Mimpi Keliling Dunia 3,5 Tahun Berakhir Pahit, Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Mewah Telantar di Kamboja
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Sebuah perjalanan ambisius mengelilingi dunia selama 3,5 tahun yang menumpang kapal pesiar mewah berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan penumpang. Kapal Villa Vie Odyssey, yang sebelumnya menjanjikan pengalaman tinggal di atas laut sambil menjelajahi hampir 150 negara, kini terpaksa menghentikan operasinya secara mendadak dan meninggalkan sekitar 200 penumpang terlantar di Kota Sihanoukville, Kamboja. Keputusan itu diumumkan pada Selasa, 27 Oktober 2026, dan langsung memicu gelombang kekecewaan di kalangan penghuni kapal.
Kapal sepanjang hampir 200 meter tersebut sejatinya telah menempuh perjalanan lebih dari 750 hari sebelum akhirnya berhenti berlayar. Villa Vie Odyssey berangkat dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024 dan tiba di Pelabuhan Sihanoukville pada 23 Oktober 2026 dari Thailand dengan membawa 203 penumpang serta 156 awak kapal. Rencana berikutnya adalah berlayar menuju Vietnam, namun rencana itu pupus setelah perusahaan pengelola, Villa Vie Residences, menyatakan biaya operasional sudah terlalu tinggi untuk ditanggung.
Pemicu utama krisis keuangan operator adalah lonjakan harga bahan bakar global. Biaya bahan bakar bulanan per kabin yang sebelumnya rata-rata sekitar 1.800 dolar AS meroket menjadi sekitar 6.000 hingga 8.000 dolar AS di sejumlah wilayah Asia, setara lebih dari Rp 146 juta per kabin. Kenaikan drastis ini disebut terjadi sejak konflik yang dipicu Amerika Serikat di Iran pada awal tahun. Perusahaan mengaku telah berupaya menekan konsumsi bahan bakar dengan memperlambat laju kapal pesiar dan memperpanjang waktu singgah di pelabuhan, namun langkah tersebut dinilai tidak cukup menutupi beban biaya yang membengkak.
Yang paling menyesakkan, para penumpang hanya diberi waktu sekitar tujuh jam untuk mengemasi barang dan turun dari kapal. Pasangan penumpang Lanette Canen dan Johan Bodin mengungkapkan bahwa mereka diberi tahu oleh kepala eksekutif Villa Vie Residences pada pukul 6 pagi bahwa mereka harus segera pergi paling lambat pukul 2 siang di hari yang sama. “Kami tetap tidak percaya saat kenyataan itu benar-benar tiba. Hati kami hancur. Rasanya seperti impian kami telah pupus,” ujar mereka.
Sejumlah penumpang mengaku sudah lama mengetahui kesulitan keuangan yang dialami perusahaan. Meski demikian, penghentian operasional secara mendadak tetap mengejutkan. Banyak pelukan dan air mata tercurah saat para penghuni kapal pesiar saling menguatkan satu sama lain. Beberapa penumpang memilih melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat, sementara lainnya masih bertahan di Sihanoukville sambil menunggu kepastian tempat tinggal sementara.
Pihak operator menyatakan tengah berkoordinasi dengan para penumpang untuk mengatur proses turun dari kapal dan mencari hunian sementara. Perusahaan juga berupaya melakukan restrukturisasi keuangan serta mencari tambahan modal agar dapat kembali beroperasi. Namun, sejumlah penumpang merasa kecewa karena harus mengurus kebutuhan mereka sendiri setelah diminta meninggalkan kapal secara mendadak.
Menariknya, Sihanoukville yang dahulu dikenal sebagai kota pelabuhan tenang kini menjadi sorotan dunia sebagai pusat kasino dan lokasi penipuan daring yang dikelola pihak dari China. Kota ini bahkan dikenal sebagai markas judi online, meski otoritas Kamboja telah melakukan penertiban. Kondisi tersebut menambah kompleksitas situasi bagi para penumpang kapal pesiar yang telantar di sana.
Perjalanan Villa Vie Odyssey sebelumnya juga sempat tertunda karena harus menjalani perbaikan, yang menyebabkan para penumpang telantar di Belfast selama berbulan-bulan dan menelan biaya jutaan poundsterling bagi perusahaan. Kini, setelah lebih dari dua tahun berlayar, kisah kapal pesiar yang menjanjikan petualangan seumur hidup itu harus berakhir di pelabuhan Kamboja.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa industri pelayaran mewah sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global, terutama lonjakan harga energi. Bagi para penumpang, pengalaman ini bukan sekadar kehilangan uang, melainkan runtuhnya mimpi yang telah direncanakan bertahun-tahun. Sementara bagi operator, tantangan restrukturisasi keuangan menjadi ujian berat untuk memulihkan kepercayaan publik dan memastikan bahwa janji pelayaran keliling dunia tidak lagi berakhir sebagai kisah kepahitan di tengah laut.
