Rahayu Saraswati, Sosok di Balik Layar Pasar Modal dan Sorotan Kebijakan AI
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Nama Rahayu Saraswati Djojohadikusumo kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar dan publik. Keponakan Presiden Prabowo Subianto yang juga putri Hashim Djojohadikusumo ini memang tidak pernah sepi dari pemberitaan. Belakangan, sepak terjang Rahayu Saraswati di pasar saham semakin menarik perhatian, mulai dari kepemilikannya di PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) hingga posisi barunya sebagai Wakil Komisaris Utama PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI).
Perjalanan Rahayu Saraswati di bursa saham dimulai ketika ia masuk ke saham TRIN dengan kepemilikan di bawah 5% sekaligus menjabat sebagai Komisaris Utama. Namun, setelah sekitar 10 bulan menjabat, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya dan mengurangi porsi kepemilikan sahamnya. Keputusan ini rupanya berdampak signifikan terhadap pergerakan saham TRIN. Pasca pengumuman pengunduran diri pada 7 Oktober 2026, saham TRIN yang saat itu masih berada di level 278 per saham langsung ambruk, bahkan sebelum terjadinya crash IHSG pada 16 Oktober 2026. Aksi jual yang dilakukan Rahayu Saraswati disebut-sebut turut memicu kekhawatiran investor dan menambah tekanan jual di pasar.
Meski demikian, kiprah Rahayu Saraswati di dunia pasar modal tidak berhenti di TRIN. Pada Kamis (29/10), Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) menyetujui pengangkatannya sebagai Wakil Komisaris Utama. Komisaris Utama VICI, Billy Hartono Salim, menyatakan bahwa kehadiran Sara—sapaan akrab Rahayu Saraswati—diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan, terutama melalui jaringan, pengalaman, serta pemahamannya terhadap industri gaya hidup dan kosmetik. Keputusan ini pun menjadi sinyal bahwa Rahayu Saraswati semakin serius menekuni dunia korporasi dan pasar modal.
Tidak hanya aktif di bursa saham, Rahayu Saraswati juga menunjukkan kepeduliannya terhadap isu ketenagakerjaan dan teknologi. Dalam acara Rembuk Nasional Pemuda Indonesia III di The Tribrata, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026), ia menyampaikan pandangannya tentang adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sebagai Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, ia mengingatkan para pengusaha agar bijak dalam menggunakan teknologi AI agar tidak mengorbankan tenaga kerja.
Menurut Rahayu Saraswati, generasi muda Indonesia telah menunjukkan kontribusi nyata dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong inovasi di berbagai sektor. Banyak anak muda yang telah merintis usaha, membuka lapangan pekerjaan, menjadi peneliti, akademisi, hingga profesional di bidangnya masing-masing. Namun, ia menyoroti perbedaan kondisi demografi antara Indonesia dan negara-negara maju yang mengembangkan teknologi AI. Negara-negara maju tersebut, kata dia, mengembangkan AI untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja karena memiliki lebih banyak lapangan pekerjaan daripada jumlah penduduknya.
“Kalau kita menggunakan teknologi itu di Indonesia, yang mana kita memiliki lebih banyak manusia daripada lapangan pekerjaan, tentunya akan terjadi permasalahan yang besar,” tegas Rahayu Saraswati. Oleh karena itu, ia mengimbau para pengusaha untuk menggunakan teknologi dengan bijak dan tidak serta-merta mengadopsi AI secara mentah. Menurutnya, jika AI diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi demografi Indonesia, akan terjadi surplus tenaga kerja yang berujung pada masalah sosial.
Selain itu, dalam forum Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati juga menilai bahwa ruang diskusi seperti ini sangat penting untuk menghasilkan gagasan dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Ia mengapresiasi semangat generasi muda yang membuka ruang komunikasi produktif di tengah maraknya perdebatan di media sosial. “Satu hal yang saya sangat apresiasi kepada teman-teman Rembuk Pemuda, semangat untuk bisa membuka ruang berdiskusi, ruang untuk berkomunikasi di saat di mana di media sosial dan juga ruang umum banyak terjadi perdebatan,” ujarnya.
Dengan berbagai aktivitasnya di pasar modal, dunia korporasi, dan perhatiannya terhadap isu sosial-ekonomi, Rahayu Saraswati membuktikan diri sebagai figur yang tidak hanya dikenal karena latar belakang keluarganya, tetapi juga karena kiprahnya yang nyata. Kehadirannya di VICI dan pengaruhnya di pasar saham menjadi cerminan bahwa tokoh muda dapat berperan aktif dalam perekonomian nasional. Sementara itu, pesannya tentang bijak menggunakan AI menjadi pengingat penting bagi dunia usaha agar tetap mengedepankan kesejahteraan tenaga kerja di tengah derasnya arus teknologi.
