Harga Minyak Dunia Meledak Tembus 6 Bulan, Perang Iran Memanas dan Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Harga minyak dunia kembali mencuri perhatian pasar global setelah melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (30/10/2026) dan ditutup di level tertinggi sejak akhir April. Kenaikan harga minyak dunia ini dipicu oleh kekhawatiran eskalasi perang Iran pasca pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS), ditambah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz yang kembali membangkitkan bayangan gangguan pasokan minyak global.
Kontrak Brent untuk Desember 2026 yang berakhir pada Jumat naik US$2,76 atau 2,4% menjadi US$117,64 per barel, sempat menyentuh US$118 per barel. Sementara kontrak Januari 2027 yang lebih aktif naik US$2,63 menjadi US$113,43 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$2,12 atau 2,08% menjadi US$104,12 per barel. Sepanjang Oktober, Brent melonjak 13,6% dan WTI menguat 15,2%.
Serangan Limpet Mines di Selat Hormuz
Kekhawatiran pasokan meningkat setelah sebuah kapal tanker di Selat Hormuz diserang menggunakan bahan peledak yang dipasang pada kapal oleh perahu kecil. Informasi itu disampaikan badan keamanan maritim Inggris, UKMTO. Belum diketahui pihak yang bertanggung jawab, namun sumber maritim menyebut insiden tersebut merupakan serangan pertama yang diketahui berhasil menggunakan ranjau tempel atau limpet mines di jalur tersebut sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk. Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler menilai pelaku pasar akan terus mencermati aliran minyak dari Timur Tengah dan potensi eskalasi konflik oleh AS bersama sekutunya.
Risiko geopolitik juga meningkat setelah AS memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi mulai 23 Oktober. Kedutaan Besar AS di Riyadh menyebut keputusan itu berkaitan dengan risiko keamanan akibat serangan Houthi terhadap infrastruktur penting, termasuk kilang minyak Ras Tanura, kilang Rabigh, dan fasilitas produksi Abqaiq milik Saudi Aramco.
Ekspor Pulih, Harga Tetap Tinggi
Menariknya, harga minyak dunia tetap melambung meski ekspor minyak dari Timur Tengah mulai pulih. Data Vortexa menunjukkan ekspor minyak Timur Tengah telah melampaui 17 juta barel per hari dalam sepekan hingga 23 Oktober 2026, hanya sekitar 4 juta barel per hari di bawah level 2025. Meski pasokan meningkat, Brent justru melonjak sekitar 20% sejak awal September hingga mencapai US$115 per barel.
International Energy Agency (IEA) mencatat stok minyak dunia yang terpantau hingga akhir September menyusut 509 juta barel dibandingkan akhir Februari 2026. Stok minyak di darat bahkan menjadi yang terendah dalam satu dekade terakhir. Ada tiga faktor yang membuat harga minyak dunia tetap tinggi: meningkatnya pembelian minyak China, mahalnya ongkos pengiriman, dan kekhawatiran perang kembali memanas.
Pada Maret 2026, pemerintah China melarang ekspor produk minyak olahan untuk menjaga pasokan dalam negeri di tengah perang Iran. Akibatnya, impor minyak mentah China anjlok hampir separuh atau sekitar 6 juta barel per hari sepanjang Februari hingga Juni. Namun keadaan mulai berubah pada Juni ketika meredanya ketegangan Iran-AS membuat harga minyak turun, sementara margin kilang di sejumlah negara mencetak rekor.
Peringatan Bank Dunia dan Dampak ke Domestik
Bank Dunia memperingatkan potensi lonjakan harga bahan bakar, pangan, hingga emas yang mengancam biaya hidup. Laporan Commodity Markets Outlook memproyeksikan harga komoditas global naik 23% pada 2026 akibat konflik Timur Tengah, terganggunya pengiriman biji-bijian, dan tekanan pasokan energi. Harga energi diperkirakan melambung 32% tahun ini, mengakhiri tren penurunan tiga tahun berturut-turut, sementara harga pangan diproyeksikan naik sekitar 10% pada 2026 dan 7% pada 2027.
Bank Dunia memproyeksikan harga minyak mentah Brent rata-rata US$91 per barel pada 2026, naik dari US$69 per barel pada 2025, sebelum melandai ke US$79 pada 2027. Produksi minyak global diproyeksikan merosot 5,2% pada 2026, penurunan tahunan terbesar dalam lebih dari empat dekade terakhir di luar masa resesi global 2020. Konsumsi juga diperkirakan menyusut 2,5%, penurunan terbesar ketiga dalam sejarah setelah 1980 dan 2020.
Di dalam negeri, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Kebijakan itu ditempuh untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan. “Dunia sedang gejolaknya tinggi. Harga minyak naik. Tetapi kemudian yang dipastikan kepada masyarakat kita relatif terbatas. Kalau untuk BBM bersubsidi tidak kita naikkan pada saat ini, untuk melindungi masyarakat, menjaga daya beli dan mendorong pemberdayaan ekonomi,” ujar Suahasil dalam Rapimnas Kadin, Jumat (30/10/2026).
Suahasil mengakui gejolak global memberikan tekanan terhadap anggaran negara. Namun pemerintah memilih tidak langsung meneruskan seluruh tekanan tersebut kepada masyarakat. Konsekuensinya, pemerintah perlu mengalokasikan tambahan belanja untuk subsidi dan kompensasi energi, yang menjadi salah satu faktor pendorong penyesuaian belanja dalam APBN, termasuk untuk penanganan bencana alam.
Sementara itu, harga emas ikut tertekan di tengah kenaikan harga minyak mentah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi menjelang keputusan moneter Federal Reserve AS. Kontrak berjangka emas susut 0,37% menjadi US$4.059,60 per ons. Ekonom Prof. Emeritus Barjoyai Bardai menilai perubahan ekspektasi kebijakan Fed dan aksi ambil untung investor menjadi faktor utama, meski prospek emas masih disokong ketegangan geopolitik dan pembelian bank sentral.
Dengan stok global yang tipis, ketegangan di Selat Hormuz, dan permintaan China yang kembali menguat, harga minyak dunia diperkirakan masih rentan terhadap gejolak. Pasar akan terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, sebab setiap eskalasi baru berpotensi kembali mendorong harga minyak dunia ke level yang lebih tinggi dan memperbesar tekanan inflasi global maupun beban subsidi energi di dalam negeri.
