Netanyahu Klaim Kemenangan, Tuding Partai Arab 'Curi' Suara Israel Election Polls 2026
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Hasil israel election polls 2026 menunjukkan bahwa Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu masih menjadi kekuatan terbesar, namun tuduhan kecurangan mewarnai proses penghitungan suara. Netanyahu menuding partai-partai Arab telah ‘mencuri’ pemilu dengan bantuan asing, sementara oposisi menuduhnya berupaya mendelegitimasi hasil israel election polls yang menunjukkan kemajuan signifikan bagi blok Arab.
Dengan 90 persen suara terhitung, Likud diproyeksikan meraih 51 kursi, sementara blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot memperoleh 48 kursi. Partai-partai Arab yang terdiri dari The Joint List dan Ra’am berhasil mengamankan 19 kursi, menjadikan mereka sebagai penentu arah koalisi. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 77 persen, tertinggi sejak 1999, mencerminkan antusiasme politik yang tinggi di tengah masyarakat.
Netanyahu, dalam pidatonya di markas Likud di Yerusalem, menyatakan bahwa partainya tetap menjadi kekuatan politik terbesar dan mengklaim blok kanan memiliki cukup dukungan untuk memerintah. Ia menolak mengandalkan partai Arab, yang disebutnya ‘menentang keberadaan kami’, dan menyerukan pembentukan ‘pemerintah kanan nasional’. Netanyahu juga menyebut adanya peluang historis bersama Presiden AS Donald Trump untuk ‘menghilangkan ancaman Iran untuk selamanya’.
Namun, tuduhan Netanyahu memicu kemarahan. Ketua Partai Likud melontarkan pernyataan inflamatif: ‘Pemilu di Israel telah dicuri!’ Mereka menuduh adanya intervensi asing yang bertujuan ‘memfasilitasi pengambilalihan Knesset oleh asing, Islamisasi Israel, dan penggulingan pemerintah sayap kanan’. Tuduhan ini muncul setelah Ketua Komite Pemilihan Umum, Hakim Agung Noam Sohlberg, melaporkan ‘kecurigaan serius’ adanya campur tangan asing kepada Shin Bet, meski ia sendiri tidak dapat memverifikasinya.
Qatar dengan cepat membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Dr Majed bin Mohammed Al-Ansari, menyebut tuduhan itu ‘tidak masuk akal dan berbahaya’ serta menuduh politisi Israel melakukan kampanye disinformasi. ‘Kami menolak tuduhan yang dilontarkan oleh politisi Israel tertentu dan kontak media mereka, yang meluncurkan kampanye disinformasi untuk menyeret Qatar ke dalam perselisihan politik Israel,’ ujarnya. Qatar menegaskan tidak pernah mencampuri pemilu Israel atau mendanai kegiatan untuk memengaruhi hasil.
Oposisi utama, Gadi Eisenkot, mengecam keras langkah Netanyahu. Ia menyatakan bahwa hasil israel election polls mencerminkan ‘kurangnya kepercayaan’ terhadap Netanyahu dan menegaskan bahwa pemilih telah memilih perubahan. ‘Mereka melakukan ini karena mereka kalah,’ kata Eisenkot, seraya menambahkan sindiran pedas: ‘Saya menyambut baik fakta bahwa Netanyahu akhirnya mengutuk keterlibatan Qatar di Negara Israel.’
Di sisi lain, upaya pembentukan pemerintahan baru terus berjalan. Yair Golan, ketua Partai The Democrats, bertemu dengan ketua Ra’am Mansour Abbas. Golan adalah satu-satunya anggota blok anti-Netanyahu yang secara terbuka mendukung koalisi dengan partai Arab. Sementara itu, Eisenkot bertemu dengan Naftali Bennett untuk membahas pembentukan pemerintahan yang baik secepat mungkin. Namun, Abbas dilaporkan pesimistis terhadap peluang membentuk pemerintahan minoritas yang dipimpin Eisenkot dengan dukungan luar dari partai Arab.
Shin Bet sendiri sedang menyelidiki dugaan upaya negara asing memengaruhi pemilu, yang dilaporkan melibatkan Qatar dan setidaknya dua negara lain. Sumber Shin Bet menyatakan bahwa hasil resmi pemilu akan diserahkan kepada Presiden Isaac Herzog sesuai jadwal, dan informasi yang diselidiki tidak akan memengaruhi hasil. Mereka juga menegaskan ‘tidak pantas menodai seluruh publik’ yang memilih secara demokratis, merujuk pada pemilih Arab Israel.
Ketegangan politik ini menunjukkan bahwa israel election polls 2026 bukan sekadar kontestasi elektoral, tetapi juga ujian bagi demokrasi Israel. Dengan tidak ada blok yang mencapai 61 kursi mayoritas, negosiasi koalisi dan penghitungan suara akhir akan sangat menentukan arah pemerintahan berikutnya. Tuduhan kecurangan dan intervensi asing telah menambah kompleksitas lanskap politik, sementara partai-partai Arab kini memegang peran kunci sebagai kingmaker. Publik menantikan apakah proses politik dapat berjalan transparan dan akuntabel, atau justru terjerumus dalam sengketa berkepanjangan yang mengancam stabilitas.
