IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098: Bank Jumbo dan Konglomerat Ikut Rontok, Seluruh Sektor Merah
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Pasar saham Indonesia kembali dilanda tekanan jual tajam. Pada penutupan perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, saham IHSG anjlok 3,49 persen atau 184,26 poin ke level 5.098,06. Koreksi ini menjadi pukulan berat bagi investor setelah indeks sempat dibuka di posisi 5.305,20 dan bergerak naik hingga 5.320 pada awal sesi. Harapan pemulihan yang sempat muncul sirna ketika gelombang jual mulai mendominasi sejak pagi, menyeret indeks turun tajam sebelum pukul 10.00 WIB.
Tekanan utama datang dari rontoknya saham-saham bank jumbo yang memiliki bobot besar di indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ambles 6,35 persen ke level 4.940, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 3,77 persen ke Rp2.810, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 3,12 persen ke Rp3.720, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) jeblok 3,28 persen ke Rp3.240. Pelemahan kelompok perbankan ini mempertegas bahwa saham IHSG anjlok bukan hanya karena sentimen global, tetapi juga karena aksi jual pada emiten-emiten berkapitalisasi besar.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan volume transaksi mencapai 23,27 miliar saham dengan frekuensi 1,32 juta kali. Nilai transaksi tercatat Rp11,29 triliun dan kapitalisasi pasar berada di Rp8.987 triliun. Sebanyak 624 saham ditutup turun, hanya 98 saham naik, dan 70 saham stagnan. Angka ini memperlihatkan bahwa koreksi bersifat menyeluruh, tidak terbatas pada sektor tertentu.
Seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah. Sektor perindustrian mencatat pelemahan terdalam 4,64 persen, disusul barang baku 4,53 persen dan infrastruktur 4,24 persen. Kelompok utilities bahkan turun 5,99 persen, jasa pendidikan melemah 4,60 persen, dan basic materials terkoreksi 4,02 persen. Indeks LQ45 turun 4,48 persen ke 515, JII turun 4,04 persen ke 291, IDX30 turun 4,49 persen ke 289, dan MNC36 turun 4,43 persen ke 228.
Di luar sektor perbankan, saham-saham terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu juga berguguran. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) anjlok 6,88 persen ke Rp1.150, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merosot 6,76 persen ke Rp1.930, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) jeblok 6,74 persen ke Rp2.490. Fenomena ini menambah panjang daftar emiten yang tertekan dan memperkuat narasi bahwa saham IHSG anjlok dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal.
Keputusan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan ternyata belum cukup meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga, menunggu data inflasi terbaru, serta memantau perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan arus modal. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung bermain aman dengan melepas aset berisiko.
Meski demikian, di tengah tekanan yang luas masih terdapat saham yang menguat. DIRE Ciptadana Properti Perhotelan Padjajaran naik 28,40 persen ke Rp104, PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) menguat 24,86 persen ke Rp4.420, dan PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) melesat 24,85 persen ke Rp1.055. Sementara itu, top losers diisi PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA) yang turun 10 persen ke Rp198, PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) melemah 10 persen ke Rp144, dan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) terkoreksi 9,90 persen ke Rp91.
Di kawasan Asia, pergerakan indeks bervariasi. Nikkei Jepang naik 1 persen ke 64.594, sedangkan Shanghai Composite turun 0,82 persen ke 3.651. Hang Seng terkoreksi 0,59 persen ke 22.958 dan Kospi Korea melemah 1,24 persen ke 5.937. Variasi ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik lebih dalam dibandingkan sebagian bursa regional.
Sejumlah analis menilai bahwa saham IHSG anjlok hari ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap kombinasi sentimen global dan aksi ambil untung pada saham-saham yang sebelumnya mencatat kenaikan. Namun, pelemahan yang merata di seluruh sektor menandakan bahwa kepercayaan investor sedang diuji. Pelaku pasar akan menanti katalis baru, terutama dari data makroekonomi dan arah kebijakan suku bunga, sebelum kembali melakukan akumulasi.
Dengan posisi indeks yang berakhir di dekat level terendah hari itu, perhatian kini tertuju pada kemampuan pasar membangun momentum pemulihan. Selama ketidakpastian global belum mereda, volatilitas diperkirakan masih tinggi. Investor disarankan tetap mencermati fundamental emiten dan mengelola risiko secara disiplin. Koreksi tajam ini menjadi pengingat bahwa saham IHSG anjlok dapat terjadi kapan saja, dan strategi investasi yang matang menjadi kunci menghadapi gejolak pasar.
