Lazio Kembali ke Puncak Serie A Setelah 16 Tahun, Pinamonti Jadi Pahlawan Kemenangan Dramatis atas Cagliari
Inforiau – 02 November 2026 | Stadion Olimpico bergemuruh pada Minggu malam waktu setempat. Lazio memastikan diri kembali ke puncak klasemen Serie A untuk pertama kalinya sejak 2010, atau tepat 16 tahun dan 5.836 hari, setelah menundukkan Cagliari dengan skor 2-1 dalam laga pekan ke-10. Kemenangan ini membawa tim asuhan Gennaro Gattuso mengoleksi 28 poin, unggul tiga poin atas Inter Milan yang berada di posisi kedua dengan 25 poin.
Lazio sempat dikejutkan oleh gol pembuka tim tamu pada menit ke-20. M’Bala Nzola, penyerang asal Angola, memanfaatkan umpan Alieu Fadera dan menaklukkan kiper Christos Mandas dengan sontekan cerdik. Gol tersebut sempat membuat tuan rumah tampil di bawah tekanan dan kehilangan ritme permainan.
Namun kebangkitan lazio dimulai lewat kerja sama apik antara Tijjani Noslin dan Kenneth Taylor. Pada menit ke-36, Noslin menyodorkan bola kepada Gustav Isaksen yang kemudian melepaskan tembakan lob indah ke sudut kanan gawang Elia Caprile. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Perubahan Strategi Gattuso di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Gattuso melakukan tiga pergantian sekaligus dengan memasukkan Alfonso Pedraza, Dele-Bashiru, dan Andrea Pinamonti. Noslin digeser ke sisi kiri, sementara Taylor terus menjadi motor serangan. Lazio meningkatkan tekanan dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya, meski beberapa keputusan wasit soal potensi penalti sempat menuai perdebatan.
Gol penentu akhirnya datang pada menit ke-83. Isaksen, yang tampil impresif sepanjang laga, mengirim umpan silang tajam yang disambut Pedraza dengan gerakan akrobatik ke tiang jauh. Pinamonti muncul di posisi tepat dan menyundul bola masuk ke gawang. Olimpico pun meledak dalam euforia.
Situasi Cagliari semakin sulit setelah Adam Obert menerima kartu kuning kedua di masa injury time akibat melanggar Isaksen. Bermain dengan 10 pemain, tim tamu tak mampu menyamakan kedudukan hingga peluit panjang berbunyi.
Rangkaian Catatan Manis Lazio
Kemenangan ini menjadi yang kesembilan bagi lazio dalam sepuluh pertandingan, sebuah pencapaian yang hanya pernah diraih oleh Juventus, Milan, Napoli, Roma, dan Torino sepanjang sejarah Serie A. Tim asuhan Gattuso juga masih belum terkalahkan hingga pekan ke-10, sesuatu yang bahkan tidak mampu dilakukan era Sven-Goran Eriksson pada musim scudetto 1999-2000.
Di kancah Eropa, hanya Roma, Bayern Munich, dan Borussia Dortmund yang mampu mencatat rekor tak terkalahkan serupa musim ini. Kemenangan atas Cagliari juga menjadi comeback kedua bagi lazio musim ini, setelah sebelumnya hanya mencatat dua comeback sepanjang seluruh musim lalu.
Klasemen Serie A kini menempatkan Lazio di puncak dengan 28 poin, diikuti Inter Milan (25), AS Roma (24), Como (23), dan AC Milan (21). Sementara Cagliari tertahan di posisi ke-11 dengan 13 poin.
Tantangan Berat Menanti
Pekan depan, lazio akan menghadapi ujian sesungguhnya saat bertandang ke markas Napoli. Laga tersebut akan menjadi tolok ukur apakah konsistensi tim asuhan Gattuso mampu bertahan di level tertinggi. Sementara Cagliari akan menjamu Frosinone tanpa Adam Obert yang harus menjalani hukuman kartu merah.
Kemenangan dramatis ini bukan sekadar tiga poin bagi Lazio. Ia menjadi simbol kebangkitan klub ibu kota yang selama bertahun-tahun berada di bayang-bayang rival sekota dan raksasa Serie A lainnya. Dengan koleksi primata yang terus bertambah, Gattuso seakan menemukan formula yang tepat untuk mengembalikan kejayaan biancoceleste.
Jika mampu mempertahankan momentum ini, bukan tidak mungkin mimpi besar yang selama ini dinanti tifosi Olimpico akan kembali terwujud. Sejarah mencatat, tim yang memuncaki klasemen pada pekan ke-10 dengan rekor tak terkalahkan selalu menjadi kandidat kuat peraih scudetto. Kini, tugas Lazio adalah membuktikan bahwa posisi puncak ini bukan sekadar kebetulan, melainkan awal dari sebuah era baru.
