Pete Hegseth Kembali Beraksi: Jenderal Bintang Tiga Dicopot Tanpa Alasan, Pentagon dalam Teka-teki
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth kembali mengejutkan jajaran militer dengan mencopot Letnan Jenderal Brett Sylvia dari posisi Direktur Strategi, Rencana, dan Kebijakan pada Staf Gabungan (J5) Pentagon. Pencopotan ini dilakukan tanpa penjelasan resmi apa pun, memicu gelombang spekulasi di kalangan perwira tinggi dan pengamat kebijakan pertahanan. Langkah pete hegseth tersebut menjadikannya sebagai jenderal kedua yang tersingkir dari jabatan strategis yang sama dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Sylvia, yang sebelumnya dikenal sebagai komandan Divisi Lintas Udara ke-101, kini telah pensiun dari dinas aktif. Posisi J5 yang ia tinggalkan merupakan salah satu kursi paling krusial di Pentagon, karena bertanggung jawab menerjemahkan keputusan politik dari Gedung Putih menjadi rencana militer operasional yang konkret. Hingga saat ini, belum ada nama pengganti resmi yang diumumkan, dan halaman profil Sylvia di situs Staf Gabungan telah dihapus.
Kekosongan di Tengah Ketegangan Global
Penyingkiran ini terjadi pada momen yang sangat sensitif. Ketegangan militer antara Washington dan Teheran masih membara, dan Presiden Donald Trump bahkan menyatakan bahwa konflik dengan Iran berpotensi kembali berkobar setelah pemilihan tengah masa. Dalam situasi seperti itu, kehadiran seorang direktur J5 dinilai vital sebagai jembatan antara kekuatan operasional di lapangan, kebijakan departemen pertahanan, dan Gedung Putih.
Seorang pejabat senior Staf Gabungan yang enggan disebut namanya menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, ini bukan waktu yang tepat untuk kehilangan kepemimpinan J5, karena sosok tersebut berperan sebagai penghubung kritis dalam pengambilan keputusan strategis. Kekosongan kepemimpinan di struktur ini dikhawatirkan menciptakan kerentanan dalam mekanisme koordinasi pertahanan nasional.
Pola Pencopotan yang Berulang
Pencopotan Sylvia hanyalah bagian dari pola yang lebih besar. Sejak pete hegseth memimpin Pentagon, sedikitnya 26 jenderal dan laksamana telah meninggalkan atau dipaksa keluar dari jabatannya. Nama-nama seperti Jenderal Randy George, Jenderal David Hodne, Mayor Jenderal William Green Jr, hingga Jenderal Chris Donahue turut menjadi korban perombakan yang sama.
- Jenderal Randy George dicopot saat puncak kampanye serangan militer.
- Jenderal David Hodne dan Mayor Jenderal William Green Jr turut tersingkir.
- Jenderal Chris Donahue mundur pada Juni akibat ketidaksepakatan dengan menteri pertahanan.
- Letnan Jenderal Joseph McGee, pendahulu Sylvia, dipaksa pensiun pada Oktober 2025.
Menurut sejumlah pejabat pertahanan, alasan di balik pencopotan sering kali berkaitan dengan keterlibatan masa lalu pada kebijakan yang dianggap pete hegseth sebagai “woke”, seperti program keberagaman, kedekatan dengan figur yang tidak disukai pemerintahan, atau dugaan kebocoran informasi kepada wartawan. Pentagon sendiri hampir tidak pernah memberikan penjelasan terbuka atas setiap pemecatan yang dilakukan.
Gesekan Internal dan Tekanan Politik
Laporan menyebutkan bahwa pete hegseth kehilangan kepercayaan terhadap Sylvia, dan sang jenderal sempat berselisih dengan Elbridge Colby, pejabat kebijakan sipil tertinggi di Pentagon. Gesekan semacam ini mempertegas citra menteri pertahanan sebagai sosok yang kontroversial dan agresif dalam merombak birokrasi militer.
Kontroversi tidak hanya datang dari dalam. Seorang anggota parlemen dari Partai Republik dikabarkan pernah menegur pete hegseth secara langsung, menyatakan bahwa ia akan kesulitan mendapatkan konfirmasi ulang di Senat. Legislator tersebut juga menyinggung buruknya komunikasi antara menteri pertahanan dan Kongres, terutama saat ia meminta anggaran pertahanan raksasa senilai 1,5 triliun dolar untuk mendanai operasi militer di Iran.
Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional sempat lolos tipis di DPR pada musim panas, namun dilaporkan mandek di Komite Angkatan Bersenjata Senat. Kondisi ini menambah tekanan politik terhadap pete hegseth, yang kampanye pembersihannya di Pentagon bahkan telah memicu wacana pemakzulan di kalangan sebagian politisi.
Diplomasi di Tengah Ketidakpastian
Meski ketegangan meningkat, jalur diplomasi masih tetap terbuka. Wakil Presiden JD Vance dilaporkan mengirim surat kepada pimpinan militer Iran, Mohsen Rezaei, yang menegaskan bahwa setiap kesepakatan baru harus mencakup pembahasan isu nuklir. Iran sendiri dikabarkan akan membawa proposal konsesi nuklir kepada Pemimpin Tertinggi mereka sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi, dengan syarat Amerika Serikat lebih dulu mencabut blokade pelabuhan dan membebaskan dana yang dibekukan.
Di tengah manuver diplomatik yang sensitif ini, keputusan pete hegseth mencopot perencana militer teratasnya menimbulkan pertanyaan besar. Banyak pihak menilai langkah tersebut kontraproduktif, karena justru melemahkan kesiapan strategis Amerika Serikat pada saat yang paling membutuhkan stabilitas kepemimpinan militer.
Secara keseluruhan, pencopotan Letnan Jenderal Brett Sylvia mencerminkan pola kepemimpinan pete hegseth yang terus menuai kontroversi dan perpecahan di tubuh Pentagon. Ketika ancaman konflik eksternal meningkat dan tekanan politik dalam negeri menguat, ketiadaan perencana strategis utama menjadi celah berbahaya bagi koordinasi pertahanan nasional. Publik dan Kongres kini menanti apakah pemerintahan akan menjelaskan alasan di balik setiap pemecatan, atau justru membiarkan teka-teki ini terus menggantung tanpa jawaban.
