Inflasi Beras 2026 Sentuh Titik Terendah, Bapanas Ungkap Rahasia di Baliknya
Inforiau – 01 November 2026 | Jakarta – Inflasi beras nasional pada September 2026 tercatat sebesar 3,73 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menjadi yang paling stabil dalam empat tahun terakhir. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai stabilitas inflasi tersebut tidak terlepas dari penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog serta masifnya penyaluran bantuan pangan dan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kepada masyarakat.
Berdasarkan data historis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras secara tahunan pada September 2023 pernah mencapai 18,44 persen. Tingginya inflasi saat itu salah satunya dipengaruhi fenomena El Nino yang mulai melanda Indonesia. Selanjutnya, inflasi beras pada September 2024 tercatat sebesar 5,91 persen dan kembali melandai menjadi 4,06 persen pada September 2025. Adapun pada September 2026, inflasi beras turun menjadi 3,73 persen.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah tidak melakukan impor beras medium. Importasi masih dilakukan secara terbatas untuk jenis beras khusus yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Beras khusus yang masih memerlukan importasi antara lain beras Basmati, Hom Mali, serta beras setengah masak atau kukus. Alokasi impor jenis beras tersebut hanya sekitar 0,039 persen dari total kebutuhan konsumsi beras nasional selama setahun.
Amran juga memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan. Menurut dia, ketersediaan beras saat ini bahkan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. “Tahun lalu tidak ada impor (beras untuk CBP). Tahun ini juga tidak ada impor. Insyaallah stok kita aman. Aman untuk sampai bulan Juli untuk beras. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah saat ini,” kata Amran dalam keterangannya dikutip pada Minggu (1/11/2026).
Penguatan stok CBP dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang dinilai menopang stabilitas inflasi beras. Dengan ketersediaan cadangan yang memadai, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk melakukan intervensi pasar, termasuk melalui penyaluran bantuan pangan beras secara gratis kepada lebih dari 33 juta keluarga berpenghasilan rendah. Selain itu, pemerintah memastikan stok CBP yang tersedia saat ini sepenuhnya bersumber dari produksi petani dalam negeri. Pasalnya, tidak ada importasi beras medium untuk kebutuhan CBP sejak 2025.
Meski demikian, tantangan global masih membayangi. Di Amerika Serikat, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4 persen pada 28 Oktober 2026 karena tekanan inflasi masih sulit mereda, terutama akibat kenaikan harga energi yang dipengaruhi konflik AS-Iran. Keputusan ini membuat biaya kredit membengkak dan memberikan tekanan tambahan pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Tekanan inflasi global juga tercermin dari kenaikan inflasi AS yang menembus 3,6 persen, memperkuat peluang kenaikan Fed Rate.
Di sisi lain, harga emas di Palembang pada awal November 2026 menunjukkan pergerakan variatif. Harga emas perhiasan stabil di kisaran Rp13,6–13,8 juta per suku, sementara harga per gram turun dari Rp2,5 juta menjadi Rp2,4 juta. Pengamat ekonomi Sumsel, Soekanto Sairuki, menyebut permintaan pasar dan gejolak geopolitik memengaruhi harga emas. “Harga emas naik bila permintaan tinggi. Tapi kalaupun harga emas turun, ekonomi daerah tetap berpotensi kena dampak inflasi global,” kata dia. Fluktuasi ini juga dipengaruhi oleh pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp18 ribu per dolar AS.
Dengan capaian inflasi beras yang stabil, pemerintah optimistis ketahanan pangan nasional tetap terjaga. Namun, kewaspadaan terhadap dampak inflasi global dan fluktuasi harga komoditas masih diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.
