Harga Pertamax Terancam Naik 5-8 Persen, Rupiah Melemah dan Minyak Dunia Jadi Pemicu
Inforiau – 31 Oktober 2026 | Pengendara di Indonesia bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga pertamax pada awal November 2026. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: penguatan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kombinasi keduanya membuka peluang penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi mulai Minggu, 1 November 2026, meski keputusan resmi belum diumumkan.
Sepanjang Oktober 2026, Pertamina memang memilih menahan harga BBM nonsubsidi di tengah gejolak pasar energi internasional. Keputusan itu memberi ruang bernapas bagi konsumen, tetapi juga menumpuk tekanan yang kini mengintai. Bagi pemilik kendaraan yang mengandalkan Pertamax, Pertamax Turbo, dan produk nonsubsidi lainnya, perubahan harga pertamax akan langsung terasa pada pengeluaran rutin bulanan.
Minyak Dunia dan Rupiah Memberi Tekanan Ganda
Data pasar menunjukkan rata-rata minyak Brent mencapai US$108,34 per barel sepanjang Oktober 2026, naik dibandingkan rata-rata September yang tercatat US$107,70 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak naik ke US$96,94 per barel dari sebelumnya US$96,32 per barel. Kenaikan ini menegaskan bahwa tekanan biaya energi belum benar-benar mereda.
Persoalannya tidak berhenti pada mahalnya minyak mentah. Nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 1,4 persen sepanjang Oktober. Pelemahan ini memperberat biaya pembelian energi yang berdenominasi dolar. Ketika rupiah kehilangan tenaga, kebutuhan dolar untuk membayar impor minyak membengkak, sehingga biaya pengadaan meningkat meski volume pembelian tidak berubah.
Gejolak geopolitik turut menjaga pasar minyak dalam kondisi tidak nyaman. Klaim serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah fasilitas minyak Arab Saudi menambah kekhawatiran soal keamanan pasokan. Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan diplomasi Amerika Serikat dan Iran yang dapat memengaruhi arah harga minyak global.
Proyeksi Kenaikan Harga Pertamax November
Ekonom memperkirakan harga pertamax berpotensi naik ke kisaran Rp16.700 hingga Rp17.200 per liter, atau sekitar 5 sampai 8 persen dibandingkan harga Oktober 2026 yang sebesar Rp15.950 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo diestimasikan naik ke kisaran Rp20.300 hingga Rp21.000 per liter dari posisi Oktober di level Rp19.600 per liter.
Menurut ekonom Yusuf, pemerintah tetap perlu menjaga jarak harga dengan Pertalite agar tidak mendorong perpindahan konsumsi yang lebih besar ke BBM bersubsidi. “Skenario yang paling realistis adalah Pertamax naik ke kisaran Rp16.700 sampai Rp17.200 per liter, atau sekitar 5 sampai 8 persen,” ujarnya di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Untuk Pertamax Turbo, ruang penyesuaian dinilai lebih besar karena konsumennya tidak terlalu sensitif terhadap harga dan harga jualnya telah mendekati harga keekonomiannya.
Posisi Harga BBM Pertamina per 30 Oktober 2026
Hingga akhir Oktober, Pertamina belum menyesuaikan harga BBM nonsubsidi. Patokan harga yang berlaku sejak 2 September 2026 masih dipakai, termasuk untuk wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen seperti DKI Jakarta dan sekitarnya. Berikut daftar harganya:
| Jenis BBM | Harga per Liter |
|---|---|
| Pertamax | Rp15.950 |
| Pertamax Green 95 | Rp19.150 |
| Pertamax Turbo | Rp19.600 |
| Dexlite | Rp23.700 |
| Pertamina Dex | Rp25.200 |
| Pertalite | Rp10.000 |
| Bio Solar | Rp6.800 |
Sejumlah produk nonsubsidi sebelumnya telah mengalami kenaikan pada penyesuaian 2 September 2026. Pertamax Turbo naik dari Rp18.300, Pertamax Green 95 melonjak dari Rp16.600, Dexlite naik dari Rp19.700, dan Pertamina Dex melesat dari Rp21.150 per liter. Sementara harga pertamax dipertahankan di level Rp15.950 per liter.
Di segmen bersubsidi, harga tidak mengalami pergeseran. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Bio Solar tetap Rp6.800 per liter. Stabilitas harga dua produk ini penting karena menopang biaya transportasi harian masyarakat dan angkutan barang.
Selisih Harga yang Semakin Melebar
Selisih harga yang melebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi menjadi catatan tersendiri. Pengguna kendaraan pribadi yang beralih ke Pertamax atau Dexlite harus menyiapkan anggaran lebih besar dibanding periode sebelum kenaikan September. Pertamina menyatakan penyesuaian harga tidak dilakukan serta-merta, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat untuk menjaga daya beli.
Kebijakan harga BBM nonsubsidi memang tidak diatur langsung melalui subsidi pemerintah, tetapi tetap dikaitkan dengan harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah. Karena itu, periode tanpa perubahan harga bisa berlangsung lebih lama atau justru berbalik cepat, tergantung pergerakan pasar. Harga BBM nonsubsidi juga dapat berbeda antarwilayah karena perbedaan besaran PBBKB, sehingga masyarakat dianjurkan memeriksa harga di kanal resmi Pertamina sebelum mengisi bahan bakar.
Dengan tekanan minyak dunia yang masih tinggi dan rupiah yang belum stabil, wacana kenaikan harga pertamax pada November 2026 tampaknya sulit dihindari. Konsumen sebaiknya mulai menghitung ulang anggaran bahan bakar, sementara pemerintah dan Pertamina dituntut menyeimbangkan tekanan pasar global dengan daya beli masyarakat. Keputusan resmi yang akan datang menjadi penentu seberapa besar beban baru yang harus ditanggung pengendara di bulan mendatang.
