Alphabet Inc. Kehilangan Nyaris Rp8 Kuadriliun dalam Sehari, Sinyal Bahaya bagi Raksasa Teknologi Dunia
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Alphabet Inc., induk perusahaan Google, mencatat salah satu hari terburuk dalam sejarah bursa saham dunia. Pada perdagangan Kamis (30/10/2026), saham Alphabet Inc. anjlok 12,6 persen dalam satu sesi, menghapus hampir 500 miliar dolar Amerika Serikat dari nilai pasar perusahaan. Ini merupakan kerugian harian terbesar yang pernah dialami Alphabet Inc. sepanjang sejarah berdirinya. Setelah badai itu, kapitalisasi pasar Alphabet Inc. masih tercatat sekitar 3,47 triliun dolar AS.
Penurunan dramatis ini bukan tanpa sebab. Laporan keuangan kuartal ketiga yang dirilis Rabu malam waktu Wall Street mengecewakan pasar. Pendapatan Alphabet Inc. memang naik 25 persen menjadi 127,6 miliar dolar AS, namun angka itu masih di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan sekitar 128 miliar dolar AS. Lebih mengkhawatirkan lagi, laba bersih Alphabet Inc. merosot 25 persen menjadi 26,2 miliar dolar AS, antara lain akibat kerugian 8,7 miliar dolar AS pada portofolio sahamnya. Ini menjadi kali pertama sejak akhir 2022 Alphabet Inc. gagal memenuhi ekspektasi pendapatan sekaligus laba.
Mesin Pencari yang Mulai Kehabisan Tenaga
Beban terberat datang dari bisnis inti Google Search. Pendapatan dari iklan pencarian hanya tumbuh 12 persen menjadi 63,4 miliar dolar AS, jauh melambat dibandingkan pertumbuhan 17 persen pada kuartal sebelumnya. Investor khawatir bahwa chatbot berbasis kecerdasan artifisial (AI) seperti ChatGPT dan Claude mulai menggerus kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi. Philipp Schindler, petinggi divisi komersial Google, mengakui bahwa fitur pencarian AI milik Google sendiri menampilkan lebih sedikit iklan dibandingkan hasil pencarian konvensional.
Analis Gil Luria dari D.A. Davidson menyebut momen ini sebagai titik yang paling dikhawatirkan pasar. “Ini bisa menjadi kuartal yang selama ini kami takutkan,” ujarnya. Meski jumlah pencarian melonjak tertinggi dalam lima tahun terakhir, lonjakan itu tidak otomatis berbanding lurus dengan pendapatan iklan. Hasil pencarian klasik menyediakan banyak ruang iklan yang mudah dimonetisasi, sementara jawaban AI bekerja dengan cara berbeda dan belum tergarap optimal secara komersial.
Biaya AI Membengkak, Arus Kas Berdarah
Persoalan kedua yang membuat investor panik adalah belanja modal raksasa. Sepanjang kuartal ketiga, Alphabet Inc. menggelontorkan 51,4 miliar dolar AS untuk pusat data, server, dan infrastruktur teknologi, naik dari sekitar 45 miliar dolar AS pada kuartal sebelumnya. Akibatnya, arus kas bebas perusahaan tercatat minus 9,1 miliar dolar AS, menjadikannya kuartal kedua berturut-turut dengan arus kas negatif. Untuk membiayai ekspansi ini, Alphabet Inc. menerbitkan obligasi senilai 28,7 miliar dolar AS dan saham baru senilai 12,4 miliar dolar AS.
Direktur Keuangan Anat Ashkenazi mengisyaratkan bahwa belanja investasi pada 2027 akan meningkat “secara signifikan”, meskipun angka pastinya belum diumumkan. Ekspektasi pasar bahkan menyebut angka di atas 300 miliar dolar AS. Rencana investasi untuk 2026 sendiri tetap berada di kisaran 195 hingga 205 miliar dolar AS. Analis Jochen Stanzl dari Consorsbank menilai pasar saat ini cenderung menghukum belanja besar yang tidak diimbangi arus kas memadai.
Satu Titik Terang dari Awan Komputasi
Di tengah kabar suram, Google Cloud menjadi satu-satunya segmen yang melampaui ekspektasi. Pendapatannya melonjak 103 persen menjadi 30,7 miliar dolar AS, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Brent Thill dari Jefferies menyebut Cloud sebagai satu-satunya unit yang mengalahkan perkiraan, sementara segmen lain mengecewakan.
Sejumlah analis tetap optimistis terhadap masa depan Alphabet Inc. Morningstar justru menaikkan nilai wajar saham Alphabet Inc. dari 433 menjadi 450 dolar AS, meyakini pasar meremehkan potensi monetisasi AI lintas lini bisnis. JPMorgan dan Goldman Sachs memangkas target harga masing-masing menjadi 375 dan 385 dolar AS, namun mempertahankan rekomendasi beli. Di sisi lain, CEO Sundar Pichai menyebut periode ini sebagai “kuartal yang kuat” dan menargetkan pendapatan tahunan mendekati setengah triliun dolar AS.
Guncangan ke Pasar Lebih Luas
Ambruknya saham Alphabet Inc. turut menyeret Wall Street. Indeks Nasdaq Composite terporeksi 1,38 persen menjadi 26.184,72, S&P 500 turun 0,3 persen ke 7.720,39, dan Dow Jones melemah 0,25 persen ke 52.342,56. Saham Fortinet dan ServiceNow anjlok lebih dari 20 persen, Marvell Technology turun 13,2 persen, dan Caterpillar melemah 9,3 persen. Menariknya, Microsoft yang merilis laporan pada hari yang sama hampir tidak tergoyahkan meski sahamnya turun tipis 0,2 persen.
Di pasar kripto, Bitcoin sempat tertekan di bawah 80.000 dolar AS akibat aksi jual saham teknologi, namun kembali melesat ke 81.547 dolar AS setelah data pertumbuhan ekonomi AS kuartal ketiga yang mencapai 3,4 persen melampaui perkiraan 3,2 persen, serta inflasi PCE yang sesuai ekspektasi.
Kisah kejatuhan Alphabet Inc. hari itu menjadi cermin dilema besar industri teknologi global: perlombaan AI menuntut biaya yang sangat besar, sementara mesin uang tradisional mulai melambat. Pasar kini menunggu dengan cemas bagaimana Alphabet Inc. membuktikan bahwa investasi raksasanya mampu berbuah sebelum kesabaran investor habis. Jawabannya mungkin baru akan terlihat pada laporan tahunan mendatang, namun satu hal yang pasti, era keemasan tanpa gejolak bagi raksasa pencarian itu telah resmi berakhir.
