenangan, tapi Kursi Masih Jauh dari Mayoritas — Siapa Dalang di Balik Kebuntuan Ini?
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Peta politik israel elections netanyahu kembali memasuki babak krusial. Dengan lebih dari 91 persen suara telah dihitung, Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih memimpin perolehan suara, namun blok kanan-tengahnya belum mampu menembus ambang mayoritas 61 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Hasil sementara dari Komite Pemilihan Pusat menunjukkan blok Netanyahu bertengger di 53 kursi, sementara blok oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot meraih 48 kursi, dan partai-partai Arab mengantongi 19 kursi. Dinamika israel elections netanyahu ini menempatkan partai Arab sebagai penentu arah pemerintahan berikutnya.
Tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, tertinggi sejak 1999 dan jauh melampaui 70,6 persen pada pemilu 2022. Ini merupakan pemilihan umum pertama di Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sehingga isu keamanan dan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan menjadi sorotan utama. Netanyahu, yang mengejar masa jabatan ketujuh yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyatakan blok kanannya memperoleh “mayoritas yang jelas dan menentukan” dan menyerukan pembentukan pemerintahan nasional yang kuat. Namun, angka resmi sementara belum mendukung klaim tersebut.
Klaim Kecurangan dan Tudingan terhadap Partai Arab
Ketegangan meningkat setelah Partai Likud menuduh partai-partai Arab melakukan kecurangan pemilu secara luas. Dalam pernyataan yang disebarkan melalui akun resmi Netanyahu, Likud mengklaim telah menyerahkan ratusan kesaksian dan bukti kepada polisi, badan keamanan dalam negeri Shin Bet, serta Komite Pemilihan Pusat. Tudingan itu mencakup praktik suap, ancaman, kekerasan, pemalsuan dokumen, pemungutan suara ganda, penggunaan identitas ganda, hingga perangkat lunak terlarang untuk memobilisasi pemilih. Likud bahkan menyebut pemilu “dicuri oleh partai-partai Arab yang mendukung terorisme”. Hingga kini, tuduhan tersebut belum terverifikasi secara independen dan masih berstatus klaim pihak Likud.
Di sisi lain, partai-partai Arab justru menunjukkan sikap kooperatif. Joint List menyatakan kesiapan untuk melakukan “kerja sama politik guna menggulingkan pemerintahan Netanyahu”, dengan pernyataan tegas: “Tanpa kami, itu mustahil. Tetapi bersama kami, itu pasti mungkin.” Ketua Partai Demokrat Yair Golan menegaskan bahwa aritmatika politik telah berubah. “Netanyahu kalah. Saya tahu cara menghitung sampai 120. Enam puluh lima lebih besar dari 55. Begitulah cara kerja demokrasi Israel. Titik,” ujarnya. Golan mendesak blok oposisi Eisenkot untuk bersatu dengan partai Arab demi mencapai ambang mayoritas.
Penghitungan Suara Amplop Ganda dan Proses Koalisi
Komite Pemilihan Pusat tengah menghitung surat suara “amplop ganda”, yang sebagian besar berasal dari tentara IDF, tahanan, tenaga medis, pemilih dengan kondisi medis tertentu, serta perwakilan Israel di luar negeri. Hasil reguler telah diproses dari 11.712 dari 12.018 tempat pemungutan suara, mencakup 5.126.759 pemilih, sementara sisanya masih menjalani prosedur verifikasi standar. Perolehan suara antarpartai Arab pun bergeser tipis: Ra’am bertambah menjadi delapan kursi dan Joint List turun menjadi 11 kursi, tetapi total gabungan keduanya tetap 19 kursi.
| Blok Politik | Proyeksi Kursi |
|---|---|
| Blok Netanyahu (Likud dan sekutu) | 53 |
| Blok Oposisi Gadi Eisenkot | 48 |
| Partai Arab (Joint List dan Ra’am) | 19 |
| Ambang mayoritas | 61 |
Jika tidak ada kandidat yang mampu membentuk pemerintahan, Israel berpotensi menuju pemilu ulang. Netanyahu akan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara selama negosiasi berlangsung. Presiden Isaac Herzog dijadwalkan berkonsultasi dengan para pemimpin partai untuk menilai siapa yang memiliki peluang terkuat membentuk koalisi, dengan tenggat hingga 42 hari. Hasil akhir diperkirakan rampung pada 30 Oktober dan resmi diumumkan pada 4 November. Dalam konteks israel elections netanyahu, posisi hukum Netanyahu turut menjadi perhatian karena undang-undang Israel memberikan kekebalan tertentu bagi perdana menteri yang menjabat.
Faktor Eksternal dan Proyeksi Hubungan Bilateral
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim dukungan publiknya berpengaruh besar terhadap performa Netanyahu dan menyatakan bersedia mempertimbangkan keterlibatan dalam upaya pembentukan pemerintahan persatuan. Pengamat kawasan mengingatkan bahwa dinamika politik Amerika Serikat, termasuk kemungkinan perubahan sikap Trump, dapat memengaruhi jalannya negosiasi koalisi. Eisenkot, yang berdarah Maroko, berpotensi menjadi perdana menteri pertama keturunan Arab di Israel, meski ia tetap menegaskan komitmen pada negara Zionis, menolak solusi dua negara, dan mendukung wajib militer bagi warga Arab. Analis memperkirakan hubungan India-Israel tidak akan terganggu signifikan oleh pergantian pemerintahan, meski Narendra Modi memiliki kedekatan personal dengan Netanyahu.
Dengan hitungan kursi yang belum mencapai mayoritas, israel elections netanyahu kini berada di titik krusial yang menentukan arah kepemimpinan Israel. Partai-partai Arab memegang kunci keseimbangan, sementara Likud berupaya mempertahankan narasi kemenangan melalui klaim kecurangan yang belum terbukti. Jika koalisi tidak terbentuk, skenario pemilu ulang membayangi, memperpanjang ketidakpastian politik di tengah tensi keamanan regional yang memanas. Apa pun hasil akhirnya, israel elections netanyahu akan menjadi babak penting yang menguji ketahanan demokrasi Israel dan stabilitas Timur Tengah secara lebih luas.
