Park Hang-seo di Ambang Badai: Klub Thailand Bantah Isu Pemecatan, tapi Tekanan Kian Panas
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Nama park hang-seo kembali menjadi perbincangan hangat di jagat sepak bola Asia Tenggara. Kali ini bukan karena prestasinya bersama timnas Vietnam, melainkan drama yang tengah ia lakoni bersama klub Thai League 2, Kanchanaburi Power FC. Isu pemecatan yang sempat beredar liar di media sosial langsung dibantah keras oleh manajemen klub, namun tekanan terhadap pelatih asal Korea Selatan itu nyatanya tak kunjung surut.
Park Hang-seo bergabung dengan Kanchanaburi Power FC sejak awal musim 2026-2027 dengan kontrak berdurasi dua tahun. Ia dipercaya membawa klub promosi ke Thai League 1, liga kasta tertinggi Thailand. Namun setelah tujuh putaran berjalan, Kanchanaburi baru mengoleksi 10 poin dan tertahan di peringkat keenam, terpaut lima poin dari pemuncak klasemen Khon Kaen dan tiga poin dari Chainat Hornbill yang menempati posisi kedua. Dua tim teratas memang berhak promosi langsung, sementara peringkat ketiga hingga keenam harus melewati jalur play-off. Dengan 27 laga tersisa, peluang masih terbuka lebar, tetapi performa tim asuhan Park Hang-seo dinilai belum sepadan dengan ekspektasi besar yang diletakkan di pundaknya.
Alih-alih menorehkan cap taktis, park hang-seo justru lebih sering menjadi sorotan karena reaksinya terhadap keputusan wasit dan pernyataan-pernyataan kontroversial. Ketegangan memuncak pada laga melawan Muang Loei United di putaran ketujuh. Papan skor menunjukkan tambahan waktu lima menit, tetapi pertandingan berlangsung hingga menit kedelapan. Di menit 90+6, tuan rumah mencetak gol penyama kedudukan menjadi 1-1, merampas kemenangan yang sudah di depan mata Kanchanaburi. Usai peluit panjang, Park Hang-seo meluapkan amarahnya kepada perangkat pertandingan. Ia bahkan menunggu wasit di lorong stadion hingga pihak penyelenggara harus mengerahkan petugas kepolisian untuk mengawal wasit keluar dari lapangan.
“Saya belum bicara soal menang atau kalah, tapi kalau wasit bekerja seperti ini, semuanya jadi rusak. Keringat, semangat, dan waktu yang kami curahkan jadi sia-sia,” ujar Park Hang-seo dengan nada geram. “Saya berhenti saja, selesai. Tapi kalau sepak bola dikelola seperti ini, tidak akan berkembang. Kalau saya berhenti, saya akan bicara terus terang soal sepak bola Thailand. Wasit harus bekerja dengan hati nurani,” lanjutnya.
Insiden itu bukan yang pertama. Sebelumnya, setelah laga imbang 1-1 melawan Nakhon Pathom United pada putaran ketiga, Park Hang-seo sempat melontarkan sindiran pedas yang menyinggung timnas Thailand. Ia menilai wasit salah memberikan kartu kuning kedua kepada penyerang Jo dan menganggap gol Nakhon Pathom berbau offside. “Sekarang saya paham kenapa timnas Thailand terus kalah dari Vietnam, karena keputusan-keputusan seperti ini. Mungkin inilah alasan sepak bola Thailand tidak bisa maju lebih jauh,” ucapnya kala itu. Pernyataan tersebut langsung memicu polemik besar. Sehari kemudian, melalui Kanchanaburi FC, ia menyampaikan permintaan maaf resmi dan menegaskan tidak bermaksud merendahkan timnas Thailand.
Meski demikian, manajemen klub tetap teguh memberi dukungan. Presiden Kanchanaburi Power FC, Prawat Kitthammakunnit, menegaskan bahwa posisi Park Hang-seo aman. “Tidak perlu khawatir. Kami sedang membangun tim dengan rencana jangka panjang. Bahkan jika tidak promosi tahun ini, kami pasti tidak akan memecat pelatih Park Hang-seo. Saya sangat menikmati proses membangun, menanam, dan bersabar menunggu hasilnya,” tulis Prawat di akun Facebook pribadinya pada 20 Oktober 2026.
Dukungan serupa datang dari jajaran penasihat klub. Mereka menegaskan bahwa park hang-seo memiliki peran kunci tidak hanya untuk promosi, tetapi juga dalam merestrukturisasi sistem pembinaan usia muda. Kontraknya memuat beberapa target ambisius: menjadikan Kanchanaburi klub papan atas Thailand dalam lima tahun, membangun skuad yang mampu bersaing dengan Buriram United, serta menembus AFC Champions League Elite. Namun, torehan di lapangan masih jauh dari harapan. Dari delapan laga di semua kompetisi, Kanchanaburi mencatat dua kemenangan, empat hasil imbang, dan dua kekalahan, plus tersingkir dini dari Piala Liga Thailand.
Pengamat menilai masa depan park hang-seo di Thailand berada di titik kritis. Di satu sisi, manajemen memberikan keleluasaan dan kesabaran. Di sisi lain, tekanan dari suporter dan media terus menggunung, terlebih dengan rentetan kontroversi yang membuatnya dicap sebagai “tokoh antagonis” di sepak bola Thailand. Hubungannya dengan para pengurus liga dan wasit pun kian memanas. Jika hasil di lapangan tak kunjung membaik, bukan tidak mungkin kesabaran manajemen akan diuji.
Menariknya, di tengah panasnya situasi di Thailand, sahabat dekat Park Hang-seo, Choi Chang Young (52), justru menjadi mahasiswa baru program magister Manajemen Bisnis di Universitas Terbuka Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Pria yang pernah bekerja di Samsung dan Hyundai itu mengaku terinspirasi semangat belajar sepanjang hayat. Kisah Choi menjadi warna lain dari lingkaran orang-orang terdekat Park Hang-seo, yang kini tengah berjuang keras mempertahankan reputasinya di negeri Gajah Putih.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan manajemen Kanchanaburi. Klub telah menyatakan kepercayaan penuh, tetapi sepak bola selalu berbicara soal hasil. Park Hang-seo perlu segera menemukan formula terbaik untuk mengangkat performa tim sekaligus meredakan ketegangan di sekitarnya. Jika tidak, badai yang kini menerpa bisa saja berujung pada perpisahan yang tak diinginkan siapa pun. Yang jelas, setiap gerak langkah park hang-seo akan terus menjadi pantauan, bukan hanya di Thailand, tetapi juga di Vietnam dan Korea Selatan.
