Kaum Tengah Mulai Tinggalkan Gengsi: Kopi Kafe Berganti Saset, Gaya Hidup Turun Demi Bertahan Hidup
Inforiau – 30 Oktober 2026 | Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup kini semakin ramai diperbincangkan, dan yang paling mencolok adalah keterlibatan kaum tengah. Kelompok yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi itu mulai mengubah pola konsumsi secara terbuka, dari memilih produk yang lebih murah hingga menunda kebutuhan yang tidak mendesak. Bagi kaum tengah, perubahan ini bukan sekadar soal berhemat, melainkan upaya mengesampingkan gengsi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Kebiasaan yang bergeser terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Kopi di kafe yang dulu menjadi rutinitas pagi berganti dengan kopi saset. Makan di restoran mulai dikurangi, langganan hiburan digital dievaluasi ulang, dan rencana membeli barang baru ditunda. Pola ini bukan lagi disembunyikan, tetapi justru ramai diceritakan di media sosial sebagai bagian dari realitas yang dialami banyak keluarga.
Strategi Koping di Tengah Tekanan Ekonomi
Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen perilaku tersebut dikenal sebagai strategi koping. Istilah ini merujuk pada cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, di samping mencari tambahan penghasilan.
Megawati melihat ada dua hal menarik dari fenomena ini. Pertama, perilaku tersebut semakin banyak dilakukan kelompok kaum tengah yang selama ini dianggap relatif aman secara finansial. Kedua, perubahan gaya hidup yang dahulu cenderung dilakukan secara pribadi kini justru terbuka dibicarakan di ruang publik digital. “Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa keputusan menurunkan gaya hidup tidak selalu memiliki alasan yang sama. Ada keluarga yang melakukannya karena ingin mengelola keuangan dengan lebih baik, ada pula yang terpaksa berhemat karena kondisi keuangannya semakin terbatas. Pendapatan yang tidak banyak bertambah, harga kebutuhan sehari-hari yang terus naik, serta kewajiban membayar cicilan membuat ruang keuangan rumah tangga semakin sempit.
“Dari luar, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Daya Beli Tertekan, Sinyal yang Perlu Diwaspadai
Tekanan yang dialami kaum tengah sejalan dengan kondisi daya beli masyarakat yang kian tertekan. Sorotan terhadap beban biaya hidup, termasuk dorongan agar pemerintah mengevaluasi kebijakan subsidi dan pajak hunian, menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar pilihan gaya hidup individual. Ketika kelompok menengah mulai menahan pengeluaran secara masif, daya beli yang melemah dapat berdampak lebih luas pada roda perekonomian.
Di sisi lain, semangat generasi muda untuk menjawab tantangan zaman juga menjadi bagian dari narasi besar ini. Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menegaskan bahwa nilai kebangsaan harus diamalkan secara konsisten, bukan berhenti sebagai seremoni. Tantangan yang dihadapi generasi saat ini berbeda, yakni ancaman terhadap kohesi sosial seperti polarisasi di ruang digital, disrupsi ekonomi, dan godaan kepentingan sempit yang berpotensi memecah persatuan.
Ketahanan diri pun menjadi kunci. Istilah generasi stroberi sering dialamatkan kepada golongan muda yang dianggap mudah rapuh menghadapi teguran atau kesulitan. Padahal, kejayaan tidak hanya bergantung pada ilmu dan kemahiran, tetapi juga kesungguhan untuk bangkit setelah kegagalan serta keberanian menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Ketahanan mental yang dibarengi kemampuan mengelola emosi secara matang menjadi bekal penting bagi kaum tengah dan generasi penerus dalam menavigasi tekanan hidup.
Antara Kesadaran dan Keterpaksaan
Fenomena downgrade lifestyle pada akhirnya menyimpan dua wajah. Di satu sisi, ia mencerminkan kesadaran baru dalam mengelola keuangan dan mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Di sisi lain, ia bisa menjadi alarm bahwa daya tahan keuangan keluarga, terutama kaum tengah, sedang menipis. Membaca sinyal ini dengan jernih menjadi penting agar kebijakan ekonomi dan perlindungan sosial tepat sasaran.
Yang jelas, perubahan pola konsumsi kaum tengah bukan sekadar tren media sosial. Ia adalah cermin nyata dari pergeseran prioritas: dari sekadar menjaga penampilan menuju bertahan hidup. Ketika gengsi kalah oleh kebutuhan, publik berharap ada ruang ekonomi yang lebih lapang agar pilihan hidup tidak lagi didikte oleh keterpaksaan, melainkan oleh kesadaran yang sehat dalam mengelola keuangan keluarga.
