Atlante Gagal Penalti di Menit 95, Mimpi Liguilla Kian Sirna
Inforiau – 24 Oktober 2026 | Harapan atlante untuk tetap bersaing di jalur Liguilla Apertura 2026 nyaris pupus setelah kekalahan menyakitkan 0-1 dari Atlético San Luis di Estadio Azteca (dikenal juga sebagai Estadio Banorte), Jumat malam waktu setempat. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan Miguel Herrera, terutama karena peluang emas berupa penalti di menit ke-95 justru terbuang sia-sia.
Laga yang berlangsung di hadapan kurang dari sepuluh ribu penonton itu berjalan membosankan di babak pertama. Kedua tim saling bertukar serangan, namun tidak ada yang benar-benar mengancam. Beberapa tembakan dari luar kotak penalti, termasuk dari Eugenio Pizzuto dan Luis Calzadilla, sempat menguji kiper San Luis, Gibrán Lajud, tetapi belum membuahkan hasil. Peluang terbaik babak pertama datang dari sundulan Calzadilla di menit-menit akhir, yang masih bisa diamankan Lajud.
Memasuki babak kedua, pertandingan masih berjalan datar hingga akhirnya sebuah momen jenius mengubah segalanya. Pada menit ke-58, Benjamín Galdames melepaskan tembakan keras dengan kaki kanan dari tepi kotak penalti yang meluncur deras ke sudut kanan atas gawang Oscar Jiménez. Gol indah itu membawa Atlético San Luis unggul 1-0 dan menjadi salah satu gol terbaik di turnamen ini.
Setelah tertinggal, Miguel Herrera melakukan sejumlah perubahan untuk mengejar kesetaraan. Tekanan demi tekanan dilancarkan atlante, namun rapatnya pertahanan yang dibangun pelatih Diego Mejía membuat peluang sulit tercipta. Drama sesungguhnya baru terjadi di masa injury time, tepatnya menit ke-93, ketika wasit menunjuk titik putih setelah tinjauan VAR. Nico Carrera dijatuhkan di kotak penalti menyusul kesalahan kiper Lajud yang melepaskan bola.
Yang mengejutkan, eksekusi penalti tidak dilakukan oleh seorang penyerang. Tanggung jawab justru diambil oleh bek sayap Walter Clar. Tembakan Clar berhasil ditepis Lajud, dan bola rebound yang ia sambar hanya membentur mistar gawang. Peluang emas untuk menyelamatkan satu poin pun sirna seketika.
Kegagalan itu memicu perdebatan luas. Dalam siaran pertandingan, muncul pertanyaan mengapa tidak ada striker yang berani mengambil tanggung jawab tersebut. Pengamat Álvaro Morales bahkan menyebut bahwa para penyerang tampak enggan mengambil risiko, sehingga seorang gelandang bertahan harus maju sebagai eksekutor.
Usai laga, Miguel Herrera mengakui kelemahan timnya. “Tim ini tidak tajam, kami menyia-nyiakan peluang-peluang krusial, kami gagal mengeksekusi penalti yang seharusnya bisa memberi kami kemenangan di dua laga dan hasil imbang di laga lainnya,” ujarnya. “Kami harus lebih klinis karena lawan tidak pernah memaafkan kesalahan,” tambahnya.
Kekalahan ini merupakan kekalahan keenam bagi atlante di musim ini. Kini mereka tertahan di peringkat ke-15 dengan 14 poin, terpaut enam angka dari zona delapan besar, sementara hanya tersisa tiga pertandingan dan sembilan poin untuk diperebutkan. Secara matematis peluang masih ada, tetapi praktis atlante membutuhkan keajaiban berupa kemenangan di seluruh laga sisa plus kombinasi hasil dari tim-tim pesaing.
Di kubu seberang, kemenangan ini mengangkat Atlético San Luis ke posisi kesepuluh dengan 19 poin, hanya terpaut satu angka dari zona klasifikasi ke perempat final. Kemenangan dramatis tersebut menjaga asa tim asuhan Diego Mejía untuk tampil di fase gugur.
Dengan performa yang terus terseok-seok, tekanan terhadap Miguel Herrera semakin besar. Kembalinya sang pelatih ke pangkuan atlante yang semula diharapkan membawa perubahan justru berpotensi berakhir sebagai kegagalan pertamanya. Tiga laga tersisa akan menjadi penentu apakah mimpi Liguilla masih bisa dipertahankan atau harus dikubur bersama musim ini.
