Jaksa di Pusaran Kasus Besar: Dari Sidang Taufik Hidayat hingga Korupsi Rp346 Miliar
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Peran jaksa kembali menjadi sorotan dalam berbagai perkara bergengsi di dalam maupun luar negeri. Mulai dari persidangan kasus di Kabupaten Bandung, penetapan tersangka korupsi dana desa di Lombok Timur, penolakan perlawanan eks Jampidsus Febrie Adriansyah, hingga tewasnya seorang jaksa antikorupsi di Guatemala, semuanya menunjukkan betapa sentralnya posisi jaksa dalam penegakan hukum. Deretan peristiwa ini memperlihatkan bahwa jaksa tidak hanya berperan sebagai penuntut umum, tetapi juga sebagai penjaga marwah keadilan yang kerap menghadapi tekanan.
Sidang Taufik Hidayat Berlanjut, Hakim Perintahkan Jaksa Hadirkan Saksi
Di Pengadilan Negeri Bale Bandung, Baleendah, proses persidangan terdakwa Taufik Hidayat (30) terus bergulir. Agenda putusan sela telah digelar pada Senin (19/10/2026) secara tertutup. Kasi Pidana Umum Kejari Kabupaten Bandung, Nizar Febriansyah, mengungkapkan bahwa majelis hakim memutuskan persidangan tetap dilanjutkan ke tahap berikutnya.
“Hasil putusan sela Pengadilan Negeri Bale Bandung menyatakan bahwa PN Bale berwenang dalam memeriksa perkara Taufik,” ujarnya kepada awak media, Rabu (21/10/2026). Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Vici Daniel Valentino dengan dua hakim anggota, Dwi Sugianto dan Ari. Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Kabupaten Bandung hadir, begitu pula kuasa hukum Taufik, Suarman Gulo, beserta tim.
Majelis hakim memerintahkan jaksa menghadirkan saksi-saksi pada sidang pekan depan, tepatnya Senin (26/10/2026). Sebelumnya, jaksa resmi menolak nota keberatan atau eksepsi yang diajukan terdakwa. Pihak Taufik mempersoalkan kompetensi relatif atau lokasi kejadian perkara (locus delicti), dengan dalih perkara seharusnya disidangkan di wilayah hukum Kota Bandung. Namun, jaksa menilai proses persidangan sudah sesuai prosedur dan kewenangan hukum.
Kejari Lombok Timur Siap Tetapkan Tersangka Korupsi Dana Desa
Di Nusa Tenggara Barat, Kejaksaan Negeri Lombok Timur bersiap menetapkan tersangka kasus korupsi pengelolaan keuangan Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur. Plh Kasi Intelijen Kejari Lombok Timur, Mochammad Taufiq Ismail, menyatakan pihaknya menunggu hasil penghitungan akhir kerugian negara dari Inspektorat sebelum mengumumkan tersangka.
“Sudah (hasil penghitungan kerugian negara), cuma hasilnya nanti kami sampaikan berbarengan dengan press conference dalam penetapan tersangka, segera,” terang Taufiq, Rabu (21/10/2026). Penyidik telah memeriksa 43 orang saksi dan masih mengambil keterangan dari sejumlah ahli. Sebelumnya, jaksa menemukan indikasi uang hasil dugaan korupsi digunakan untuk judi online, dan telah menggeledah Kantor Desa Kotaraja pada Senin (14/9/2026) terkait pengelolaan keuangan desa tahun 2024-2025.
Jaksa Minta Hakim Tolak Perlawanan Febrie Adriansyah dan Don Ritto
Di Pengadilan Tipikor Jakarta, jaksa meminta majelis hakim menolak perlawanan eks Jampidsus Febrie Adriansyah beserta tim advokatnya. Jaksa menilai nota perlawanan tersebut telah masuk ke pokok perkara, termasuk soal fakta, kepemilikan aset, serta sah atau tidaknya tindakan penyidikan.
“Sebagian besar dalil kedua nota perlawanan merupakan bantahan atas fakta dan kesalahan terdakwa… bukan merupakan alasan perlawanan menurut Pasal 206 ayat (1) KUHAP,” ujar jaksa, Rabu (21/10/2026). Febrie didakwa bersama Advokat Don Ritto, Nurman Herin, dan Ferry Yanto Hongkiriwang terkait pemerasan Rp55 miliar serta penerimaan Rp350 miliar.
Dalam perkara terpisah, jaksa juga membantah klaim Don Ritto yang menyebut emas 74 kilogram tak terkait kasus. Jaksa menegaskan uraian perlawanan Don hanya bersifat asumsi pribadi dan telah masuk materi pokok perkara. Total dugaan tindak pidana pencucian uang dalam perkara ini mencapai Rp346.743.821.282 dan USD 440.990, atau sekitar Rp7,9 miliar.
Jaksa Antikorupsi Guatemala Tewas Ditembak
Dunia internasional dikejutkan oleh tewasnya jaksa antikorupsi Guatemala, Juan Francisco Solorzano Foppa. Ia ditembak mati oleh orang tak dikenal saat menonton pertandingan sepak bola di kompleks olahraga Campo Marte, Guatemala City, Sabtu (17/10/2026). Seorang yang duduk di dekatnya turut tertembak sebagai korban kolateral.
Polisi menangkap dua tersangka berusia 30 dan 18 tahun, sementara investigasi menduga sedikitnya empat pelaku terlibat dan menyamar menggunakan baju olahraga. Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo, menolak penggunaan kekerasan untuk kepentingan politik dan menjanjikan hukuman setimpal. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga mengecam pembunuhan tersebut dan menegaskan pentingnya jaminan keamanan bagi tokoh antikorupsi. Foppa dikenal selama 12 tahun melawan impunitas, termasuk menyelidiki skandal korupsi La Linea.
Refleksi atas Marwah Penegakan Hukum
Deretan peristiwa ini menegaskan bahwa kerja jaksa menuntut ketangguhan, baik di ruang sidang maupun di tengah ancaman nyata. Di dalam negeri, jaksa berhadapan dengan upaya perlawanan hukum dari pihak terdakwa, sementara di tingkat desa mereka memburu korupsi yang merugikan masyarakat. Di sisi lain, insiden di Guatemala menjadi pengingat kelam bahwa perjuangan melawan korupsi kerap berhadiah nyawa. Perlindungan terhadap jaksa dan aparat penegak hukum lainnya menjadi prasyarat mutlak agar keadilan tetap tegak dan kepercayaan publik terhadap sistem hukum terus terjaga.
