Alexandra Eala Incar Balas Dendam atas Diana Shnaider di Perempat Final Pan Pacific Open Tokyo
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Petenis Filipina Alexandra Eala kembali menjadi sorotan setelah memastikan langkah ke perempat final Pan Pacific Open di Tokyo, dan kini bersiap menghadapi ujian berat berupa balas dendam atas Diana Shnaider dari Rusia. Pertemuan kedua dalam sepekan ini menjadi ajang pembuktian bagi Alexandra Eala yang sebelumnya tersingkir oleh Shnaider di babak 16 besar Ningbo Open, China, lewat pertandingan ketat dua set.
Alexandra Eala, yang kini menempati peringkat 19 dunia dan menjadi unggulan kedelapan, akan meladeni Shnaider, unggulan ketiga, di Ariake Coliseum. Laga ini dijadwalkan tidak sebelum pukul 16.00 waktu Filipina pada Jumat. Pemenang duel ini akan menghadapi Leylah Fernandez atau Kamilla Rakhimova di semifinal, dengan jaminan 195 poin peringkat dan hadiah uang sebesar 66.003 dolar AS.
Perjalanan Menuju Perempat Final
Langkah Alexandra Eala di Tokyo terbilang impresif. Ia membuka kampanye dengan kemenangan meyakinkan 6-1, 6-2 atas Mika Stojsavljevic. Pada babak berikutnya, petenis berusia 21 tahun itu bangkit dari ketertinggalan satu set untuk mengalahkan Talia Gibson dari Australia dengan skor 4-6, 6-2, 6-0. Dalam pertandingan yang berlangsung satu jam 53 menit itu, Eala disebut menyapu sembilan gim terakhir.
Sementara itu, Shnaider harus bekerja keras selama dua jam 31 menit untuk menyingkirkan petenis kualifikasi Aliaksandra Sasnovich, 6-3, 5-7, 6-3. Perempat final Tokyo menjadi penampilan ketiga berturut-turut Shnaider di perempat final rangkaian turnamen Asia setelah Wuhan dan Ningbo.
Bagi Eala, ini adalah penampilan perempat final pertamanya sejak meraih gelar WTA pertamanya di Washington pada Agustus. Sebelumnya, ia sempat tersingkir dini dalam lima turnamen WTA, termasuk kekalahan di babak pertama Wuhan. Petenis kidal ini mengaitkan peningkatan performanya dengan penyesuaian kecil yang berdampak besar.
“Mungkin hanya beberapa detail kecil yang bila terakumulasi membuat perbedaan besar,” ujarnya. “Dalam satu gim 30-all, saya lebih berani memukul bola, atau dalam satu deuce saya melakukan hal tertentu.”
Waspada Terhadap Kekuatan Sesama Petenis Kidal
Shnaider sendiri mengakui bahwa Alexandra Eala adalah lawan yang berbahaya. “Dia lawan yang sangat berbahaya dan tangguh. Dia tidak pernah mundur, dia melangkah masuk, dia menghantam bola,” kata petenis Rusia itu. Keduanya sama-sama kidal, dan Eala tercatat memiliki rekor 1-3 melawan petenis top-100 yang juga kidal musim ini.
Pelatih Eala, Bosch, tampak merendah sekaligus melancarkan tekanan psikologis menjelang duel. Ia menyebut Shnaider sebagai petenis peringkat 11 atau 12 dunia yang tampil gemilang dan mencapai semifinal pekan lalu. “Ini pertandingan yang sangat sulit di mana kami tidak punya apa pun untuk hilang. Kami sudah kalah pekan lalu, jadi dialah yang seharusnya menang besok,” ujarnya.
Bosch juga memberikan pesan kepada para penggemar Alexandra Eala agar tetap realistis. Ia mengingatkan bahwa pada awal tahun lalu, petenis kidal itu masih berada di luar 150 besar dunia. Meski bersyukur atas dukungan besar warga Filipina, ia menekankan bahwa hal itu tidak berarti Eala harus menang setiap pekan.
Kemenangan atas Shnaider akan membawa Alexandra Eala ke peringkat tertinggi dalam kariernya, yaitu peringkat 16 dunia, sementara Shnaider berpeluang menyamai peringkat tertinggi kariernya di posisi 11. Dengan modal kemenangan dramatis dan kepercayaan diri yang meningkat, duel ini diprediksi berlangsung sengit dan menjadi salah satu laga paling dinanti di rangkaian turnamen Asia.
Bagi publik Filipina, penampilan Alexandra Eala di Tokyo menjadi harapan besar untuk melihat sang bintang melangkah lebih jauh di panggung tenis dunia. Laga melawan Shnaider bukan sekadar soal balas dendam, melainkan juga pembuktian bahwa konsistensi Eala kian matang di level tertinggi.
Editor: Abuzar Samad
