Inforiau – 31 Oktober 2026 | Perjalanan Deltras FC di kancah sepak bola nasional kembali menjadi sorotan setelah The Lobster menelan kekalahan tipis 0-1 dari Persipura Jayapura dalam lanjutan Liga Pegadaian Championship musim 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura. Gol tunggal Kelly Sroyer pada menit ke-59 menjadi pembeda dalam laga yang disaksikan 12.881 pendukung setia Mutiara Hitam. Kekalahan ini menjadi catatan tersendiri bagi Deltras yang tengah berupaya membangun identitas dan konsistensi permainan di tengah kompetisi yang panjang.
Pelatih Persipura Jayapura, Rahmad Darmawan, mengakui bahwa pertandingan melawan Deltras bukanlah laga yang mudah. Menurutnya, tim asuhan Widodo Cahyono Putro tersebut tampil kompetitif dan memberikan perlawanan sengit sepanjang pertandingan. “Secara keseluruhan kami mengawali permainan dengan baik, kemudian setelah 15 menit kami mulai kehilangan ritme sehingga membuat lawan bisa mengimbangi permainan kami,” ujar Darmawan selepas pertandingan. Meski demikian, tiga poin berhasil diamankan dan membuat Persipura bertahan di peringkat tiga klasemen sementara Grup 2 dengan koleksi 29 poin dari 14 pertandingan.
Dari kubu Deltras, pelatih Widodo Cahyono Putro menegaskan bahwa anak asuhnya telah tampil maksimal. Ia menilai keberuntungan lebih berpihak kepada tuan rumah pada laga tersebut. “Saya mengapresiasi semua pemain yang sudah bermain dengan bagus dan ke depan kami ingin bermain lebih baik untuk meraih hasil yang maksimal,” kata Widodo. Ia juga meminta para pemain untuk saling menguatkan dan tetap fokus menghadapi pertandingan-pertandingan selanjutnya, mengingat kompetisi masih panjang dan peluang untuk memperbaiki posisi masih terbuka lebar.
Kekalahan di Jayapura tidak lantas membuat Deltras kehilangan arah. Di sisi lain, klub berjuluk The Lobster ini justru tengah membangun fondasi kokoh untuk menatap kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Presiden Klub Deltras FC, Deddy Adrianto Wibowo, menyebut manajemen bersama tim pelatih memegang tiga pilar utama di internal tim, yakni menjaga kekompakan, disiplin latihan, dan pola makan. Klub bahkan menghadirkan psikolog tim untuk membantu menjaga stabilitas emosi pemain dan hubungan antarpemain agar fokus di lapangan tetap terjaga.
Pembinaan pemain muda menjadi salah satu prioritas utama. Langkah ini diambil bukan hanya untuk menjaga energi tim selama kompetisi panjang, tetapi juga untuk mengantisipasi risiko cedera dan kebutuhan rotasi dalam jadwal yang padat. Menurut Deddy, kompetisi yang berlangsung hingga tiga putaran serta adanya League Cup membuat pengelolaan skuad harus dilakukan dengan lebih cermat. Performa Deltras yang sempat mencatat rekor tak terkalahkan dan berada di puncak klasemen disebut sebagai hasil dari konsistensi internal tim yang dibangun secara disiplin.
Di luar urusan teknis, manajemen mengusung misi membangun kembali ikatan dengan masyarakat melalui slogan “Deltras Kembali ke Hati Sidoarjo”. Salah satu program unggulan adalah Goes to School yang menyasar pelajar SMP dan SMA untuk memperkenalkan klub sekaligus Deltras Academy. Program tersebut dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk menumbuhkan kembali generasi penonton di Stadion Gelora Delta. Klub menilai regenerasi suporter penting agar basis penonton daerah dapat dibangun sejak dini.
Perbaikan matchday experience juga terus dilakukan agar pertandingan di Stadion Gelora Delta lebih nyaman dan menarik bagi keluarga. Manajemen menghadirkan tenant kuliner serta hiburan panggung dengan melibatkan talenta lokal dan guest star. Evaluasi rutin dilakukan dari setiap laga, termasuk setelah pertandingan yang sempat menarik lebih dari 11.000 penonton. Mulai pertengahan November, klub menyiapkan ambulans sendiri sebagai fasilitas medis tambahan yang ke depannya direncanakan dapat dikerjasamakan dengan rumah sakit lokal.
Dukungan pun datang dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh Deltras FC meraih promosi ke kasta tertinggi. Menurutnya, kualitas pemain dan manajemen saat ini jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Optimisme itu menjadi obor penyemangat The Lobster untuk terus bangkit di tengah persaingan ketat, meski posisi puncak klasemen sempat direbut Barito Putera setelah menundukkan Persis Solo 2-1.
Tantangan berikutnya datang dari De Red FC yang akan bertandang ke Stadion Gelora Delta. Pelatih De Red FC, Aji Santoso, menargetkan timnya mampu membawa pulang poin. Ia menyadari mencuri poin di kandang Deltras bukan perkara mudah mengingat The Lobster menjadi salah satu kontestan yang belum terkalahkan. “Yang paling penting buat kami adalah bagaimana untuk pertandingan besok itu minimal kami bisa mendapatkan poin satu, syukur-syukur kalau tiga,” ujar Aji. Ia juga mempertimbangkan rotasi pemain karena De Red FC harus menghadapi pertandingan berikutnya dalam kompetisi I-League pada 3 November 2026.
Sementara itu, di level pembinaan usia muda, Deltras FC U-18 harus mengakui keunggulan Persebaya U-18 dengan skor 0-3 dalam matchday ketujuh Grup C Elite Pro Academy One 2026/2027 di Stadion Gelora Bung Tomo. Seluruh gol Persebaya tercipta di babak kedua melalui penalti Alfredo Nararya pada menit ke-73, lalu Juan Frits menit ke-89, dan Mario Christian di penghujung laga. Meski kalah, pertahanan rapat dan disiplin yang ditunjukkan Deltras U-18 pada babak pertama menjadi modal berharga bagi pengembangan pemain muda ke depan.
Secara keseluruhan, perjalanan Deltras FC musim ini menggambarkan dinamika klub yang tengah bertransformasi. Kekalahan dari Persipura menjadi pengingat bahwa konsistensi di lapangan masih perlu ditingkatkan, namun pembangunan fondasi melalui akademi, tata kelola yang sehat, dan kedekatan dengan masyarakat Sidoarjo menunjukkan arah jangka panjang yang jelas. Berada di antara dua klub besar Jawa Timur, Persebaya Surabaya dan Arema FC, Deltras memilih jalan sendiri untuk membangun identitas melalui kerja keras dan regenerasi suporter, bukan sekadar meniru kesuksesan klub lain secara instan.
