Bank di Pusaran Dinamika Global: Dari Rekrutmen hingga Pajak Digital
Inforiau – 02 November 2026 | Industri bank kembali menjadi sorotan utama dalam sepekan terakhir. Berbagai peristiwa penting terjadi, mulai dari seleksi sumber daya manusia di India, pergerakan pasar modal global, hingga rencana kebijakan pajak digital di Indonesia yang akan melibatkan sektor perbankan. Dinamika ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga aktor kunci dalam kebijakan fiskal dan investasi.
Di India, Indian Bank telah mengumumkan hasil akhir seleksi Specialis Officer (SO) untuk tahun 2026. Pengumuman ini dirilis pada 2 November 2026 melalui situs resmi indianbank.bank.in. Sebanyak 129 kandidat dinyatakan lolos dari total 350 formasi yang tersedia untuk posisi Manager, Senior Manager, dan Assistant Manager. Proses seleksi meliputi ujian online yang digelar pada 31 Mei 2026, wawancara, serta verifikasi dokumen. Para pelamar dapat mengunduh PDF hasil seleksi dan mencari nama mereka menggunakan fitur pencarian. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen bank milik pemerintah India tersebut untuk memperkuat sumber daya manusia di sektor perbankan.
Sementara itu, di pasar keuangan global, Deutsche Bank baru-baru ini mengubah sikapnya terhadap saham teknologi Amerika Serikat. Setelah sebelumnya menurunkan peringkat, bank asal Jerman ini kini beralih menjadi bullish. Alasannya, aksi jual besar-besaran yang menghapus lebih dari US$2 triliun nilai pasar Nasdaq 100 dianggap telah menciptakan peluang beli yang menarik. Deutsche Bank menilai sebagian besar risiko terkait kecerdasan buatan (AI) sudah tercermin dalam harga. Dalam catatan risetnya, bank tersebut menyebut bahwa saham teknologi dan mega-cap telah tertinggal lebih dari 16 poin persentase dibandingkan indeks S&P 500 dalam tiga pekan terakhir. Rotasi kembali ke sektor teknologi historisnya menghasilkan kenaikan rata-rata sekitar 32% dan outperforma sekitar 30 poin persentase. Pandangan ini memberikan sinyal positif bagi investor yang ingin menambah eksposur di sektor teknologi.
Di dalam negeri, pemerintah Indonesia bersiap menerapkan pajak digital pada 9 November 2026. Kebijakan ini akan melibatkan bank pemerintah, bank swasta, serta perusahaan fintech, termasuk platform digital seperti Shopee, Lazada, dan GoTo. Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil karena rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih rendah, yakni sekitar 12%. Angka ini jauh di bawah Kamboja (18%) dan India (20%). Pemerintah akan memanfaatkan teknologi elektronik, informasi, dan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan pemungutan pajak dari berbagai transaksi. Potensi tambahan penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp1.500 triliun per tahun. Peran bank dalam sistem pemungutan pajak digital ini akan sangat sentral karena transaksi keuangan sebagian besar melewati lembaga perbankan.
Bagi masyarakat yang mencari instrumen investasi aman, deposito perbankan masih menjadi pilihan favorit. Memasuki awal November 2026, bank-bank BUMN seperti BRI, BNI, dan Bank Mandiri mempertahankan suku bunga deposito rupiah mereka. BRI menawarkan bunga 3,00% per tahun untuk tenor 1, 3, dan 6 bulan, serta 2,50% untuk tenor 12, 24, dan 36 bulan. BNI memberikan setoran awal Rp5 juta dengan pilihan tenor hingga 24 bulan. Meskipun suku bunga acuan BI Deposit Facility rate naik 25 basis poin, bank-bank tersebut belum menyesuaikan bunga deposito. Namun, ada potensi kenaikan bunga ke depan untuk menarik minat investor. Simpanan di bank dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp2 miliar per nasabah per bank, asalkan memenuhi ketentuan suku bunga penjaminan.
Di Malaysia, Alliance Bank telah menetapkan 13 finalis untuk BizSmart Challenge Accelerator Edition 2026. Kompetisi ini diikuti oleh lebih dari 500 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari berbagai sektor. Para finalis akan bersaing setelah melewati program akselerasi selama empat hari yang mencakup pembiayaan, manajemen risiko, sertifikasi halal, dan strategi pertumbuhan. CEO Alliance Bank, Kellee Kam, menyatakan bahwa finalis mencerminkan semangat inovasi dan keberlanjutan pengusaha Malaysia. Melalui program ini, bank berperan aktif mendukung pertumbuhan UMKM yang berkontribusi pada perekonomian nasional.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, terlihat bahwa industri perbankan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Baik di India, Jerman, Indonesia, maupun Malaysia, bank tidak hanya menjalankan fungsi tradisionalnya sebagai penghimpun dan penyalur dana, tetapi juga terlibat dalam transformasi digital, kebijakan fiskal, dan pengembangan ekonomi. Ke depan, peran bank akan semakin kompleks seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan layanan keuangan yang efisien dan inklusif. Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengambil keputusan keuangan yang cerdas, sementara pemerintah dan regulator terus mendorong terciptanya ekosistem perbankan yang sehat dan berdaya saing.
