Inforiau – 01 November 2026 | Gejolak harga minyak dunia kembali menjadi sorotan utama pasar global pada awal November 2026. Setelah menembus level tertinggi dalam enam bulan terakhir, tekanan pada harga minyak dunia kini merambat ke berbagai sektor, mulai dari energi, pangan, hingga kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Meski demikian, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga memastikan harga BBM bersubsidi maupun nonsubsidi tidak mengalami perubahan per 1 November 2026.
Lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah harga minyak Brent untuk kontrak Desember 2026 melesat US$2,76 atau 2,4 persen menjadi US$117,64 per barel pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Brent bahkan sempat menyentuh level US$118 per barel. Adapun kontrak Januari 2027 yang lebih aktif naik US$2,63 menjadi US$113,43 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$2,12 atau 2,08 persen menjadi US$104,12 per barel. Sepanjang Oktober, Brent tercatat melonjak 13,6 persen dan WTI menguat 15,2 persen.
Pemicu utama kenaikan adalah meningkatnya kekhawatiran atas eskalasi perang Iran pasca-pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, ditambah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan sebuah kapal tanker diserang menggunakan bahan peledak yang dipasang oleh perahu kecil. Insiden itu disebut sebagai serangan pertama yang berhasil menggunakan ranjau tempel di jalur strategis pengiriman minyak mentah kawasan Teluk sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari. Risiko geopolitik kian meninggi setelah AS memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat beserta keluarganya meninggalkan Arab Saudi mulai 23 Oktober, menyusul serangan Houthi terhadap infrastruktur penting, termasuk kilang Ras Tanura, kilang Rabigh, dan fasilitas produksi Abqaiq milik Saudi Aramco.
Pertamina Pilih Tahan Harga demi Daya Beli Masyarakat
Di tengah tekanan harga minyak dunia yang menembus level US$100 per barel, Pertamina memutuskan mempertahankan harga BBM. Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertalite (RON 90) tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp6.800 per liter. Sementara itu, Pertamax (RON 92) dibanderol Rp15.950 per liter, Pertamax Green 95 Rp19.150 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) Rp19.600 per liter, Dexlite Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter.
Dalam penetapan harga, Pertamina mempertimbangkan berbagai faktor, meliputi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, pajak, serta faktor relevan lainnya termasuk tingkat daya beli masyarakat pengguna BBM. Harga BBM subsidi dipastikan tetap mengikuti kebijakan pemerintah hingga akhir 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak akan naik sampai 31 Desember 2026. Menurutnya, pemerintah harus melakukan berbagai upaya agar harga BBM subsidi tetap terjaga di tengah dinamika harga minyak dunia.
“Ini bukan pekerjaan gampang, ini pekerjaan wah berat itu. Tapi untuk rakyat, kita harus melakukan yang terbaik,” ujar Bahlil di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Bank Dunia Peringatkan Skenario Terburuk
Kabar kurang baik datang dari laporan Commodity Markets Outlook terbaru Bank Dunia. Harga komoditas global diperkirakan melonjak hingga 23 persen sepanjang 2026 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, gangguan pengiriman pangan, dan ancaman fenomena iklim El Nino. Guncangan ini diprediksi melambungkan harga energi hingga 32 persen pada 2026, sekaligus menghentikan tren penurunan harga selama tiga tahun terakhir.
Bank Dunia memproyeksikan rata-rata harga Brent menyentuh US$91 per barel pada 2026, naik tajam dari US$69 per barel pada 2025, sebelum mereda ke US$79 per barel pada 2027. Namun dalam skenario terburuk, bila konflik di Timur Tengah meluas, kerusakan fasilitas minyak Rusia berlanjut, dan serangan terhadap kapal pengangkut gandum di Laut Hitam memuncak di tengah El Nino ekstrem, harga minyak dunia jenis Brent bisa melambung hingga rata-rata US$105 per barel pada 2027.
“Pasar komoditas dihantam beberapa guncangan besar secara bersamaan. Lonjakan biaya energi dan gangguan perdagangan mendorong kenaikan harga secara luas, yang mengancam pembengkakan inflasi, kerawanan pangan, serta melambatnya pertumbuhan ekonomi,” ujar Deputi Kepala Ekonom Bank Dunia sekaligus Direktur Prospects Group, Ayhan Kose.
Pasokan global minyak bumi diproyeksikan merosot hingga 5,2 persen pada 2026, penurunan terbesar dalam empat dekade terakhir di luar masa pandemi 2020. Penurunan pasokan itu diiringi penyusutan konsumsi sebesar 2,5 persen akibat tingginya harga dan masifnya peralihan ke kendaraan listrik, khususnya di China. Karena produksi masih di bawah tingkat konsumsi, penarikan cadangan minyak secara masif terpaksa dilakukan di berbagai negara.
Dampak ke Komoditas Lain
Tekanan tidak hanya dirasakan sektor minyak. Harga batu bara ditutup melonjak 1,4 persen di posisi US$152,45 per ton pada Jumat (30/10/2026), meski sepanjang pekan ambles 1,65 persen secara point-to-point. Sementara itu, harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) ditutup melesat 1,41 persen di posisi RM4.681 per ton, tetapi anjlok 2,84 persen dalam sepekan terakhir. Pasar batu bara termal di pelabuhan utara China mulai menunjukkan tanda stabilisasi setelah pembeli kembali memburu batu bara dengan harga murah, terutama untuk kargo yang dijadwalkan dikirim pekan berikutnya.
Meski harga BBM domestik belum berubah, pelaku pasar diminta tetap mencermati aliran minyak dari Timur Tengah dan potensi eskalasi konflik oleh AS bersama sekutunya. Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler menilai risiko gangguan pasokan masih menjadi faktor dominan yang menopang harga minyak dunia saat ini.
Dengan dinamika yang ada, kebijakan menahan harga BBM menjadi bantalan penting bagi masyarakat di tengah tekanan global. Namun keberlanjutan kebijakan itu akan sangat bergantung pada arah harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan beban subsidi yang ditanggung pemerintah hingga akhir tahun.
